.
RM 0013-20
Oleh : Cahyadi Takariawan
Seorang peserta Wonderful Writing Class (WWC) pernah mengajukan pertanyaan kepada saya, “Apakah kesalahan yang sering dilakukan para penulis pemula?” Tidak cukup mudah untuk menjawab pertanyaan ini —sebab sesungguhnya untuk para pembelajar itu tidak boleh ditakut-takuti dengan daftar kesalahan. Bahkan, daftar kesalahan bisa mematikan keberanian menulis, karena ‘takut salah’. Nah, jadi bikin saya salah tingkah kan, pertanyaan ini.
Kalau saya jawab dengan daftar kesalahan, khawatir membuat para penulis pemula takut menulis. Kalau tidak saya jawab, khawatir saya dituduh menyembunyikan informasi pembelajaran. Kalau saya jawab “tidak ada kesalahan”, nanti saya dituduh melakukan kebohongan. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya saya putuskan untuk menjawab, dengan berdasarkan pengalaman mengelola berbagai kelas menulis selama ini.
Bagi Anda para penulis pemula yang tidak siap mengetahui daftar kesalahan, tolong jangan teruskan membaca. Cukup Anda banyak berlatih dan berlatih, berkarya dan terus berkarya, jangan pernah letih. Bagi Anda yang siap mendapatkan informasi kesalahan apa yang banyak dilakukan para penulis pemula, silakan simak 7 kesalahan berikut ini.
Tujuh Kesalahan Penulis Pemula
Istilah ‘kesalahan’ jangan dipahami sebagai bahasa hukum. Apalagi dalam konteks hukum agama. Ini bukan tentang dosa. Namun kesalahan yang dimaksud dalam pembelajaran menulis, adalah hal-hal yang hendaknya dijauhi oleh para penulis pemula. Berikut beberapa daftar “kesalahan” penulis pemula, saya rangkum dari pengalaman mengelola Kelas Menulis baik offline maupun online.
- Mempersulit Diri Sendiri
Ada banyak penulis pemula yang bersikap mempersulit diri sendiri. Baru mulai belajar menulis, belum mulai proses menulis, sudah bertanya tentang kesalahan menulis. Ini tindakan mempersulit diri sendiri. Ketika anak kecil belajar naik sepeda kayuh roda dua, tidak dimulai dari kursus dengan materi teori naik sepeda. Mereka langsung praktek tanpa bertanya kesalahan apa yang biasa dilakukan oleh para pemula. Mereka akan belajar dari pengalaman yang mereka dapatkan dari praktek langsung.
Di ruang pembelajaran Kuliah Pranikah, saya tidak pernah memberikan materi tentang “Kesalahan Pengantin Baru” ataupun “Kesalahan Calon Pengantin”. Saya berikan materi tentang dasar-dasar ilmu pernikahan dan berumah tangga dari berbagai macam perspektif. Saya sampaikan syari’at pernikahan dan berumah tangga, saya sampaikan psikologi suami istri, manajemen rumah tangga, komunikasi, meneladani rumah tangga Nabi saw, kesehatan reproduksi, dan lain sebagainya. Dengan mengerti hal-hal penting tersebut, peserta akan mengerti mana tindakan yang salah.
Sebagai penulis pemula, yang harus Anda lakukan adalah terus belajar, terus berlatih, disiplin dengan alokasi waktu yang telah Anda tetapkan untuk menulis setiap hari. Berhentilah bertanya tentang kesalahan menulis, karena Anda harus menghasilkan karya tulis terlebih dahulu, untuk mengetahui kesalahan yang mungkin terjadi.
- Merendahkan Diri Sendiri
Mengapa banyak orang tidak sampai puncak gunung dalam pendakian, padahal mereka sangat ingin mencapainya? Karena mereka menganggap, sangat sulit mencapai puncak. Akhirnya baru tiba di pos pertama, langsung kembali turun. Sudah menyerah kalah sebelum mencoba mendaki ke puncak.
Demikian pula dalam dunia tulis menulis. Banyak orang menganggap menulis itu sulit, dan menganggap dirinya tidak bisa menulis. Persepsi inilah yang menjadikan kesulitan menulis semakin nyata, karena under-estimate terhadap kemampuan diri sendiri. Allah memberikan berbagai macam potensi kepada manusia, yang terus menerus bisa dioptimalkan dan diproduktifkan. Apalagi bagi manusia zaman cyber, yang rata-rata melek pendidikan.
Wajib belajar sembilan tahun membuat semua manusia Indonesia bisa membaca dan menulis —tidak diragukan lagi. Mustahil lulus SD apalagi SMP jika tidak bisa membaca dan menulis. Maka begitu pendidikan setara SLTA apalagi kuliah D3 maupun S1, sudah pasti semakin terasah kemampuan Anda untuk membaca dan menulis. Jangan meremehkan dan merendahkan diri sendiri.
- Tekad Kurang Kuat
Mbak Naning Pranoto dalam buku “24 Jam Memahami Creative Writing” (2011) menyatakan, modal utama penulis bukanlah bakat, namun tekad. Nah, banyak penulis pemula yang kurang kemauan dan kurang tekad dalam menulis. Cobalah belajar dari para penulis terkenal. Banyak di antara mereka yang dulunya ditolak puluhan bahkan ratusan kali oleh penerbit, namun tidak putus asa. Mereka memiliki tekad membaja.
JK. Rowling menyerahkan naskah buku perdananya, Harry Potter and Philosopher’s Stone, ke berbagai penerbit. Sebanyak 14 penerbit menolak naskahnya dengan alasan yang beragam. Setelah terbit, langsung best seller. Stephen King memiliki pengalaman lebih buruk. Novel pertama Stephen King berjudul “Carrie” harus mengalami 30 kali penolakan oleh penerbit –sebelum akhirnya diterbitkan pada tahun 1973 oleh Doubleday.
Novelis John Grisham menulis buku pertama selama tiga tahun. Novel yang diberi judul “A Time To Kill” (1987) mengalami penolakan sebanyak 45 kali, sebelum akhirnya dibeli oleh Wynwood Press. Novelis Kathryn Stockett menulis buku perdana berjudul “The Help” yang diselesaikannya dalam waktu lima tahun. Buku tersebut mengalami penolakan sebanyak 60 kali oleh penerbit. Setelah Amy Einhorn Books menerbitkan bukunya, The Help dinobatkan menjadi novel bestseller di Amerika.
Ray Bradbury telah menulis karya science fiction lebih dari seratus judul. Namun naskah pertamanya harus mengalami ratusan penolakan, hingga akhirnya salah satu penerbit bersedia menerbitkan karyanya. Ngeri kan…. Anda belum pernah ditolak kan? Ya, karena belum pernah mengirim tulisan.
- Menunggu Mood
Pada bulan Ramadan, menunggu waktu berbuka kita lakukan dengan berbagai macam aktivitas positif. Ada yang tadarus, ada yang mengikuti kajian keilmuan, ada yang membaca buku, ada yang menyiapkan menu berbuka untuk keluarga, dan lain sebagainya. Jadi bukan menunggu adzan Maghrib sambil duduk bengong tidak ngapa-ngapain. Menunggu saat berbuka dilakukan dengan berbagai aktivitas yang menyibukkan plus berpahala.
Pada penulis pemula, banyak yang bersifat moody, sehingga hanya mau menulis saat ada mood. Persoalannya terletak pada ‘menunggu’, sehingga ketika yang ditunggu tak segera datang akhirnya mereka tak melakukan apapun, dan tak menghasilkan karya. Sayangnya, mereka menunggu mood dengan pasif, tidak melakukan apapun. Seperti orang yang bengong duduk di tepian kolam, tidak membawa alat untuk memancing, tidak pula membawa kamera untuk memotret, hanya duduk diam dan bengong. Saat ditanya, apa yang dia lakukan, “menunggu mood”, jawabnya.
Itu tindakan bengong namanya, bukan menunggu mood. Lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk tetap berkarya, bukan diam saja bengong menunggu si mood lewat. Ya kalau lewat, lah kalau tidak? Ia sudah terlanjur duduk tiga jam di tepian kolam tanpa melakukan apapun. Mending kalau nyebur ke kolam sekalian, bisa bertemu ikan dan minta mood dari para ikan.
- Obsesif dan Instan
Menurut smart-money.co, kekayaan JK. Rowling dari buku, video, film dan produk lain terkait Harry Potter di tahun 2019, mencapai 11 trilyun rupiah. Mendengar kekayaan Rowling, telah menginspirasi banyak kalangan untuk menjadi kaya dari menulis. Tentu saja ini bagus, mereka menjadi obsesif dan bersemangat. Namun cara pandangnya tidak berurutan, bahkan melompat langsung kepada hasil akhir. Bukan kepada proses. Mereka ingin segera mendapatkan hasil dari menulis. Sekali menulis, langsung mendapatkan banyak uang atau langsung terkenal. Sekali menulis, langsung best seller.
Sebagian yang lain sedemikian obsesif ingin cepat menjadi penulis hebat dan terkenal, sehingga membandingkan kualitas tulisannya —sebagai pemula— dengan tulisan para maestro. Dampaknya, sering merasa terbanting, sehingga merasa tidak PD ketika hendak mempublikasikan karya tulis. Padahal dalam dunia apapun, selalu ada urutan logika, selalu ada proses yang harus dilewati, selalu ada kesulitan yang harus dihadapi. Lihatlah panjangnya proses dan beratnya tantangan Rowling, bukan hasil akhir berupa 11 trilyun rupiah.
- Campur Aduk
Ada hal yang ketika campur aduk itu enak, namun ada hal lain yang ketika campur aduk menjadi berantakan. Gado-gado adalah campur aduk, sebagaimana karedok dan rujak cingur. Juga bubur Manado. Namun campur aduknya semua elemen itu enak dan bisa dinikmati. Ada lagi yang campur aduknya menjadi keharusan, karena kalau tidak dicampur menjadi masalah. Tong dan seng, saat dicampur menjadi tongseng, ec\nak dimakan. Namun saat dipisah, menjadi barang keras yang tak bisa dimakan.
Para penulis pemula sering mencampuradukkan aktivitas menulis dengan aktivitas mengedit dan menghias tulisan. Sudah sering saya sampaikan tentang tiga bagian menghasilkan karya tulis. Pertama, proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan. Inilah yang disebut sebagai menulis. Kedua, mengedit hasil karya tulis. Ketiga, menghias tulisan agar indah, enak serta menarik untuk dibaca.
Ketika ketiga proses tersebut campur aduk, jadilah percampuradukan yang tidak mengenakkan. Seperti karedok dikocok dalam satu mangkuk dengan es cendol, ditambah kopi. Akhirnya menjadi proses yang membingungkan, dan setelah bingung akhirnya berhenti menulis sambil marah-marah dan putus asa, dan menyimpulkan “Ternyata menulis itu susah”. Padahal menulis itu mudah, yang sulit adalah proses mengedit dan menghias tulisan. Nah, salah kesimpulan kan?
- Tidak Fokus
Banyak penulis pemula yang terlalu panjang daftar keinginannya, sehingga tidak fokus. Misalnya, pengen bisa menulis fiksi dan nonfiksi sekaligus. Pengen bisa membuat novel, puisi, sekaligus menulis berita dan esai. Nah, ‘panjang angan-angan’ dalam bahasa Arab disebut “thaulul amal” adalah sifat tercela, bukan hanya dalam urusan angan-angan duniawi seperti terminologi sufi. Namun juga panjang angan-angan atau keinginan, sehingga tidak mengerti apa yang menjadi fokus dirinya dalam belajar menulis.
Semestinya dalam belajar menulis, disertai dengan fokus, apa yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Saat saya melontarkan istilah “menulis semudah bernafas”, saya sering diejek beberapa kalangan. Dianggap istilah yang berlebihan. Padahal, jika mereka fokus pada target ‘lancar menulis’, maka menulis semudah bernafas adalah hal yang nyata dan terbukti. Hanya saja, perlu fokus dan bertahap dalam proses pembelajaran. Bukan langsung pengen bisa menulis semudah bernafas, namun langkahnya tidak fokus karena kebanyakan daftar keinginan.
Saran Saya
Saran saya, tetapkan tujuan. Saat belajar menulis, tujuan Anda apa? Untuk apa Anda menulis? Apa yang Anda inginkan dari tulisan Anda? Kejelasan tujuan, akan membuat kemudahan dalam menulis. Tanpa kejelasan tujuan, Anda akan terjebak dalam banyak kesalahan, sebagaimana telah saya urutkan daftarnya di atas.
Saya, Cahyadi Takariawan, menulis untuk bertutur, menginspirasi, memotivasi, menasehati diri sendiri dan orang lain, mengingatkan diri sendiri dan orang lain. Maka saya terus menulis —terserah orang menganggap tulisan saya bagus atau tidak, menarik atau tidak, yang penting tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Ini contoh kejelasan tujuan dalam menulis. Saya menulis tidak berorientasi pada pujian dan tepuk tangan. Tidak berorientasi pada banyaknya likers, namun berorientasi pada kebermanfaatan yang luas.
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan, semoga semakin menambah keberkahan, termasuk dalam tulisan.
Mertosanan Kulon, 3 Ramadhan 1441 H
#WriteFromHome #LawanCorona

Sangat menginspirasi saya harus menulis walaupun banyak salah.
Sangat menginspirasi. Terima kasih Pak Cah.
Benar sekali pak…saya sebagai penulis pemula sering ketemu tidak PD mempublikasikan karya tulis karena muncul pengembangan ide lain yg membuat tema tidak fokus disertai takut salah.
saat membuat tugas artikel di kmo nonfiksi 29 muncul hal di atas…tetapi tidak sempat berkembang karena saya yakin. saya senang kesalahan di kritik, itu yang memotivasi saya tetap ingin menyelesaikan tugas 4.
MasyaAlloh, Syukron ustads
Saya penulis pemula. Ikut komunitas menulis novel. Sedang membuat novel tentang siswa yang memiliki gaya bencong dan dikatai bencong oleh teman. Memiliki ibu yang yang terus kerakutan anaknya menjadi bencong. Dan ketakutannya benar terwujud. Tapi setelah itu saya kebingungan, hendak saya bawa kemana endingnya. Bgmn ya cara saya belajar membuat ending yang memikat dari sebuah cetita yang sederhana. Terimakasih
Pak Cah, selalu mennyampaikan tidak peduli tulisan saya bagus atau tidak. Yang pemting tujuannya ingin bermanfaat buat orang lain. Di sisi lain sering menyampaikan pencapaian materi dari hasil menulis. Ini yang menjadi pembelajaran saya, saya tanya pada diri sendiri kamu mau menulis yang bermanfaat buat orang lain atau menulis untuk mencari duit. Dan saya berharap bisa membuang jauh untuk motivasi duit walau jujur susah. Saya berharap menulis untuk kemaslahatan orang banyak.
Terima kasih atas pencerahannya pak, saya masih belajar menulis, tulisan biasa, masih sebatas kegiatan sehari-hari, belum bisa bertema sesuatu.
Semoga kedepan lebih baik lagi.
Terimakasih semoga 7 hal yang dipaparkan menambah motivasi untuk menulis.
Alhamdulullah ustadz tambah ilmu dan motivasi ,sy sedang mengerjakan tugas KMO alineaku Batch 28, tugas ke 5, agak kesulitan mencari referensi buku karena pilihan judulnya yang kurang tepat atau gimana,alhamdulillah sdh dapat referenai sekarang dan sdng mencoba menyusun kembali tulisan yg kurang pas.
Sangat bs menyemangati sy utk belajar menulis
Luar biasa menginspiratif pa, memberikan motivasi untuk tetap menulis, menulis dan menulis. Terima kasih.
Mantap pak Cah. Terima kasih ilmunya. Have a nice Ramadan fasting.
Assalamu alaikum wr wb
Ustadz saya ingin ikut kelas belajar menulis, apa syaratnya? Matursuwun tadz
Baik, Pak Cah mudahan sehat walaafiat.
Terima kasih pak Cah. Saya termasuk penulis pemula. Proses belajar agar semakin baik dan bisa istiqomah saat berlatih. Semoga suatu saat bisa menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi profesi saya maupun kepada para pembaca pada umumnya.
Saya sudah membaca beberapa buku hasil karya pak cah dan bu Ida. Wonderfull family, winderful wife, butterfly effek, dan bukunya bu ida yang seri materi keakhwatan.
Inspratif pak
terimakasih kak…
Semoga tulisan pencerahan Pak Cah ini jd pemicu PD sy untuk tidak menyerah dlm latihan menulis sebagai pemula
harus dimulai Bang… semangaaattt…