20 September 2026

.

Oleh : Khuriyatul Ainiyah

.

Tak terbayang olehku untuk menjadi penulis, bahkan bermimpi pun tak berani. Mengapa? Karena untuk menjadi penulis pun harus punya modal. Salah satunya gemar membaca. Membaca buku, koran, majalah atau apa saja yang penting membaca. Bagaimana aku bisa membaca wong buku saja aku juga gak pernah ada. Dari mana aku punya buku.

Seingatku selama aku sekolah juga tidak pernah pinjam buku perpustakaan. Apa karena malas membaca, ataukah lingkungan kurang mendukung? Atau kurang pengalaman, dan memang tidak ada perpustakan di sekolah. Yang kuingat pelajaran di sekolah  banyak hafalan, karena sekolahku semi salaf jadi bagaimana mungkin membaca buku selain  pelajaran, jika tiap hari harus menghafal.  

Aku terlahir dari keluarga kurang mampu. Bahkan untuk beli buku tulis setiap tahun ajaran baru saja aku siasati. Lembaran buku tulis yang masih kosong aku gunting, setelah kira-kira dapat 30 halaman aku steples dan aku sampul dengan rapi sehingga layak kugunakan sebagai buku catatatn. Jika setiap kenaikan kelas harusnya beli dua dosin buku tulis sidu,  aku cukup beli 1 dosin saja.  Karena yang separonya aku dapat dari buku-buku yang sudah tidak terpakai.

Pernah suatu saat  Pak guruku bilang, “Apa bukunya bikin sendiri?“ tanyanya dengan nada kurang setuju.

“Ya Pak,” jawabku malu-malu campur dongkol.

“Kenapa juga ngurusi bukuku, yang penting aku punya catatan beres to” batinku dengan nada kesal.

Sedangkan untuk buku-buku paket aku cukup pinjam dari kakak kelas, otomatis bukunya bisa kumanfaatkan. He he irit kan? Bukan tanpa sebab, semua kulakukan karena aku tidak ingin membebani kedua orang tuaku. Mengingat aku masih punya tiga orang adik yang masih membutuhkan biaya, sedang aku anak pertama dari empat bersaudara.

Yang kuingat ketika duduk di bangku Aliyah aku  pernah menulis cerita. Mungkin kalau sekarang aku menyebutnya cerbung, karena cerita itu panjang sekali. sepulang sekolah aku menulisnya setiap hari, hingga 3 buku SIDU berisikan 38 lembar habis.

 Waktu itu kusimpan rapat di glodok meja belajarku. Aku malu jika tulisan itu terbaca oleh orang lain. Kapan berahirnya aku menulispun aku tidak ingat. Mungkin ketika sudah banyak kegiatan di OSIS sehingga aku tidak pernah menulis lagi, ketika itu mungkin tahun 90an.

Saat ini aku dipertemukan dengan situasi pandemi. Sebuah kondisi yang Allah ciptakan untuk seluruh umat di jagat raya ini. Keadaan dimana semua orang harus dalam kondisi terjaga dan menjaga kesehatan. Allah menciptakan  musibah dimana datangnya sebuah penyakit yang belum ada obatnya.

Ketika Allah berkehendak maka apapun tak akan bisa menghalanginya. Subhanallah… Situasi yang menuntut semua orang untuk menjaga protocol kesehatan. jaga jarak, dilarang berkerumun, pakai masker dan cuci tangan pakai sabun.

Aktivitas pun nyaris lumpuh alias lockdown. Termasuk sekolahpun dilarang tatap muka. Demikian juga kegiatanku nyaris berhenti total, mulai mengajar di SD, ngaji di TPA, ataupun kegiatan lain. seiring dengan berjalannya waktu, ada kebijakan dari pemerintah untuk melakukan pembelajaran lewat daring. Sebagai guru ada tugas-tugas yang harus kulaksanakan. Termasuk browsing  materi dan juga perangkat pembelajaran dalam daring.

Di tengah-tengah pencarian itu tanpa sengaja  ketika kubuka FB, kutemukakan kelas menulis Online. Kucoba membukanya dan kutemukan petunjuk jika ingin mengikuti kelas menulis itu untuk daftar terlebih dahulu dengan mentranfer sejumlah uang.

Alhamdulillah setelah kulakukan pendaftaran sesuai petunjuk, ahirnya aku tergabung dalam Kelas Menulis Online bacth 34. Aku telah masuk dalam group dan bertemu dengan teman-teman senusantara. Dalam group disampaikan akan diberikan video pembelajaran yang wajib disimak sebagai pembelajran menulis sekaligus meresume apa yang ada dalam video tersebut.   

Aku sangat bersyukur berkesempatan dipertemukan dengan mentor menulisku, Pak Cah sapaannya. Aku sangat terkesima dibuatnya, cara penyampaiannya yang santai, runtut, dan mudah dimengerti. Tanpa bertanyapun aku yakin semua peserta di KMO sangat paham, itu terbukti resume-resume yang menjadi tugas mingguannya diselesaikan setiap  peserta sesuai  waktu yang  ditentukan.

Di tengah-tengah mengikuti KMO aku mendapat undangan launching buku perdana EPK Emak Punya Karya yang juga dimentori oleh Pak Cah. Kuluangkan waktu  untuk mengikutinya.

Luar biasa dari tiga emak-emak yang telah menghasilkan karya. Aku menjadi tertantang bahkan ada magnet yang menggerakkanku untuk mengikuti EPK. Yang lebih menggembirakan lagi diakhir acara diumumkan dan dibuka EPK 2 dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri pada mbak Kuni Admin EPK.

Alhamdulillah setelah masuk di group EPK, luar biasa… mereka yang kami anggap senior menyapaku. Mak Sri, Mak War, Mak Janah, Mak Herlin dan Mak-mak lainnya saling memotivasi.  Guyonan ala mak-mak sering ditonjolkan dengan khas mereka masing-masing. Aku merasa murid baru dalam kelas itu. Karena aku baru mengenal dunia menulis sejak ikut di KMO saja, yang sebelumya belum pernah mengikuti kelas menulis apapun.

Oya perlu kujelaskan juga  di EPK semua panggilannya Emak, baik yang masih lajang ataupun yang sudah berpasangan. Sapaan yang asyik menambah keakrapan kami walaupun kami tidak mengenal latar belakang masing-masing, namun seakan kita sudah menjadi satu atap dalam pembelajaran menulis. Apalagi setiap pagi selalu ada postingan ilmu menulis dari pak Cah, yang kuanggap sebagai sarapan pagi untuk kami para Emak-emak rempong

Aku sangat bangga dan bahagia dipertemukan dengan sosok penulis hebat, seperti Pak Cah. Aku yakin ini sebuah petunjuk yang Allah atur untuk kami sebagai peserta EPK. Walaupun pembelajaran lewat virtual namun telah menuai karya, sebuah buku solo “Fandzuri Aina Anti” telah terbit.

Jazakalloh Pak Cah…

.

Pojok Telenan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *