20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Get your ideas down on paper first, and then you can worry about how things are organized and how they sound. Once you have some bones to work with, it’s easier to flesh it out” –Nissa Annakindt, 2019.

.

Ada beberapa titik temu antara teknik 8 menit yang dikemukakan Monica Leonelle, dan teknik “5.000 Words Per Hour” yang dikemukakan oleh Chris Fox. Keduanya menyarankan pentingnya “writing sprint” dalam satuan waktu tertentu, untuk mencapai jumlah kata tertentu. Dengan mengetahui kemampuan menulis per satuan waktu, akan lebih efektif bagi Anda untuk menyusun jadwal harian –menulis salah satunya.

Bagaimana agar bisa sukses dalam menggunakan “writing sprint” dalam waktu delapan menit untuk satu sesi menulis? Berikut beberapa catatan dari Nissa Annakindt.

Keempat, Tulis Hingga Batas Waktu, Jangan Mengedit

Writing from a blank page, essentially making something from nothing, is arguably harder than building from something that’s already there. Brains are for coming up with ideas, not storing ideas” –Nissa Annakindt, 2019.

Waktu Anda sangat terbatas untuk menulis. Anda memiliki sangat banyak hal lain utnuk dikerjakan dan diselesaikan. Maka manfaatkan secara optimal untuk menulis, bukan mengedit atau memperindah tulisan.

Jodie Picoult menyatakan, “Anda dapat mengedit halaman (tulisan) yang buruk, tetapi Anda tidak dapat mengedit halaman kosong”. Jika tulisan Anda kurang bagus, nanti bisa Anda perbaiki. Jika ada yang salah tulis, nanti bisa Anda benarkan. Namun jika Anda tidak menulis, tak ada yang bisa Anda perbaiki dan Anda benarkan.

“Menulis dari halaman kosong, artinya menciptakan sesuatu dari ketiadaan, bisa dikatakan lebih sulit daripada membangun dari sesuatu yang sudah ada”, ujar Nissa Annakindt. Maka berkonsentrasilah hanya untuk menulis saja di halaman kosong, selama sesi yang sudah Anda siapkan.

Tulis dulu semuanya, hingga batas akhir sesi. Jika sesi ingin Anda perpanjang karena masih memiliki waktu, misalnya menjadi 2 atau 3 kali sesi, lanjutkan menulis hingga semua sesi selesai. Setelah itu, Anda baru boleh untuk mengedit atau memeriksa jika ada hal-hal yang ingin diperbaiki atau diubah sama sekali.

Cara ini akan membuat Anda bisa memanfaatkan waktu menulis dengan optimal, tidak terganggu oleh mengedit. Biasanya, jika Anda mengedit, waktu Anda habis tanpa terasa dan belum mendapatkan hasil yang bisa dievaluasi.

Kelima, Ambil Jeda di Antara Sesi Menulis

“The human attention span has limitations. Every writer has a finite stamina, though this may differ between individuals” –Nissa Annakindt, 2019.

Jika Anda memilih akan melakukan beberapa sesi menulis, sebaiknya Anda mengambil jeda di antara sesi menulis. Annakindt menyatakan, “Rentang perhatian manusia memiliki keterbatasan. Setiap penulis memiliki stamina yang terbatas, meskipun ini berbeda antara individu. Penting untuk mengistirahatkan pikiran (dan jari!) Anda sehingga dapat memulai dengan segar pada sesi berikutnya”.

Untuk sesi 8 menit, masih mungkin Anda teruskan hingga dua atau tiga sesi. Jika tiga sesi berturutan, berarti 8 X 3 = 24 menit, Anda harus mengambil jeda istirahat. Ini setara dengan teknik menulis pomodoro yang menyarankan menulis per sesi 25 menit dengan 5 menit jeda istirahat.

Setelah tiga sesi, Anda jeda dengan sejenak istirahat, dan baru meneruskan sesi berikutnya setelah jeda tersebut. Jangan terlalu lama istirahatnya, jika masih ingin melanjutkan kepada sesi berikutnya.

Keenam, Mulailah Dari Sesi Tunggal

It can be daunting to start this process for the first time. Maybe you have trouble writing lots of words at once, or you have trouble keeping your inner editor in check. That’s okay!” –Nissa Annakindt, 2019.

Bagi Anda yang benar-benar pemula, lebih baik Anda memulai dengan sesi tunggal. Ketimbang saya menantang untuk menulis dalam 10 sesi X 8 menit, yang berarti memerlukan waktu total 80 menit, akan lebih baik Anda berlatih dengan satu sesi setiap hari.

Mengambil sesi panjang, mungkin saja terasa menakutkan bagi Anda yang masih pemula. “Bisa jadi Anda kesulitan menulis banyak kata sekaligus, atau Anda kesulitan mengendalikan instink editor Anda. Tidak apa-apa! Jangan biarkan hal itu menghalangi Anda untuk menulis”, ujar Annakindt.

“Don’t let that keep you from sprinting.  You can build endurance over time” –Nissa Annakindt, 2019.

Berlatih menulis dari sesi tunggal, akan terasa lebih mudah. Selanjutnya, “Anda dapat meningkatkan daya tahan dari waktu ke waktu. Tapi untuk saat ini, mulailah dengan sprint mikro”, ungkap Annakindt.

Anda bisa meningkat dari hari ke hari. Dimulai dari satu sesi 8 menit, bisa menambah menjadi 2 sesi, atau 5 sesi pada suatu ketika nanti. Semua memerlukan proses dan pembiasaan.

Bagaimana dengan Anda? Ayuk segera berlatih sesi menulis 8 menit.

Bahan Bacaan

Monica Leonelle, How an 8-Minute Writing Habit Could Help You Write Your Book This Year, https://writingcooperative.com, 12 Januari 2020

Nissa Annakindt, Back to The 8-Minute Writing Plan, https://myantimatterlife.wordpress.com, 18 Juni 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *