Serial Self Editing – 2
Oleh : Cahyadi Takariawan
Salah satu penyakit tulisan adalah, tak ada isinya –yang bermanfaat. “Hanya gelembung dan busa-busa, tanpa isi apa-apa” –Hannah Frankman
.
Mengedit adalah usaha menjadikan tulisan layak dan enak dibaca. Layak dibaca karena memberi kemanfaatan. Layak dibaca karena memberikan pengalaman berkesan.
Apa kriteria tulisan yang layak dan enak dibaca? Berikut beberapa kriteria tulisan layak dan enak dibaca, dari perspektif positive writing.
- Tulisan yang ada ‘isinya’
Tulisan disebut enak dibaca, apabila ada ‘isinya’. Pembaca mendapatkan sesuatu yang bermakna. Mungkin pengetahuan, mungkin suatu informasi, mungkin menghasilkan inspirasi, memotivasi, atau mendapatkan hiburan. Pembaca merasa tidak sia-sia mengalokasikan waktu untuk membaca tulisan kita.
Saya terinspirasi oleh ungkapan Hannah Frankman (2017) berikut:
“One of the worst things on any news feed is an article that says nothing. They’re shockingly common. So often people just write fluff”.
Salah satu penyakit tulisan, menurut Hannah, adalah tak ada isinya –yang bermanfaat. Hanya gelembung dan busa-busa, tanpa isi apa-apa. Maka editlah dari sisi isi, pastikan memang ada isinya. Ada manfaatnya.
Bukan sekedar kumpulan kata-kata tanpa makna. Apalagi kalau sampai menebar hoaks dan racun yang membahayakan pembaca.
- Memenuhi prinsip kebenaran dan etik
Tulisan akan enak dibaca apabila memenuhi prinsip kebenaran dan prinsip etik. Sebagai penulis, Anda harus memastikan bahwa tulisan Anda benar dan etis. Jangan menulis hal yang salah, menyimpang, serta tidak etis.
Yang dimaksud dengan prinsip kebenaran, bahwa isi tulisan Anda benar secara perspektif agama, dan benar secara hukum positif. Benar secara perspektif agama, bahwa tulisan Anda tidak bertentangan dengan keyakinan agama.
Sebagai umat beragama, kita menjunjung tinggi kebenaran yang bersumber dari ajaran Ketuhanan. Meski ada perbedaan agama, namun masing-masing memiliki keyakinan yang harus dihormati dan tak boleh dilanggar.
Benar secara hukum positif, artinya tulisan Anda tidak tidak melanggar Undang-Undang, Peraturan ataupun konsensus yang berlaku. Jangan sampai isi tulisan Anda melanggar aturan dan konsensus negara, karena bisa terkena konsekuensi hukum. Misalnya, terancam pasal KUHP ataupun UU ITE.
Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip etik, bahwa tulisan Anda hendaknya memenuhi nilai kepatutan. Misalnya, penggunaan istilah atau sebutan, hendaknya mempertimbangkan kepatutan. Jangan menggunakan istilah yang tidak etis. Jangan menggunakan sebutan yang tidak patut.
Demikian pula, hendaknya tulisan Anda tidak menebar kebencian dan permusuhan di tengah masyarakat. Tentu saja Anda berhak menulis kritik, namun tetap dalam bingkai akademik dan etik. Bukan kritik yang emosional sehingga menebarkan perpecahan.
- Secara isi, telah sesuai dengan apa yang Anda inginkan
Sebagai penulis Anda harus memastikan, bahwa semua isi tulisan Anda sudah sesuai dengan apa yang Anda kehendaki. Kadang ada salah tulis yang mengubah makna secara signifikan. Anda harus jeli mengeditnya.
Misalnya, Anda ingin mengatakan bahwa “Sebagai insan beriman, kita tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita”. Namun, karena kurang teliti dalam menulis, kalimatnya menjadi “Sebagai insan beriman, kita boleh menjelek-jelekkan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita”.
Lihat, hanya karena kurang kata “tidak”, isinya sudah berbeda 180 derajat. Padahal, itu adalah kelalaian, karena tidak teliti dalam menulis. Inilah pentingnya mengedit, sebelum mempublikasikan tulisan.
- Secara teknis, tidak ada kesalahan penulisan
Salah ketik atau salah tulis adalah hal yang wajar dalam proses menulis. Apalagi ketika menulis dengan smartphone yang berukuran relatif kecil, sementara Anda termasuk kelompok pemilik jari-jari yang besar. Pasti sering typo.
Tak apa typo dan salah ketik, namun yang penting Anda luangkan waktu untuk mengedit tulisan Anda sendiri. Usahakan tidak ada lagi salah ketik yang sampai mengganggu kenyamanan pembaca.
Perhatikan tulisan ini. “Waktu yang disediakan kutang lama”. Jika itu bagian dari chat di grup WA, pasti akan ramai dikomentari teman-teman grup. Mereka akan fokus pada kata “kutang lama”, dan mengacaukan esensi pesan yang disampaikan. Satu huruf yang mengacaukan konsentrasi pembaca.
- Tidak dijumpai penulisan yang mengganggu kenyamanan membaca
Salah satu gangguan kenyamanan membaca artikel adalah ketika banyak dijumpai singkatan. Jika Anda terlalu sering menulis untuk chatting di grup, akan terbiasa dengan menyingkat pesan. Hal ini menjadi tidak nyaman jika dibiasakan dalam menulis artikel yang akan diposting di media, baik web, blog, apalagi jika di media cetak, termasuk buku.
Sbh tlsn yg trll bnyk mnggnkn sgktn, akn membt pmbc mrs tdk nymn utk mnrskn bcan. Krn sln it bs mmnclkn plg trjdny kslhn pmhmn, jg mnmblkn ksn And org yg sngt mls. Mk pmbc akn brksmpln, utk ap mmbc tlsn org mls kyk gn. Mndg tdr sj.
Nah, contoh tulisan di atas sangat mengganggu pembaca. Bahkan bisa membuat marah pembaca. Maka hindari berbagai teknik penulisan yang bisa mengganggu kenyamanan pembaca.
- Telah sesuai dengan PUEBI dan KBBI
“Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar”, demikian bunyi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, pasal 1.
Oleh karena itu, tulisan Anda perlu disesuaikan dengan standar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Demikian pula, hendaknya kosa kata yang Anda gunakan telah sesuai dengan standar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Karena KBBI adalah standar kebakuan kata yang menjadi pedoman berbahasa.
Sebenarnya, sebagai penulis Anda tidak harus menguasai PUEBI maupun KBBI. Meski demikian, sangat bagus kalau Anda menyediakan waktu untuk sedikit belajar PUEBI dan KBBI agar bisa melakukan editing sendiri.
Tentu saja editing yang Anda lakukan tidak harus sangat ketat memenuhi PUEBI dan KBBI. Jangan sampai Anda terbebani dengan aturan PUEBI dan KBBI sampai tidak berani menulis karena takut salah.
Lakukan penyesuaian semampu Anda, nah ini biar ringan di hati Anda. Sebab kalau Anda mengedit dengan penuh beban, yang akan Anda hasilkan juga beban.
- Tulisan lancar mengalir saat dibaca
Sebagai penulis, Anda perlu memastikan bahwa tulisan Anda lancar mengalir saat dibaca. Terkadang Anda merasa, tulisan melompat-lompat, tidak sistematis. Mungkin juga tulisan Anda seperti terputus-putus, tidak lancar. Ini bisa Anda rasakan saat membaca ulang semua naskah yang selesai ditulis.
Jika Anda merasa belum lancar mengalir, mungkin bisa Anda pertimbangkan untuk menambah atau justru mengurangi kata, kalimat, bahkan paragraf. Bahkan kadang harus membuang kalimat tertentu atau memotong paragraf. Ini agar keseluruhan tulisan terasa lancar mengalir.
Namun ini Anda lakukan sesuai kemampuan saja, semua harus berproses. Jangan menuntut kesempurnaan pada tulisan Anda sendiri. Makin sering Anda menulis, akan semakin lancar mengalir. So, santai saja Bro, jika hasil editan Anda sendiri masih belum sempurna.
Bersambung.
Bahan Bacaan
Ella Yusuf, Jadi Editor untuk Tulisan Sendiri? Bisa Kok! www.kompasiana.com, 17 Juni 2015
Hannah Frankman, Six Rules for Writing a Good Article, http://hannahfrankman.com, 13 Desember 2017
Rahajeng Mufid, Self Editing, Mengedit Tulisan Sendiri, Ebook, Wonderful Publishing, 2020

Alhamdulillah….terimakasih Pak Cah motivasi pagi ini….mudah mudahan saya bisa.
Assalaamu’alaikum
Alhamdulillah, Pak Cah dan bu ida, terima kasih.
Tulisan yang Menambah pengetahuan saya sebagai bekal mengedit tulisan agar berisi, tidak banyak singkatan, apalagi typo.
Jazakumullahu khair.
Jazakumullah khoiron katsiro pak Cah dan bu Ida
selalu pas dg yg dibutuhkan
Alhamdulillah telah mendapatkan ilmu kepenulisan yang kian hari kian melengkapi untuk menulis kebermanfaatan.
Terima kasih maturnuwun sanget ustaz Cahyadi Takariawan semoga sehat, dan berkah selalu..
Terima kasih.
Kita diberi kesemparan untuk belajar edit kan bu?
Trimakasih, matur nuwun sanget …
Selalu tambah wawasan dalam menulis….sehat selalu pak Cah dan ibu.