.
RM 0014-20
Oleh : Cahyadi Takariawan
Selain menyalahkan “mood”, banyak orang yang menyatakan kesulitan mengatur waktu —sehingga mereka tidak menulis apapun. Mereka merasa, waktu begitu sempit, sehingga tidak sempat untuk menulis. Benarkah? Jika benar, bahwa semua waktu Anda sudah habis untuk aktivitas kebaikan, alhamdulillah, itu menandakan Allah menghendaki kebaikan pada diri Anda. Bersyukurlah, semua waktu Anda tidak ada yang tersia-siakan. Semua efektif untuk kebaikan.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan,
وإذا أراد الله بالعبد خيرا أعانه بالوقت وجعل وقته مساعدا له وإذا أراد به شرا جعل وقته عليه وناكده وقته فكلما أراد التأهب للمسير لم يساعده الوقت والأول كلما همت نفسه بالقعود أقامه الوقت وساعده
“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah akan menolongnya untuk memanfaatkan waktu dengan baik —waktu tersebut yang akan menolongnya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kejelekan, waktunya menjadikan celaka untuk dirinya. Waktu tersebut akan merintangi dan tidak akan menolongnya. Jadi, kalau ia punya semangat yang kuat untuk memanfaatkan waktu dalam kebaikan, waktu tersebut akan mendukung dan menolongnya”.
Bersyukur jika Anda telah memanfaatkan waktu dengan baik —semoga itu menjadi tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada Anda. Namun jika ternyata masih banyak waktu yang luang, atau waktu habis namun untuk hal-hal yang sia-sia, ini adalah ketertipuan. Seakan-akan sibuk, namun ternyata tidak berada dalam koridor kebaikan. Maka Nabi saw mengingatkan akan hakikat ketertipuan ini. Beliau saw bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412).
Nikmat sehat dan waktu senggang adalah dua nikmat yang melalaikan. Imam Ibnul Jauzi memberikan penjelasan yang sangat menarik. Menurut beliau, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu.”
Ibnul Jauzi menambahkan, “Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu”.
Hendaknya kita mencermati dan meneliti semua waktu yang Allah berikan setiap hari. Sehari semalam hanya 24 jam, namun manusia memanfaatkan dengan cara yang berbeda-beda. Sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari semalam, namun ada manusia yang bisa menghasilkan produktivitas optimal, dan ada yang habis untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak memberikan kebaikan dan kemanfaatan dunia akhirat.
Cermat Mengalokasikan Waktu
Untuk menjadi penulis, Anda harus mengalokasikan waktu khusus untuk melakukannya. Bukan waktu sisa-sisa, namun waktu yang Anda kelola dengan baik dan efektif. Misalnya, selama Ramadhan ini, Anda harus mencermati semua waktu yang Anda miliki agar teralokasikan untuk amal ibadah dan kebaikan, karena semua memiliki pahala berlipat ganda. Anda tidur jam berapa, dan harus bangun untuk makan sahur, dilanjutkan dengan doa, dzikir, tilawah, taubat, hingga masuk waktu Subuh.
Usai Subuh berjama’ah Anda kembali berdzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an, hingga tiba waktu shalat Syuruq dan Dhuha. Setelah itu, apa yang Anda lakukan hingga Duhur. Usai Duhur, apa yang Anda lakukan hingga Asar. Usai Asar, apa yang Anda lakukan hingga Maghrib. Tentu Anda berbuka puasa, kemudian lanjut Shalat Isya dan Tarawih. Apa yang Anda lakukan usai Tarawih? Ini semua harus Anda cermati dengan teliti. Jangan ada waktu kosong atau waktu terbuang.
Benarkan semua waktu Anda sudah habis untuk aktivitas kebaikan dan tidak ada sedikitpun slot untuk menulis? Tak adakah 30 menit —dari 24 jam sehari semalam yang Anda miliki— yang bisa Anda gunakan untuk menulis? Jika Anda merasa tidak ada slot waktu lagi walau hanya 30 menit untuk menulis, mungkinkah Anda mengurangi jatah tidur? Berapa jam Anda alokasikan waktu untuk tidur malam? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk rebahan di waktu pagi atau siang selama Ramadhan?
Hitung lagi dengan cermat, berapa menit Anda alokasikan waktu untuk makan? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk olah raga? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk mandi dan urusan toilet setiap harinya? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk chatting dengan teman di grup? Berapa menit Anda alokasikan waktu untuk medsos.
Pastikan bahwa semua waktu Anda telah diisi dengan aktivitas kebaikan. Jangan sampai waktu berlalu dan Anda menganggur, tidak melakukan hal yang baik serta bermanfaat. Ibnu Mas’ud ra mengatakan,
إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.” (Dinukil dalam Al-Adabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih).
Tigapuluh Menit yang Bermakna
Coba Anda lakukan penghematan waktu. Cermati jadwal kegiatan Anda setiap hari, dan lakukan penghematan serta pengurangan jatah. Untuk hal-hal yang bersifat ibadah mahdhah, tidak boleh dikurangi jatah waktunya —seperti shalat, tilawah, berdoa, berdzikir, dan lain-lainnya. Namun untuk hal-hal teknis dan praktis, bisa coba Anda kurangi jatahnya.
Misalnya, kurangi jatah waktu tidur Anda 10 menit dari biasanya. Kurangi jatah waktu makan 2 menit dari biasanya. Jika sehari —di luar Ramadhan— Anda makan tiga kali, berarti terkumpul penghematan 6 menit dari urusan makan. Kurangi jatah waktu chatting dan medsos 5 menit dari biasanya. Kurangi jatah waktu olah raga 5 menit dari biasanya. Kurangi jatah waktu mandi / toliet, 1 menit dari biasanya. Jika urusan toilet dan mandi Anda lakukan 4 kali setiap hari, maka ada penghematan 4 menit dari urusan toilet.
Nah, total penghematannya adalah 10 menit (pengurangan jatah waktu tidur), ditambah 6 menit (pengurangan jatah waktu makan), ditambah 5 menit (pengurangan jatah waktu chatting dan medsos), ditambah 5 menit (pengurangan jatah waktu olah raga), dan ditambah lagi 4 menit (pengurangan jatah waktu toilet dan mandi). Total ada 30 menit. Nah, ternyata masih bisa kan mengelola waktu, sehingga tersedia 30 menit yang Anda gunakan untuk menulis.
Ini berlaku bagi Anda yang mengaku —bahwa 24 jam sehari semalam sudah full dengan agenda sehingga tidak punya sedikitpun waktu untuk menulis. Dengan mencermati jadwal kegiatan harian, Anda akan bisa melakukan penghematan. Bagian mana dan berapa banyak waktu yang Anda kurangi, tentu bersifat fleksibel sesuai situasi dan kondisi.
Disiplin Memanfaatkan Waktu
Di bulan Ramadhan, hendaknya kita makin disiplin untuk menggunakan waktu, lantaran mahalnya momentum Ramadhan. Pastikan seluruh waktu teralokasikan untuk amal ibadah dan amal kebaikan —termasuk menulis. Jangan memanfaatkan Ramadhan untuk memperbanyak tidur, sebagaimana yang masyhur pada setiap bulan Ramadhan, orang membawakan hadits,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Doanya adalah mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” (Riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437).
Sayangnya, Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah no. 4696 menilai bahwa hadits ini dha’if atau lemah. Oleh karena itu tidak boleh digunakan sebagai dalil untuk memperbanyak rebahan di siang hari bulan Ramadhan. Pada hakikatnya, semua aktivitas kebaikan di bulan Ramadhan yang diniatkan untuk ibadah, akan bernilai ibadah dan berlipat pahala kebaikannya. Menulis yang dilakukan dengan niat ibadah, akan bernilai ibadah dan memiliki pahala berlipat pada bulan Ramadhan.
Tentu saja tidur juga ibadah, apabila dilakukan dengan niat ibadah kepada Allah. Namun yang menjadi masalah adalah penyebutan hadits dha’if di atas untuk menjadi pembenaran memperbanyak rebahan di siang hari bulan Ramadhan. Ini yang bermasalah. Kesannya, ada anjuran dari Nabi saw —atau sunnah Nabi saw— bahwa memperbanyak tidur di saat puasa Ramadhan adalah ibadah. Ini bisa mengurangi produktivitas amal kebaikan selama Ramadhan, jika terlalu banyak rebahan.
Nah bagi yang masih suka banyak rebahan selama puasa, tidak layak untuk mengatakan tidak punya waktu untuk menulis. Sedangkan urusan medsos dan chatting saja bisa berjam-jam lamanya. Kalau tilawah berjam-jam, ini bagus. Kalau dzikir berjam-jam, ini bagus. Namun kalau tidur pagi, tidur siang dan tidur sore selama puasa sampai berjam-jam, segeralah bertaubat dari kebiasaan ini. Ganti dengan aktivitas menulis dan aktivitas produktif lainnya.
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Tetap semangat #WriteFromHome bersama saya. Kita #LawanCorona bersama-sama.
Bahan Bacaan
Muhammad Abduh Tuasikal, Nikmat Sehat dan Waktu Luang yang Membuat Manusia Tertipu, dalam www.rumaysho.com, 4 November 2009

Terima kasih, sangat bermanfaat pak Cah.
Mantap Pak Cah. BarakaAllah fiikum
Sangat menginspirasi terima kasih.
Alhamdulillah.
Terimakasih banyak atas pencerahannya, Ustadz.
Sangat menginspirasi tulisan ini.
ok bangat pa…. mg bs ikuti saran bapak. Sy sering baca sampe lupa nulis