Oleh : Cahyadi Takariawan
Determination is very important because it enables us to persist in the face of difficulties. It makes us to march fearlessly ahead with faith until we achieve our goal. Since life is never smooth, many of us fall off when we come across obstacles. But with determination, we can overcome any type of obstacle (Thomas Babila Sama, 2010)
*****************
Kembali saya ajak Anda membangun sesuatu yang berharga untuk modal menulis. Membangun itu kata kerja aktif, melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Saya mengajak Anda membangun lima modal dasar untuk menjadi penulis, yaitu HTDKW —hasrat, tekad, disiplin, komitmen dan waktu untuk menulis.
Pada postingan sebelumnya, telah saya sampaikan modal dasar pertama, berupa hasrat. Kali ini akan saya bahas modal kedua, yaitu tekad. Untuk menulis dan menjadi penulis, yang harus Anda miliki bukanlah bakat, bukan pula mood. Abaikan itu —jika Anda merasa tidak memilikinya. Anda hanya perlu membangun tekad yang kuat dalam diri Anda untuk menulis dan terus menulis.
Menurut Whitney Carter (2017), tekad adalah hal sangat penting bagi seorang penulis. “Do you know what the single most important characteristic of a writer is? Determination”, ujar Carter. Tanpa tekad, seseorang hanya akan bolak-balik melakukan tindakan tidak efektif, tidak sistematis, dan tidak terorganisir, sehingga satu bahan tulisan tak pernah ia selesaikan di sepanjang kehidupan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tekad adalah kebulatan hati. Ya, Anda tidak akan bisa menulis yang berkualitas jika tidak dengan kebulatan hati, atau kehadiran hati secara penuh. Bagaimana mungkin menulis hanya dengan separuh hati, atau seperempat hati. Tentu hanya akan menghadirkan separuh kualitas dan seperempat kualitas —tidak bisa optimal menghadirkan 100 % kualitas. Miliki tekad yang kuat, supaya hadir tulisan yang lancar mengalir.
Tekad itu artinya Anda punya cita-cita.
Anda ingin memiliki buku sendiri? Anda ingin menjadi penulis produktif? Anda ingin memberikan kemanfaatan luas kepada publik melalui tulisan? Jelas, itu cita-cita mulia. Dari sini Anda mulai. Dari cita-cita, dari keinginan, dari harapan. Visualisasikan —jika Anda ingin memiliki buku karya sendiri— pilih desain cover yang Anda sukai, anda cetak buku dummy, tanpa isi. Beri judul besar di cover “Buku Impianku”. Tulis nama Anda di cover buku itu. Tulis tahun 2020.
Cetak satu saja buku dummy itu. Taruh di kamar kerja Anda. Lihat dan pandangi setiap hari. Itu cita-cita Anda, itu keinginan dan harapan Anda. Katakan setiap hari kepada diri sendiri, “Aku harus bisa mewujudkan buku impianku”. Dengan itu, Anda harus melakukan sesuatu.
Tekad itu artinya tidak.
Ada ajakan keluar untuk makan malam? Ada tawaran untuk nonton film terbaru dari aktor kesayangan? Ada undangan menghadiri festival kopi di Cafe Kesayangan tempat Anda biasa nongkrong bersama teman-teman? Jawab : tidak! Jika itu bertepatan dengan waktu yang Anda alokasikan untuk menulis. Ada undangan menghadiri reuni kuliah? Jawab : tidak! Karena pada waktu yang bersamaan Anda telah mengalokasikan waktu untuk menulis. Anda diajak jalan-jalan keliling kota bersama artis ibu kota, jawab dengan tegas : tidak ! Ketika ditanya, mengapa tidak? Jawab, karena Anda tengah berkonsentrasi untuk menghasilkan buku baru.
Katakan “tidak” untuk semua tawaran dan ajakan yang mengganggu Zona Waktu Menulis (ZWM) Anda. Meskipun tawaran itu tampak sangat mengasyikkan dan menjanjikan. Jika Anda selalu menjawab, “Iya” atas segala ajakan menarik tersebut, artinya Anda tidak punya tekad.
Tekad itu artinya aksi nyata.
Ketika Anda berhasil menjawab semua gangguan dengan “tidak”, saatnya melakukan tindakan nyata. Untuk memiliki buku sendiri, aksi nyata Anda adalah menulis dan menulis, menyelesaikan bahan sesuai kerangka tulisan yang sudah Anda tetapkan. Untuk menjadi penulis produktif, aksi nyata yang harus Anda lakukan adalah terus menulis pada waktu yang telah Anda tetapkan. Cita-cita untuk memiliki buku sendiri tak akan pernah tercapai sepanjang usia Anda, jika Anda tidak melakukan aksi nyata —menulis. Anda akan tetap menjadi calon penulis, setinggi apapun cita-cita Anda, jika tidak pernah melakukan aksi nyata berupa menulis. Lakukan aksi nyata —menulis dan terus menulis.
Tekad itu artinya sekarang.
“Aku masih punya waktu besok”, adalah penyakit dalam manajemen waktu. Anda menunda menulis hari ini —“Aku sangat lelah, jika sekarang aku istirahat, besok akan lebih segar untuk menulis”. Begitulah kisah si pemimpi, yang ketika bangun esok pagi, ia akan mengucapkan kalimat yang sama. Begitu yang ia lakukan setiap hari, hingga sampai akhir waktu, ia baru menyadari tidak pernah menulis apapun untuk meraih cita-citanya. Betapa banyak waktu ia lewatkan, betapa banyak kesempatan ia sia-siakan, dan tetap saja ia tidak menulis apapun. Tekad, artinya adalah sekarang. Bukan besok, apalagi lusa. Tekad itu Anda melakukan aksi nyata pada saat ini, bukan pada esok hari. Karena esok hari telah ada tekad baru lagi.
Tekad itu artinya malu.
Anda punya cita-cita, Anda menuliskan cita-cita, Anda mengabarkan cita-cita, namun Anda tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkannya? Tekad itu artinya Anda malu jika tidak melakukan usaha. Anda malu jika cita-cita tidak tercapai disebabkan kelalaian dan kelemahan diri Anda. Malu untuk malas, malu untuk berhenti, malu untuk menunda-nunda, malu untuk beralasan, malu untuk mundur dari gelanggang perjuangan. Malu jika buku yang Anda cita-citakan tidak menjadi kenyataan. Malu jika Anda hanya berangan-angan. Malu jika status diri Anda selalu menjadi calon penulis seumur hidup, karena tidak pernah menulis apapun.
Tekad itu artinya Anda menyelesaikan apa yang sudah Anda mulai.
Anda sudah mencanangkan cita-cita. Ingin memiliki buku sendiri, dan sudah memulai langkah untuk mewujudkannya. Anda sudah merancang, membuat skema penulisan, menyusun kerangka tulisan, mengumpulkan ide dan bahan. Anda sudah mulai menuliskan bagian demi bagian. Tekad itu artinya Anda harus menyelesaikan apa yang sudah Anda mulai. Tekad itu artinya Anda tidak mundur ke balakang, tidak lari dari zona waktu menulis (ZWM) yang sudah Anda tetapkan. Tekad itu artinya Anda terus menerus membuat progres kemajuan. Jika tak bisa berlari, Anda harus berjalan. Jika tak mampu berjalan, Anda harus merangkak. Namun harus ada progres untuk mencapai cita-cita, hingga selesai.
Tekad itu artinya never give up.
Menulis, pasti ada kendala dan hambatan. Kadang terkait ide dan inspirasi, kadang terkait referensi, kadang terkait alur dan sistematika tulisan, atau terkait teknik penulisan. Bahkan kadang terkendala oleh sarana, dan paket data serta pulsa. Bahwa ada kesulitan belajar, itu pasti dirasakan oleh semua orang yang tengah belajar. Tak ada belajar yang lancar-lancar saja, pasti ada kesulitannya. Tekad itu artinya Anda tidak menyerah oleh karena banyaknya kesulitan, kendala dan hambatan dalam pembelajaran. Tekad itu artinya Anda siap menghadapi dan mencari solusi atas setiap tantangan dan hambatan dalam mewujudkan cita-cita, harapan dan keinginan.
Sekarang nyatakan, sebesar apa tekad Anda?
Bahan Bacaan
Thomas Babila Sama, Determination is The Key to Success, www.jylkkari.fi,1 Februari 2010
Whitney Carter, Why Writers Need Determination, www.ryanlanz.com, 18 Juli 2017

Bismillah
Saya menulis, sekarang juga
Yup. Start again!
yess… semangat bang….
Bismillah. Semoga dimudahkan dan diberkahi….
Mantap!! Tekad itu lakukan sekarang, alhamdulillah sudah hari ke 12 pagi ini bareng SHSB
Terimakasih pak Cah jalan menuju buku impian perlahan nyata adanya
alhamdulillaaah… lanjut mbak Novita…
Tekad itu sesuatu banget, gamblang pak Cahy T menjelaskan. Tekad ada kontinutas progres kemajuan dan tidak rapuh menghadapi hambatan. Ujian itu sebagai pemantik progers kemajuan. Setiap hari menu sarapan pagi sangat lenyat. Sayang jika dilewatkan, selalu kutunggu habis subuh siraman rohani dari ustadz Cahy T. Semoga kesehatan dan kasih sayang Alloh tercurah pada ustdaz sekeluarga. Begitu ku baca karya-karyanya, aku merasa dekat dan mampu bercakap- cakap dengan Beliau. Ingin, segera untuk mempraktekkan santapan pagi ini.
alhamdulillah… mari terus menulis mbak maryati…
Salam hormat dariku, wong yogya asli
Alhamdulillah jadi terinspirasi “Tekad” untuk menulis
ayuuuk menulis sepenuh tekad mbak….