19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Writing anxiety” and “writer’s block” are informal terms for a wide variety of apprehensive and pessimistic feelings about writing. These feelings may not be pervasive in a person’s writing life”  –The Writing Center, 2021.

.

Pernahkah Anda merasa sedemikian cemas saat mulai proses menulis? Anda merasa santai dan biasa saja ketika menulis rutin untuk konten instagram. Namun ternyata Anda merasakan kecemasaan saat suatu ketika harus menulis makalah dengan tema tertentu. Sayapun pernah mengalami hal seperti ini.

Kondisi cemas saat akan menulis inilah yang disebut sebagai writing anxiety atau ‘kecemasan menulis’. Writing anxiety adalah salah satu ‘blok penulis’ (writer’s block), sebuah istilah untuk menggambarkan berbagai macam perasaan khawatir dan pesimis tentang menulis. Kondisi ini tidak bersifat permanen, atau menetap dalam diri seorang penulis.

Seseorang mungkin merasa baik-baik saja ketika menulis laporan penelitian di laboratorium biologi, namun mendadak cemas ketika diminta menulis cerita pendek. Seseorang bisa saja sangat percaya diri ketika menulis artikel dengan tema pendidikan, namun mendadak ia mengalami kecemasan saat harus menulis esai tentang nikmatnya minum kopi.

Menurut Keith Hjortshoj (2001) kecemasan menulis dan writers block bersifat situasional. Bukan  sesuatu yang terus menerus melekat pada diri seseorang. Seorang yang lancar menulis puisi, mungkin mengalami writing anxiety ketika harus menulis esai akademik. Seseorang cemas ketika harus menulis dengan tema atau jenis tulisan, atau konteks tulisan tertentu.

Keith Hjortshoj juga menyatakan, istilah writing anxiety tidak menggambarkan atribut psikologis seseorang. Sebab seseorang tidak dilahirkan sebagai penulis yang diliputi kecemasan. Mereka menjadi cemas atau saat mengalami pengalaman negatif atau pengalaman sulit dalam menulis.

Kapan Writing Anxiety Muncul?

Writing anxiety and writers’ block are situational. These terms do not describe psychological attributes” –The Writing Center, 2021.

Realitasnya, bukan hanya penulis pemula yang mengalami wrtiting anxiety. Bahkan penulis senior dan penulis yang sudah tersohorpun bisa mengalami sebagian gejala writing anxiety. Jadi, Anda tidak perlu khawatir tentang gejala ini.

Munculnya writing anxiety bisa berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Namun ada beberapa kondisi umum yang memicu kecemasan menulis. Di antaranya adalah kondisi berikut ini.

  • Menulis Tema Baru

Kita bisa lancar menulis untuk tema yang sudah sering kita dalami atau kita pelajari. Namun mungkin kita akan mengalami kecemasan saat harus menulis tema baru, yang jarang kita pelajari.

Misalnya, saya sangat lancar menulis tentang tema keluarga. Hampir tidak ada kesulitan untuk menuliskannya. Ini karena saya sangat banyak belajar dan banyak mendalami tentang tema keluarga. Ketika saya diminta menulis tentang tema perimbangan anggaran dalam kebijakan pembangunan daerah tertinggal, sepertinya saya akan mengalami writing anxiety yang parah.

Hjortshoj memberikan contoh, ketika seseorang harus menyesuaikan diri dengan bentuk tulisan baru, ia berpeluang mengalami anxiety. Saat harus menulis bahan ajar untuk sebuah bidang studi baru, terlebih saat diminta menulis dalam format yang lebih panjang dari biasanya.

  • Menulis Rumpun dan Jenis Tulisan yang Baru

Penulis spesialis nonfiksi, bisa mengalami writing anxiety saat diminta menulis kisah fiksi. Pun sebaliknya, penulis spesialis fiksi bisa mengalami kecemasan saat harus menulis nonfiksi. Ini karena mereka memasuki ‘dunia baru’ dalam tulis menulis.

Dalam dunia fiksi, seorang penulis cerpen bisa mengalami kecemasan saat pertama kali menulis novel. Dalam dunia nonfiksi, seorang akademisi yang biasa menulis jurnal ilmiah bisa mengalami anxiety saat menulis artikel populer. Memasuki dunia baru, wajar saja perlu penyesuaian diri.

  • Menghadapi Pembaca yang Terlalu Kritis

Setiap penulis memiliki segmen pembaca tersendiri. Ada tipe segmen pembaca yang terlalu kritis dan menuntut terlalu banyak hal kepada penulis. Pembaca seperti ini tak segan melontarkan kritik tajam bahkan komentar negatif terhadap penulis dan isi tulisan. Apalagi saat tulisan Anda harus dibedah di depan komunitas tersebut.

“People aren’t born anxious writers; rather, they become anxious or blocked through negative or difficult experiences with writing” –The Writing Center, 2021.

Kecemasan bisa muncul saat membayangkan hadirnya komentar pedas dan menyakitkan dari pembaca. Terutama bagi yang pernah mengalami peristiwa traumatis ‘dibantai’ oleh pembaca. Kecemasan muncul saat menulis, bahkan ketika pembaca yang mengkritik karya Anda terdahulu sudah memutuskan untuk tidak akan membaca tulisan Anda lagi.

  • Tekanan Waktu

Ada beberapa penulis yang bekerja dengan tenggat waktu terbatas. Mereka harus menulis beberapa naskah dalam waktu yang sangat sedikit, karena mengejar waktu percetakan.

Suasana dikejar waktu yang sangat mepet, bisa menghadirkan kecemasan tersendiri. Mungkin saja akan hadir dalam bentuk block yang membuat seseorang justru tidak bisa menuangkan ide ke dalam tulisan.

Bagi sebagian orang, deadline adalah kekuatan. Justru mereka bertambah setelah diberi tenggat waktu yang terbatas. Namun bagi sebagian penulis yang lain, deadline menghadirkan kecemasan yang menyebabkan tidak nyaman menulis.

Bahan Bacaan

The Writing Center, Writing Anxiety, https://writingcenter.unc.edu, diakses 27 Agustus 2021

Keith Hjortshoj, Understanding Writing Blocks, Oxford University Press, New York, 2001

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *