.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Writing is an emotional roller coaster. There are moments of tears, of giving up, of wanting to throw away your manuscript” –Lindsay Detwiler.
.
Menulis adalah sebuah perjalanan spiritualitas. Sebab menulis tidak sekedar peristiwa mengetik huruf demi huruf ke dalam halaman kosong, bukan sekedarmemilih kata demikata dan menyusunnya menjadi kalimat. Lebih dari itu, menulis adalah sebuah perjalanan spiritual yang panjang.
Seseorang yang telah menemukan konsistensi menulis untuk jangka waktu yang panjang, akan semakin mampu menemukan kesejatian dan kedalaman hakikat kehidupan. Mereka tidak sekedar berwacana dan berbusa-busa melalui tulisan, namun mampu mengkristalkan hakikat dalam setiap untaian pesan.
Tidak berlebihan jika Lindsay Detwiler, penulis Voice of Innocence dan puluhan novel lainnya menyatakan, “Menulis adalah roller coaster emosional. Ada saat-saat menguras air mata, menyerah, dan ingin membuang naskah Anda. Kemudian, tepat ketika Anda sudah putus asa, muncul saat terbangkitkannya kesadaran.”
“Writing is an emotional roller coaster. There are moments of tears, of giving up, of wanting to throw away your manuscript. Then, just when you’ve given up hope, there are moments of sheer ecstasy” –Lindsay Detwiler.
Menulis benar-benar melatih kekuatan spiritual dan emosional Anda. Banyak penulis besar dunia yang mengkontribusikan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun demi menyelesaikan satu karya tulis. Wajar jika disebut sebagai ‘roller coaster emosional’.
Selama proses menulis dalam durasi yang panjang, akan muncul fluktuasi suasana emosi jiwa. Terkadang harus ‘berdarah-darah’, melihat naskah yang tak sesuai harapan, rasanya ingin menyerah dan membuang saja tulisan yang sudah diselesaikan berbulan-bulan.
Namun tak berapa lama muncul momen pencerahan, ekstase yang indah. Ada jalan keluar yang kadang tak terduga dan bahkan menjadi nilai estetika karya yang hampir saja kita buang ke tong sampah. Akhirnya sebuah karya berhasil diselesaikan dan diterbitkan, setelah melalui dinamikaroller coaster yang terkadang terasa sangat menegangkan.
Afirmasi Diri Penulis
“To keep my spirits up and to maintain a positive outlook as my writing career grows and changes, I regularly meditate and use affirmations” –Trisha Faye.
Sebagai sebuah perjalanan spiritualitas, terkadang penulis perlu melakukan proses afirmasi diri atas tindakan yang telah dijalaninya selama ini. Bahwa menulis adalah sebuah pilihan sadar, untuk memberikan kontribusi kebaikan secara luas melalui tulisan.
Terkadang muncul keletihan yang menghadirkan godaan, apakah masih ada gunanya tulisan ini? Apakah karya tulis ada manfaatnya? Apakah tulisanku akan berguna bagi diri dan masyarakat? Saat seorang penulis mempertanyakan hal-hal mendasar seperti ini, artinya tengah mengalami keletihan.
Penulis harus memiliki waktu untuk menjaga kesegaran spiritualitasnya, dengan aktivitas penyegaran. Di bulan Ramadan, setiap muslim menjalankan kegiatan ibadah puasa dan amal ibadah yang sangat beragam jenisnya. Maka Ramadan telah menghadirkan refreshing yang kuat bagi spiritualitas penulis.
“To keep my spirits up and to maintain a positive outlook as my writing career grows and changes, I regularly meditate and use affirmations. I try to be out in nature as often as possible, even if it’s only in my own backyard. The sunlight on my face and the birds serenading me from the trees keeps me calm and peaceful, loving life and the blessings that fill it” –Trisha Faye.
Proses afirmasi harus dilakukan dengan penguatan kesadaran diri akan tujuan-tujuan mulia menulis. Bahwa menulis adalah ibadah, bahwa menulis adalah rangkaian dari ketaatan di jalan Tuhan. Mengajak orang menuju kebaikan, dan menjauhi keburukan. Mengajak manusia mencapai derajat yang bermartabat, serta mengajak manusia menjauhi tindakan sesat serta maksiat.
Trisha Faye, penulis Recovering The Self dan puluhan buku lainnya menceritakan pengalaman spiritualitasnya. “Untuk menjaga semangat dan mempertahankan pandangan positif ketika karir menulis saya mulai tumbuh dan berkembang, secara teratur saya melakukan meditasi dan menggunakan afirmasi”, ujarnya.
“Saya mencoba untuk keluar di alam sesering mungkin, bahkan jika itu hanya di halaman belakang rumah sendiri. Sinar matahari di wajah saya dan burung-burung yang mengalunkan saya dari pepohonan, membuat saya tenang dan damai, mencintai kehidupan dan berkah yang memenuhinya,” lanjut Faye.
Kekuatan Bertahan
“More than once, I considered giving up, but mostly I just needed to take a break, reassess my priorities, focus on the good things in my life, and then welcome writing back into my life in a way that didn’t allow it to define my sense of self-worth” –Everly Frost.
Everly Frost penulis Storm Princess Saga dan puluhan novel fantasi, memiliki pengalaman tentang kerasnya perjuangan menulis. Hal yang ia lakukan saat mendapatkan kesulitan yang memaksanya untukmenyerah adalah bertahan. Ia bertahan untuk melanjutkan proses menulis hingga melahirkan karya-karya baru berikutnya.
“Lebih dari sekali, saya mempertimbangkan untuk menyerah”, ungkap Frost. “Tetapi biasanya saya hanya perlu istirahat, menilai kembali prioritas saya, serta fokus pada hal-hal baik dalam hidup saya”, lanjutnya.
Keletihan mental dan fisik karena menulis dalam waktu yang panjang, adalah wajar. Yang diperlukan adalah istirahat yang cukup, serta menjalani kehidupan dengan seimbang. Frost memfokuskan perhatiannya kepada hal-hal bermakna dalam kehidupan yang bisa ia lakukan.
Setelah mendapatkan kesegaran dari istirahat dan aktivitas hidup yang seimbang, spiritmenulis bangkit lagi. “Kemudian saya bisa menyambut menulis kembali ke dalam hidup saya dengan cara yang berbeda, untuk menjaga rasa harga diri saya,” lanjut Everly Frost.
Jadi, yang Anda perlukan saat merasakan keletihan dalam menyelesaikan tulisan adalah dengan bertahan. Bukan dengan jalan meninggalkan atau mengubah haluan. Bagaimana dengan Anda, sudah siapkah untuk bertahan?
Bahan Bacaan
Colleen M. Story, 30 Quotes to Boost a Writer’s Spirit, https://writingandwellness.com, 26 Desember 2016

Bertahan dalam kebaikan. Menulis terus hingga banyak kemanfaatan yang di rasakan. Konsisten dan afirmasi Penulis sangat penting. Terima kasih ustadz Cahyadi Takariawan