.
Oleh : Sari Handayani, ID – 03201 EEPK 2020
.
Awalnya saya iseng lihat-lihat info di Facebook. Saya sudah me-like akun Facebook Pak Cahyadi Takariawan. Saya menemukan iklan / flyer belajar menulis di akun tersebut.
Dibaca-baca, wah…. Narasumbernya bapak Ustadz terkenal. Ikutan ah, sayang kalau ga ikutan nih. Kenapa saya mau ikut?
Karena menurut saya, menulis itu sangat rumit. Menulis merupakan pengekspresian sang penulis. Saya tidak bisa berekspresi. Suka mati gaya kalau bicara di depan orang.
Apalagi ada kesempatan belajar dengan penulis terkenal sekaligus seorang ustadz. Plus plus banget deh.
Setelah masuk pertemuan zoom, kaget luar biasa. Walaupun judulnya buat emak-emak tapi bukan sembarang emak-emak lho. Mereka luar biasa. Semangatnya membara. Mereka orang-orang yang aktif di bidangnya masing-masing. Yah, jadi minder deh.
Tapi support yang diberikan Pak Cah sangat luar biasa untuk semua emak yang kebingungan dan mengalami kesulitan. Beliau benar-benar sabar dan tahu cara mengatasi emak-emak yang super.
Pernah saya tanya “Kalau pengalaman sendiri dll sejujurnya saya masih suka minder kalau dibaca orang Pak Cah. Gimana supaya saya tidak minder?”
Entah kepedean atau memang jawaban, Pak Cah mengatakan, “Tulis saja, dan posting saja. Jika orang bilang tulisanmu jelek, jawab saja : ora patheken”.
Pak Cah mengatakan, istilah “ora patheken” itu dipinjam dari budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, saat beliau ditanya banyak orang mengapa tidak pernah masuk televisi? Dengan sangat yakin, Cak Nun menjawab, “Aku emoh mlebu tivi. Ora mlebu tivi ora opo-opo. Ora mlebu tivi ora patheken aku”.
“Saya tidak mau masuk televisi. Tidak masuk televisi tidak apa-apa. Tidak masuk televisi tidak membuat saya patheken”, begitu jawab Cak Nun. Patheken itu istilah Jawa untuk sejenis penyakit kulit[i]
Sejak itu, mungkin memang harus bersikap “ora patheken” terhadap omongan orang lain supaya kita bisa jalan terus, tidak berhenti karena omongan orang.
Bahagia sekali bisa belajar bersama emak-emak super dan berguru pada Bu Ida Nur Laila dan Pak Cahyadi Takariawan yang sangat inspiratif. Barakallahu fiikum.
[i] Patheken dari kata pathek. Yang dimaksud dengan pathek adalah penyakit frambusia atau puru (bahasa Inggris: yaws), yaitu infeksi tropis pada kulit, tulang dan sendi yang disebabkan oleh bakteri spiroket treponema pallidum pertenue. Kulit telapak tangan dan telapak kaki menjadi tebal. Setelah beberapa tahun, kulit bisa mati, meninggalkan bekas luka.
