.
Oleh : Khuriyatul Ainiyah
.
Bagi Mak-mak yang ingin mempunyai buku solo tepat sekali mengikuti kelas EPK Emak Punya Karya, karena di sana tertantang untuk bisa menerbitkan buku. Diharapkan setiap peserta menyetorkan progress tulisannya setiap hari.
Masuk pertama diawali dengan menyimak E-book dan juga meresumenya, untuk dilaporkan admin sebagai tugas individu. Ada lima kali zoom meeting bisa ketemu dengan Pak Cah sebagai mentor, berikut sesi tanya jawab yang akan dipandu oleh host yang imut dan kalem yaitu Kak Kuni.
Dari E-book itu kita dapat pelajaran banyak hal salah satunya bagaimana kita mendapatkan ide menulis. Pak Cah menyampaikan ide menulis tidak usah mencari jauh-jauh, cukup dari kita sendiri, dari pengalaman yang paling mengesankan, dari cerita orang lain, atau setelah mendengarkan kuliah umum dan lain-lain.
Semua dapat menjadi ide dalam menulis. Feelingku mengatakan aku telah menemukan ide menulisku yaitu dari kejadian yang mengesankan yang telah aku alami. Yaitu terjadinya kecelakaan pada suamiku delapan tahun yang lalu.
Setelah kuajukan outline, pak Cah langsung menyetujui. Bahkan dari outline yang aku ajukan Pak Cah telah menemukan judul untuk bukuku. Luar biasa aku merasa bangga dan tersanjung karena dengan mudahnya menemukan judul yang diambil dari sebuah Hadist Nabi.
Al-Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi saw karena satu keperluan. Setelah selesai dari keperluan tersebut, Rasulullah saw bertanya.
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Ya, sudah.”
“Bagaimana sikapmu terhadap suamimu?”, tanya Nabi saw.
Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”
Rasulullah saw bersabda, “Fanzhuri Aina Anti Minhu, Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.”
(HR. Ahmad, 4:341 dan selainnya. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1933)
Dari hadist di atas Pak Cah menemukan kalimat “Fandzuri Aina Anti” kiranya tepat untuk menjadi judul bukuku, karena sesuai dengan out line yang telah kuajukan. Padahal untuk membuat judul pak Cah selalu menyampaikan, “judul itu terahir saja mak, karena terkadang kita sulit untuk menemukannya, memerlukan chemistry jiwa dulu”, jawabnya ketika ada salah satu peserta yang bertanya di tengah-tengah menyampaikan materi.
Terkadang tulisan telah selesai, namun judul belum ditemukan. Karena judul memang harus menarik dan menggambarkan isi dari sebuah buku. Sepintas judul “Fandzuri Aina Anti” seperti sebuah nama, sontak saja ketika ada beberapa teman yang menemukan judul bukuku dia menanyakan, “Itu anak nomor berapa Mbak?”
He he kujawab malu-malu, ”Waduh itu bukan nama anakku mbak, tapi dari Bahasa Arab yang artinya “Lihatlah, di manakah keberadaanmu (di hadapan suamimu)”. Dan Alhamdulillah judul itu sudah klik dengan hatiku.
Bismillah, mulailah aku tuliskan Komitmen aksiku bahwa harus menulis ketika jam 13.30 WIB sampai jam 14.30 WIB. karena setelah jam 15.00 WIB aku harus mengaji dengan anak-anak di TPA. Waktu satu jam yang aku punya benar-benar kumanfaatkan.
Waktu dimana aku harus mengorbankan tidur siangku yang selama ini kulakukan. Sepulang mengajar aku salat dan makan, selanjutnya segera membuka laptop di pojok kamar lengkap dengan telenan sebagai alasnya. Maklum aku tak punya meja yang nyaman untuk menulis.
Satu-satunya yang bisa membantuku untuk menulis adalah telenanku. Kedengarannya norak memang. Tapi tunggu dulu, itu kulakukan karena telenan lebih rendah dari ranjang tempat tidurku. Aku menulis dengan duduk di lantai tepat disamping ranjang sambil meninabubukkan anakku yang masih balita. Tangan kananku menulis dan tangan kiriku mengusap-usap kaki anakku sebagai penghantar tidurnya.
Sedangkan di malam hari mulai jam 09.00 WIB sampai jam 23.00WIB, tepat setelah anakku tidur, kalaupun sampai jam itu belum tidur maka aksiku sama, sambil memainkan jemari tangan kananku di lap top tangan kiriku mengayuh sebagian badan anakku. Maklum usia balita kalau tidur tidak ditemani mama rempongnya gak akan bisa tidur, pasti merengek dan ujung-ujungnya….tau sendiri seperti apa.
Sedangkan komitmen diriku, harus bisa melaporkan 5000 – 6000 karakter. Itu yang selalu teman-teman lakukan sebagai progres laporannya. Namun tidak demikian dengan aku, karena kebodohan dan keterbatasanku dalam dunia menulis bahkan aku tidak tau apa arti dari karakter. Setiap kali Pak Cah menanyakan dalam group : “Ayoo Mak… mana progresnya… lanjut sampai 6000 karakter”.
“Mak deg… aku, Waduh apa itu karakter, mau nanya di group kok, malu-maluin, masa karakter aja gak tau. Malu dong sama mak Sri dan mak Janah…yang aku tau karakter kan watak masa tulisan mempunyai watak” tanyaku dalam hati.
Ahirnya aku memilih untuk melaporkan dengan hitungan kata. Ya aku berkomitmen dengan melaporkan minimal 1000 kata setiap hari. Lalu dari mana aku tau itu berapa kata atau berapa karakter, akhirnya kubuang rasa malu dan kutanyakan pada anakku.
“Dik dari mana tu Mak-mak kok tau berapa karakter atau berapa kata” Tanyaku pada anakku di tengah-tengah pembelajaran daringnya di rumah.
“O itu, Mama cari aja di “review” nanti ada tulisan ABC, mama klik aja nanti akan muncul word count”, jawab anakku sambil menunjukkan kearah lap topku
He he… Ooalah… Mamamu memang ndeso… moso ngene wae gak tau… hi hi hi, ucapku dalam hati. tak apalah wong memang aku masih belajar kok. Kalau dah pinter, aku lo gak sinau nulis Online.
.
Tuban, 29 Desember 2020
Pojok Telenan
