19 September 2026

Oleh : Cahyadi Takariawan

Haiku yang dianggap paling standar adalah karya Matsuo Basho (1644 – 1694). Basho telah menciptakan sekitar 1.000 Haiku, dengan mengikuti pola yang tertib dan baku, selalu berpola 5 – 7 – 5, tiga baris, dan selalu menggunakan kigo dan kireji. Simak kembali penjelasan saya tentang unsur baku Haiku di sini.

Menurut saya, kita orang Indonesia, sulit untuk mengikuti pola baku kigo dan apalagi kireji. Oleh karena itu, Haiku karya masyarakat Indonesia, sulit disejajarkan dengan Matsuo Basho, sang maestro. Unsur kireji sangat unik, dan terkait sangat kuat dengan sastra Jepang. Maka, kireji dianggap tidak harus ada dalam Haiku —apalagi karya masyarakat di luar Jepang.

Meski demikian, untuk bisa membuat Haiku yang standar, kita coba menghayati karya Matsuo Basho. Bukan untuk meniru dengan persis —karena banyak kendala perbedaan budaya dan sistem bahasa, namun untuk menghayati kandungan isinya. Supaya ketika kita membuat Haiku, masih ada nilai-nilai yang terekam di dalamnya.

Berikut terjemahan Haiku karya Basho. Karena terjemahan, tidak bisa mengikuti pola 5 – 7 – 5. Karya asli Basho selalu 5 – 7 – 5, namun ketika diterjemahkan kita sulit untuk menerapkan pola tersebut. Yang penting, kita mencoba menelisik isi, makna, kandungan, suasana kejiwaan, dari Haiku karya sang maestro.

Contoh Haiku Standar Karya Basho

Saya ambil satu contoh dulu karya Matsuo Basho, lengkap dengan tulisan asli Jepang, dan terjemahan dalam bahasa Inggris serta Indonesia.

行春や 鳥啼き魚の 目は泪

Yuku haru ya = 5

Tori naki uwo no = 7

Me ha namida = 5

Terjemahan dalam bahasa Inggris, sebagai berikut.

Spring is passing

The birds cry, and the fishes’ eyes are 

With tears.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut.

Musim semi berlalu

Burung menangis, dan mata ikan itu

Mengucur air mata

Berikutnya, saya berikan beberapa contoh Haiku karya Matsuo Basho, langsung dalam terjemahan bahasa Indonesia.

(1)

Di jalan sempit yang tinggi,

pelancong tua membersihkan petak lebar,

sabit kecil berkilau

(2)

Dengan suara seperti apa

laba-laba itu akan menangis

dalam angin musim gugur?

(3)

Jatuh sakit saat dalam perjalanan,

aku masih berkeliaran di belantara,

dalam mimpiku

(4)

Musim gugur ini

kenapa aku merasa tua?

seekor burung di awan

(5)

Berjalan dengan tongkat,

satu keluarga berambut abu-abu

mengunjungi makam

(6)

Aroma bunga plum

di jalur gunung berkabut,

matahari terbit yang besar

(7)

Lelah aku mencari

penginapan pedesaan, tetapi menemukan

wisteria mekar

Memahami Kedalaman Haiku Basho

Mari kita cermati beberapa kosa kata yang digunakan Matsuo Basho dalam Haiku di atas. Kita menemukan suasana alam, musim, dan perasaan, seperti musim semi, burung menangis, mata ikan, air mata, jalan sempit, pelancong tua, laba-laba, angin, musim gugur, belantara, mimpi, merasa tua, burung di awan, tongkat, rambut abu-abu, makam, bunga plum, gunung berkabut, matahari terbit, lelah, pedesaan, dan wisteria mekar.

Sekali lagi, karena ini terjemahan, jangan dihitung dengan pola 5 – 7 – 5. Haiku aslinya dalam bahasa Jepang berpola 5 – 7 – 5. Maka jika Anda membuat Haiku baku dalam bahasa apapun,  supaya tetap menjaga standar kebakuan pola, harus selalu tiga baris dan berpola 5 – 7 – 5 sebagaimana contoh Matsuo Basho. Namun contoh terjemahan di atas perlu kita pelajari, untuk mendapatkan spirit Matsuo Basho dalam karya Haiku yang akan Anda buat nanti.

Saya ucapkan selamat kepada semua peserta Kelas Antologi Online Batch # 6 / 2020, yang telah menginisiasi pembelajaran Haiku secara mandiri, dan bertekad mewujudkan buku Antologi Haiku. Semoga dimudahkan dan diberkahi. Aamiin.

Bahan Bacaan

Matsuo Basho’s Famous Haiku Poems, www.masterpiece-of-japanese-culture.com, 24 Mei 2020

3 thoughts on “Menghayati Kedalaman Haiku Matsuo Basho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *