Serial Self Editing – 1
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Perlukah sebuah tulisan diedit? Jawabannya jelas, sangat perlu –apabila tulisan tersebut akan dipublikasikan. Lewat media apapun Anda publikasikan, tulisan wajib Anda edit. Namun jika tulisan itu tak hendak Anda publikasikan, tak ada perlunya Anda mengedit.
Mengapa ada tulisan yang tidak dipublikasikan? Tentu ada banyak alasan. Di antaranya, karena hanya untuk catatan pribadi, atau karena untuk katarsis, relaksasi, atau hanya untuk latihan menulis agar makin lancar.
Selesaikan Menulis, Baru Mengedit
Penting untuk selalu saya ingatkan, bahwa Anda harus memisahkan antara aktivitas menulis dengan aktivitas mengedit. Karena ini adalah dua pekerjaan yang berbeda. Jangan Anda campuradukkan.
Yang membuat Anda merasa sulit adalah ketika Anda melakukan editing pada saat menulis. Dampaknya, menulis menjadi tersendat, tidak lancar, dan terasa sulit. Padahal menulis itu pekerjaan mudah, apabila tidak Anda campur dengan mengedit.
Maka selesaikan dulu proses menulis, agar Anda merasakan kemudahan dalam menulis. Setelah selesai, barulah Anda mengedit tulisan. Apalagi ketika Anda belum menulis sudah mengedit, nah ini tindakan paling konyol dalam dunia tulis menulis.
Sekali lagi, pisahkan pekerjaan menulis dengan pekerjaan mengedit. Selesaikan terlebih dahulu tulisan Anda baru Anda mengeditnya. Jangan mencampuradukkan aktivitas menulis dengan aktivitas mengedit tulisan.
Self Editing, Mengedit Tulisan Sendiri
Menulis adalah aktivitas mengungkapkan isi pikiran dan membiarkannya mengalir sesuai pikiran Anda. Karena itu, menulis menjadi mudah. Agar tulisan Anda menjadi berkualitas, perlu adanya proses pengeditan.
Yang sangat penting untuk Anda edit adalah isi atau substansi. Ini yang disebut sebagai substansial editing. Anda harus memastikan bahwa secara substansi, tulisan Anda sudah sesuai dengan yang Anda harapkan. Sudah sesuai dengan tujuan penulisan. Ini kewajiban penulis.
Sebagai penulis, Anda tidak harus menguasai PUEBI dan KBBI. Namun karena Anda harus mempertanggungjawabkan substansi, maka harus mau melakukan self-editing. Semua resiko akibat tulisan yang dipublikasikan, menjadi tanggung jawab penulis. Inilah mengapa tulisan harus diedit oleh penulis secara substansi, sebelum dipublikasikan.
Biasanya, mengedit tulisan itu lebih sulit dibandingkan menulis. Proses editing memerlukan pemikiran dan pengetahuan yang komprehensif, sikap teliti, cermat dan hati-hati. Harapannya menghasilkan tulisan yang bermutu dan bermanfaat bagi diri penulis maupun orang lain.
Kadang Anda sangat ingin bisa mengedit tulisan sendiri, tapi begitu mulai sering buntu di tengah jalan. Bahkan kadang muncul pikiran bahwa tulisan sudah tidak ketolong –tak bisa diselamatkan lagi. Akhirnya mood hancur dan ujung-ujungnya, boro-boro mau diedit, dibaca lagi saja rasanya sudah malu.
Sebenarnya Anda hanya perlu belajar untuk bisa mengedit tulisan sendiri. Pada intinya, semua yang dilakukan oleh editor adalah upaya untuk menjadikan naskah layak dan enak dibaca.
Bantuan Editor Profesional
Terkadang Anda memerlukan bantuan editor profesional untuk mengedit naskah yang Anda miliki. Terutama untuk naskah panjang, yang akan Anda cetak menjadi buku. Atau naskah akademik yang akan Anda jadikan sebagai rujukan pembelajaran.
Editor yang bekerja profesional, akan membantu Anda dalam menyajikan tulisan dengan kualitas yang bagus. Saya selalu teringat candaan budayawan Sapardi Djoko Damono, “Kalau sampai tulisan saya jelek, yang salah editornya”.
Editor profesional bekerja tidak hanya melakukan penyesuaian dengan PUEBI dan KBBI. Namun mereka membongkar beberapa bagian dari naskah Anda apabila dinilai masih berantakan. Editor mengupayakan tulisan Anda menjadi enak dinikmati oleh pembaca.
Ini yang disebut sebagai mechanical editing. Mengedit secara mekanik, agar tulisan enak dibaca. “Tidak malu-maluin”, kira-kira demikian gampangnya. Maka semua buku saya diedit oleh editor profesional. Agar tidak malu-maluin.
Untuk tulisan yang saya posting harian di blog, cukup saya edit sendiri. Karena hanya pendek. Masih mudah mengedit untuk tulisan pendek. Namun untuk buku yang dipublikasikan luas, harus saya berikan kepada editor profesional. Sekali lagi, agar tidak malu-maluin.
Selamat berkarya, selamat mengedit, selamat menginspirasi.
Bersambung.
Bahan Bacaan
Ella Yusuf, Jadi Editor untuk Tulisan Sendiri? Bisa Kok! www.kompasiana.com, 17 Juni 2015
Hannah Frankman, Six Rules for Writing a Good Article, http://hannahfrankman.com, 13 Desember 2017
Rahajeng Mufid, Self Editing, Mengedit Tulisan Sendiri, Ebook, Wonderful Publishing, 2020

Ilmu kepenulisan yang sangat berguna agar menjadikan tulisan kita bisa dipertanggungjawabkan secara moril dan materil. Terimakasih Pak Cah
Apakah menjadi editor harus menempuh kursus atau sejenis?