.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Mengikuti Kelas Menulis —siapapun mentornya, seperti apapun metodenya, adalah jejak rekam yang menunjukkan Anda telah berada pada tangga untuk menjadi penulis. Ya benar, untuk menjadi penulis. Sebab untuk menjadi penjahit ada kelasnya sendiri, untuk menjadi pelukis ada kelasnya sendiri, untuk menjadi chef ada kelasnya sendiri.
Artinya, mengikuti sebuah Kelas Menulis, dengan sadar Anda tengah menapaki anak tangga menuju kepada produktivitas dan atau profesionalitas sebagai penulis. Sebagian dari Anda benar-benar ingin menjadi penulis profesional, yang sebagian besar waktu akan dikontribusikan melalui tulis menulis.
Sebagian dari Anda mengikuti Kelas Menulis hanya ingin memiliki produktivitas menulis. Agar bisa menulis dengan lancar, mudah, mengalir dan enak dinikmati. Agar ketika harus mengerjakan tugas, bisa dilakukan dengan mudah. Tidak untuk menjadi seorang penulis profesional.
Apapun yang Anda harapkan namun mengikuti Kelas Menulis adalah salah satu anak tangga untuk menjadi penulis. Tentu saja tidak sekedar penulis, namun penulis yang produktif, dan atau penulis yang profesional.
Tujuh Tangga untuk Menjadi Penulis
Agar semakin sempurna menapaki anak tangga untuk menjadi penulis, hendaknya tidak berhenti pada satu anak tangga. Mari saya ajak Anda menyusun dan memahami anak tangga lainnya.
Pertama, Anda harus memiliki dan menjaga lima modal menulis. Silakan simak kembali tulisan saya tentang modal dasar menulis di sini. Miliki hasrat, tekad, disiplin, komitmen dan waktu untuk menulis. Dengan modal dasar ini, Anda akan bisa membangun karakter dan jatidiri sebagai penulis. Tidak menunggu bakat, tidak menunggu mood. Anda akan bisa sukses menjadi penulis.
Kedua, Anda harus rajin, rutin, tekun dan betah berlatih menulis setiap hari. Ya, harus setiap hari berlatih menulis. Bukan sepekan sekali, bukan sebulan sekali, apalagi setahun sekali. Setiap hari –meskipun hanya 10 menit atau 10,5 menit, Anda harus rutin berlatih menulis. Karena dengan rutin berlatih inilah Anda akan lancar dan mahir. Makin lama makin mengalir.
Ketiga, mengikuti Kelas Menulis —baik offline maupun online, untuk belajar bersama. Poin ini Anda sudah melakukannya. Jika Anda mengikuti suatu Kelas menulis, artinya Anda telah berada dalam anak tangga untuk mempertegas jati diri sebagai penulis. Dalam Kelas Menulis, Anda akan diajak berproses bersama dan tumbuh bersama, dalam balutan udara literasi.
Keempat, tidak pelit. Anda harus rela mengeluarkan biaya, tenaga, pikiran dan waktu untuk mengikuti pembelajaran. Tidak boleh pelit untuk melakukan pembelajaran menulis. Jika ada tawaran program peningkatan kapasitas diri sebagai penulis, Anda dengan mudah dan antusias mengikutinya. Tentu saja harus selektif, tidak semua tawaran diikuti.
Kelima, siap menghadapi kesulitan pembelajaran. Anda harus betah dengan kesulitan selama masa pembelajaran, seperti nasihat Imam Syafi’i, “Barangsiapa tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan di sepanjang kehidupan”. Jika Anda merasa belajar itu sulit, bertahanlah agar bisa memecahkan kesulitan itu.
Keenam, memiliki mentor. Sebagian dari Anda benar-benar berada dalam bimbingan seorang mentor. Maka Anda akan lebih terarah dalam program belajar menulis. Namun secara umum, Anda bisa memiliki mentor secara virtual. Jika Anda rutin menyimak postingan saya di blog Ruang Menulis ini, artinya Anda telah melakukan proses belajar mandiri dan sekaligus Anda telah memiliki mentor dalam menulis.
Ketujuh, memiliki komunitas menulis. Anda akan lebih terpacu semangat menulis apabila berada dalam komunitas menulis. Sebagaimana Anda akan terpacu berbisnis apabila berada dalam komunitas pebisnis. Anda bisa mengikuti komunitas menulis yang sudah ada, atau membuat sendiri yang eksklusif, bersama teman-teman terpilih dan terpercaya. Ini untuk saling memotivasi dan memberikan masukan untuk perbaikan.
Nah, dengan tujuh anak tangga tersebut, Anda telah benar-benar berada pada jalur untuk menjadi seorang penulis. Belajar adalah proses yang berkelanjutan, dan kualitas karya tulis Anda juga akan terus berkembang. Jika Anda merasa belum puas dengan hasil karya Anda — itu adalah hal wajar dalam sebuah proses pembelajaran panjang.
Sebab, kapan kita merasa puas dengan hasil karya kita, pada saat itu pula kita telah jumud. Stagnan, status quo. Jika ingin terus berkembang, jangan pernah merasa puas. Dengan itu kita terus belajar dan berproses menjadi lebih baik.
Lalu, jika terus menerus belajar, lalu kapan Anda menyebut diri sebagai penulis? Jawabnya adalah, sekarang! Saya setuju dengan Chuck Sambuchino —-staf di Writer’s Digest Books, penulis buku Create Your Writer Platform— bahwa untuk menjawab kapan Anda mulai menyebut diri sebagai penulis? Maka jawabannya adalah, sekarang!
Ya benar, sekarang. Jangan menunggu lain waktu, karena sesungguhnya Anda sudah memulai langkah menjadi penulis. Saya berharap Anda semakin mantap menjawab, bahwa mulai sekarang Anda mendefinisikan diri menjadi penulis.
Sebab, untuk menyatakan diri sebagai penulis, tidak harus menjadikan menulis sebagai mata pencaharian atau sumber penghidupan. Seorang penulis amatir, penulis sosial, penulis karena hobi, penulis karena ingin terus menulis —adalah penulis.
Seperti kata mbak Mel Lee-Smith (2017), “Being a writer requires only one thing: actually writing”. Satu-satunya cara menjadi penulis adalah –menulis!
Bahan Bacaan
Chuck Sambuchino, When Can You Call Yourself A Writer? www.thewritelife.com, 4 Desember 2013
Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com, 23 Juni 2017
