20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Uni Dian, salah seorang peserta Workshop Kepenulisan yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Bung Hatta Bukittinggi Sumatera Barat (6 – 8 Juni 2022) mengajukan pertanyaan kepada saya. “Dulu,” katanya, “saya bisa tanpa beban menulis dan memublikasikan tulisan. Bahkan menerbitkan menjadi buku”.

“Namun setelah kuliah S2, mendadak saya menjadi takut memublikasikan tulisan. Setiap selesai menulis, saya baca ulang tulisan, dan saya selalu menemukan alasan untuk tidak memublikasikannya dalam bentuk apapun. Semua tulisan hanya saya simpan,” lanjut Uni Dian.

“Misalnya, saya merasa cerita yang saya kembangkan terlalu biasa saja. Tidak menarik. Tidak tampak sebagai tulisan seorang alumni pasca sarjana”, sambungnya. “Apa yang salah pada diri saya?” demikian pertanyaannya.

Saya menghargai kondisi yang disampaikan melalui pertanyaan dan pernyataan Uni Dian tersebut. Masing-masing kita memiliki –dan berada pada situasi serta kondisi yang berbeda. Setiap kita juga memiliki makna dan tujuan yang berbeda dalam proses menulis.

Benar kata orang, bahwa hidup ini pilihan. Maka yang diperlukan adalah kemampuan untuk memilah dan memilih. Apa yang harus kita lakukan dalam setiap satuan waktu yang kita miliki. Apa pilihan hidup kita dalam setiap keadaan? Apa yang menjadi harapan yang sesungguhnya dari proses kreatif menulis?

Saya bukan tipe perfeksionis. Saya selalu percaya bahwa manusia biasa –seperti saya, harus menempuh “protokol” kemanusiaan tertentu untuk menjadi seorang penulis yang hebat. Atau setidaknya, untuk menjadi penulis yang tumbuh menjadi lebih baik.

Jelas saya bukan penulis hebat. Mungkin juga tidak akan pernah menjadi hebat. Namun saya sadar harus menempuh protokol –berbentuk usaha terus menerus, untuk menjadi penulis yang tumbuh lebih baik, dari waktu ke waktu.

Setiap tulisan, adalah sejarah sekaligus penanda capaian proses yang sudah berhasil kita dapatkan saat itu. Misalnya, buku pertama saya lahir pada tahun 1991. Ini adalah prasasti proses menulis saya pada waktu itu.

Buku terbaru saya, terbit pada awal tahun 2022. Buku ini adalah sejarah sekaligus penanda capaian proses menulis yang telah saya dapatkan di tahun 2022. Semua tulisan kita di setiap satuan waktu, adalah sejarah sekaligus prasasti pencapaian proses belajar.

Wajar saja jika tulisan saya pada masa terdahulu terasa sangat aneh ketika saya baca sekarang. Karena kita terus tumbuh dan berproses. Saya justru bisa mengaca sejarah, dengan membaca berbagai tulisan masa-masa terdahulu. Saya membaca peta proses, membaca sejarah perjalanan menulis saya sendiri.

Ini yang saya sebut sebagai “protokol”. Bahwa umumnya manusia –termasuk saya, harus berproses, belajar, dan berkarya. Bersedia menikmati kebersahajaan hasil karya di masa pembelajaran. Tak berharap kesempurnaan.

Adakah pemula yang mampu menghasilkan karya ‘sempurna’? Ada. Mereka ini adalah kaum “unicorn” yang jumlahnya sangat sedikit di muka bumi ini. “Mereka ada, namun sangat sedikit jumlahnya,” ujar Shaunta Grimes.

Saya dan mayoritas dari kita, hanyalah orang lumrah atau orang kebanyakan, dalam dunia tulis menulis. Kita bukan unicorn. Mungkin hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang ‘berwujud’ unicorn itu dalam tulis menulis. Misalnya Harper Lee, J.K. Rowling, Toyo Shibata, atau Andrea Hirata.

Kaum unicorn ini memang diciptakan secara unik. Tak tampak proses pembelajaran. Namun karya pertama mereka langsung best seller di pasaran. Tapi –sekali lagi, jumlah mereka amat sangat sedikit.

Yang jelas, saya bukan unicorn. Saya manusia biasa, maka harus mau menjalani protokol proses. Saya kira, sebagian besar dari Anda juga manusia biasa. Bukan unicorn. Maka nikmati saja proses yang tertatih ini.

Setiap kali menulis, saya selalu menetapkan “who” dan “do”. Who, siapa segmen pembaca yang saya tuju dengan tulisan tersebut. Do, apa yang saya harapkan terjadi pada segmen pembaca, setelah mereka membaca tulisan tersebut.

Saya menetapkan tujuan yang jelas, untuk apa dan untuk siapa saya menulis. Jika sudah selesai menulis, saya edit sesuai kemampuan, kemudian saya posting di blog pribadi atau media lainnya.

Jika ada pembaca yang menilai negatif atau berkomentar jelek terhadap tulisan saya, tak ada masalah sama sekali. Saya akan tetap menulis dan memublikasikan tulisan. Mengapa demikian? Karena saya telah memiliki tujuan yang jelas dalam setiap proses menulis.

Bagi saya, menulis bukan sekedar iseng, mengisi waktu luang, atau gaya-gayaan, atau untuk mengejar rating dan popularitas. Sama sekali bukan itu tujuan saya.

Tidak terkenal, tidak hebat, tidak populer, sama sekali bukan masalah bagi saya. Namun jika hidup saya tak memberi manfaat bagi orang lain, ini masalah besar bagi saya.

Misalnya ada pembaca berkomentar, “Tulisan Pak Cah sangat jelek”. Cukup bagi saya untuk mengucapkan terimakasih atas komentarnya. Namun apa masalah bagi saya atas komentar tersebut? Tidak ada.

Saya hanya perlu bertanya kepada segmen pembaca. “Apakah tulisan saya bisa Anda pahami? Apakah tulisan saya memberikan manfaat bagi Anda?”

Jika mereka menyatakan bisa memahami isi tulisan saya, dan bisa mengambil manfaat kebaikan dari tulisan tersebut, berarti tujuan sudah tercapai. Sesederhana itu.

Tak ada yang meresahkan kecuali bahwa tulisan saya tidak dipahami oleh segmen pembaca, dan mereka tak mendapat manfaat kebaikan dari tulisan saya. Ini berarti tujuan menulis tidak tercapai.

Namun jika tidak ada orang memuji tulisan saya, tidak ada yang memberikan likes, tak ada yang comments, tak ada yang shares –ini tak ada masalah apapun bagi saya. Karena tujuan saya menulis bukan untuk mendapatkan pujian, likes maupun shares. Juga bukan untuk menang perlombaan.

Jika ada banyak orang menjelek-jelekkan atau merendahkan kualitas tulisan saya, ini bukan masalah bagi saya. Karena tujuan saya menulis bukanlah untuk menghindari celaan. Bukan untuk takut kritikan.

Inilah pilihan hidup saya. Menulis adalah salah satu cara untuk bermanfaat bagi orang lain. Menulis adalah salah satu sarana untuk menginspirasi dan memotivasi diri sendiri maupun orang lain.

Di titik ini, saya merasa tidak punya beban. Saya tidak punya beban untuk mencari pujian dan dielu-elukan jutaan fans. Saya tidak punya beban untuk dicaci dan direndahkan.

Setiap kita bisa memilih. Menulis tanpa beban, atau menulis sepenuh beban. Jika Anda menulis tanpa beban, yang akan lahir adalah tulisan tulus ikhlas untuk sharing hal yang bermanfaat. Jika Anda menulis dengan penuh beban, yang akan keluar adalah beban. Tak akan keluar tulisan.

Hidup benar-benar pilihan, dan Anda harus memilih. Saya sudah memilih. Bagaimana dengan Anda?

.

Padang – Jakarta, 8 Juni 2022, Super Air Jet IU 905, seat 8D.

1 thought on “Hidup Adalah Pilihan (1)

  1. Benar sekali apa yang di katakan pak Cah, bahwa hidup adalah pilihan. Pilih zona nyaman atau zona tidak nyaman. Saya termasuk pilih zona aman tahun ini. Tahun depan insyaallah saya harus sudah bangkit dari zona nyaman. Kembali istiqomah menulis, Aamiin. Syukron katsiran ustadz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *