19 September 2026

Oleh: Dewindra (Alumni Kelas Emak Punya Karya)

“Memang apa yang bisa kamu dapatkan dengan menulis?”

Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti di atas. Dari kata-katanya ada kesan meremehkan dunia kepenulisan.

Mungkin ini akibat kurangnya minat mereka pada kegiatan membaca. Kalau membaca saja mereka sudah malas, apalagi mau menulis.

Akan tetapi antusiasme para penulis saat ini, baik yang sudah senior maupun junior semakin terlihat meningkat. Tentu setiap penulis memiliki satu atau bahkan beberapa motivasi sekaligus di balik alasan mereka berkecimpung dalam dunia kepenulisan, termasuk saya.

Peran pembaca tentu saja tidak bisa dikesampingkan. Semakin dinamis dunia literasi akan semakin baik pula pemahaman pembaca.

Saya menyadari, kualitas yang disajikan penulis, bukan hanya dari segi skill teknis kepenulisan. Dalam menentukan tema pun sangat berpengaruh. Sebagai penulis hendaknya memiliki referensi yang berkualitas dan valid agar hasil karyanya dapat dipertangggungjawabkan.

Setiap penulis memiliki alasan tersendiri hingga bisa sampai di titik puncak kebahagiaannya dalam menuangkan berbagai ide ke dalam tulisan.

Saya sendiri, memiliki beberapa motivasi yang sudah terpendam sejak lama. Sejak duduk di sekolah dasar saya sangat senang membaca, bahkan sempat bercita-cita menjadi penulis. Daya imajinasi yang liar membawa saya terbang ke dunia hayalan. Terkadang saya dibuat tersenyum sendiri, menangis sendiri dan marah-marah tidak jelas.

Begitu pula setelah saya mulai menekuni dunia kepenulisan. Untuk menulis novel, cerpen atau pengalaman pribadi, saya sering masuk terlalu dalam. Akibatnya mandek.

Ketika saya masih remaja, saya pernah beberapa kali menulis di beberapa pojok surat kabar dan majalah. Dari situ saya mendapatkan banyak sahabat pena yang sampai sekarang masih ada yang tetap terjaga silaturahminya. Senang rasanya memiliki penggemar. 

Akan tetapi semakin dewasa, kebiasaan menulis malah terhenti. Baru termotivasi kembali setelah usia tidak muda lagi. Tapi itu tidak menyurutkan hasrat untuk memulainya kembali.

Saya pun belajar ilmu kepenulisan di berbagai komunitas dan bergabung bersama penulis lainnya. Selain berbagi pengalaman, tentunya banyak manfaat yang bisa diambil.

Namun, kita pun harus berhati-hati memilih komunitas. Jika sudah tidak kondusif, sebaiknya mundur. Perlu dipahami bahwa tidak semua penulis harus satu frekuensi.

Beberapa motovasi yang membuat saya memberanikan diri masuk ke dunia kepenulisan adalah:

1. Salah satu sarana dakwah sebagai penerang bagi yang sedang kegelapan dan menambah keimanan.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin  Amr radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallu’ alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat!” (H.R Al-Bukhari)

2. Tulisan adalah salah satu ladang pahala yang pahalanya akan mengalir terus. 

3. Mengalirkan semua rasa yang terpendam.

4. Bisa membuat banyak orang yang terinspirasi dengan ide-ide yang dikemukakan.

5. Memotivasi siapa pun yang sedang berada di titik terendah hidupnya.

6. Menambah wawasan. Semakin banyak menulis, otomatis banyak membaca juga dan itu bisa menambah pengetahuan kita.

7. Menulis adalah sarana mempertajam akal.

8. Menulis bisa menambah saudara, baik dengan sesama penulis maupun pembaca.

9. Menulis akan mendidik penulisnya untuk selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar dengan tanda baca yang benar pula.

10. Tidak bisa dipungkiri bahwa menulis bisa menjadi salah satu jalan rezeki dari Allah.

Apa pun motivasinya, pastikan itu akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sejatinya semua yang tertuang dalam tulisan akan diminta pertanggungjawabannya di yaumil akhir.

Sejak seseorang bisa menulis dan membaca, mungkin sekitar usia tujuh tahun, maka orang tua perlu menanamkan motivasi membaca. Kemudian dibiasakan ia menuliskannya kembali sebagai rangkuman. Sederhana saja dulu.

Setelah itu pelan-pelan tapi terus menurus, berilah ia motivasi untuk mencintai kegiatan menulis tersebut. Tanamkan pula nilai-nilai agama, agar kelak ia tidak menuliskan hal-hal yang merusak agama, sesama manusia dan dirinya sendiri.

Menulis memang tidak mudah. Tidak semua yang terlintas di pikiran bisa dituliskan seenaknya. Seorang penulis harus mampu memilah-milah, apa saja yang pantas dibagikan kepada pembaca.

Jika hendak menuangkan kisah pribadi, pastikan menjaga aib diri dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pastikan pembaca mendapat hikmah dari tulisan tersebut.

Itulah prinsip-prinsip dan motivasi saya menulis. Jika ternyata saya mendapatkan banyak rezeki dari dunia kepenulisan, itu adalah bonus yang diberikan Allah Subhanahu Wa Taala. Barakallahu fiik.

Pada akhirnya, dengan menjadikan tulisan sebagai sarana mengalirkan segala rasa, pikiran dan ladang pahala, saya semakin  termotivasi untuk terus menulis.  Pun menjadi jalan kebaikan bagi sesama.

Bionarasi:

Penulis memiliki nama Dewi Indrayati adalah seorang pensiunan pegawai swasta di kota yang sangat panas, Cirebon. Sejak belajar ilmu kepenulisan ikut bergabung dengan berbagai komunitas terkait.  Selain menekuni dunia kepenulisan, juga mempelajari keterampilan pablic speaking. Harapannya dapat menjadi motivator dan inspirasi melalui sharing dan diskusi dengan para pembaca dan penulis lain.

Penulis bisa dihubungi melalui akun media sosial: IG : @dewindra2 dan Blog: https://dewiindrayati.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *