19 September 2026

Oleh : Cahyadi Takariawan

Kapan Anda mulai bisa menyebut diri Anda sendiri sebagai penulis? Saya khawatir, Anda sudah banyak mengikuti Kelas Menulis, baik offline maupun online, sudah memiliki sertifikat Kelas Menulis, namun tetap saja Anda tidak pernah menyebut diri Anda sebagai penulis. Lalu kapan semestinya Anda menyebut diri Anda sebagai penulis?

Saya setuju dengan Chuck Sambuchino —-staf di Writer’s Digest Books, penulis buku Create Your Writer Platform— bahwa untuk menjawab kapan Anda mulai menyebut diri sebagai penulis? Maka jawabannya adalah, sekarang! Ya benar, sekarang. Jangan menunggu lain waktu, karena sesungguhnya Anda sudah memulai langkah menjadi penulis.

Jejak Proses Menjadi Penulis

Coba Anda inventarisir, langkah nyata, proses dan pengorbanan yang sudah Anda lakukan untuk menjadi penulis. Saya bantu Anda untuk menginventarisir. Pertama, mungkin Anda sudah mengikuti Kelas Menulis —baik offline maupun online. Ini jelas langkah nyata untuk menjadi penulis. Kedua, Anda sudah mengeluarkan biaya, tenaga, pikiran dan waktu untuk mengikuti pembelajaran menulis, baik secara formal maupun informal.

Ketiga, Anda sudah belajar menulis, sejak dari dari menggunakan Metode 30 MM, menulis untuk tugas selama mengikuti Kelas Menulis, menulis untuk buku diary, menulis rutin untuk postingan di media sosial, menulis untuk web dan blog pribadi, bahkan sebagian dari Anda sudah menulis untuk dikirim ke media massa. Ini jelas pengorbanan yang nyata, dan proses yang sudah on the track pada jalur kepenulisan.

Keempat, apalagi jika Anda suka menyimak postingan rutin saya di Rubrik Sastra Budaya pada website Lockdown 2020, maka ini adalah proses belajar yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Artinya, Anda telah melakukan proses belajar mandiri, dan sekaligus Anda memiliki mentor dalam menulis!

Jika Anda rutin menyimak tulisan saya di Rubrik ini, secara tidak langsung, Anda telah menjadikan saya sebagai mentor menulis Anda —yang jika Anda ditanya oleh seseorang, “Man mentoruka? Siapa mentormu?” — maka Anda bisa menjawab, mentor menulis saya adalah Pak Cah alias Cahyadi Takariawan. Lalu mereka bertanya lagi, emang siapa orang itu, kok bisa jadi mentor menulismu?

Maka jawab saja, Pak Cah itu —pengasuh Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, Penulis Buku Berbahasa Indonesia Terbaik 2006 Kemendiknas RI, founder Angkringan Penulis Indonesia (API), Senior Editor di PT Era Adicitra Intermedia, pengasuh rubrik Sastra Budaya di web Lockdown 2020, penulis 55 judul buku, Best People Choice Kompasiana 2014, kontributor 750 naskah di Kompasiana, kontributor 147 naskah di web Lockdown 2020, kontributor 144 naskah di web Ruang Keluarga, dll (nggaya dikit ah…., boleh ya…)

Nah, jadi Anda telah berada pada jalur yang benar untuk menjadi seorang penulis. Bahwa belajar adalah proses yang berkelanjutan, bahwa hasil karya tulis Anda terus berkembang, bahwa Anda merasa belum puas dengan pembelajaran Anda —maka itu adalah hal sama yang dirasakan oleh semua penulis, termasuk saya. Kapan kita merasa puas dengan hasil karya kita, saat itu kita jumud. Jika ingin terus berkembang, jangan pernah merasa puas. Dengan itu kita terus belajar dan berproses menjadi lebih baik.

Jadi, kapan Anda menyebut diri Anda sebagai seorang penulis? Jawabnya adalah, sekarang! Saya berharap Anda semakin mantap menjawab, bahwa mulai sekarang Anda mendefinisikan diri menjadi penulis. Sebab, untuk menyatakan diri sebagai penulis, tidak harus menjadikan menulis sebagai mata pencaharian atau sumber penghidupan. Seorang penulis amatir, penulis sosial, penulis karena hobi, penulis karena ingin terus menulis —adalah penulis.

Dua Konteks Menyebut Diri Sebagai Penulis

Sekarang simak saran Chuck Sambuchino, apa yang harus Anda persiapkan ketika Anda mulai menyebut diri Anda sebagai penulis. Menurut Sambuchino, ada dua konteks penyebutan diri sebagai penulis. Pertama, menyebut diri sebagai penulis kepada diri sendiri. “Now. Absolutely right now”, ungkap Sambuchino. “Tell yourself in the mirror before you brush your teeth, then again when you’re driving home from work”, ujarnya.

Katakan terus menerus dalam diri Anda, bahwa Anda adalah penulis. Saat bercermin sebelum gosok gigi, katakan bahwa Anda adalah penulis. Lakukan lagi ketika Anda pulang kerja, sesampai di rumah langsung berdiri di depan cermin sambil mengatakan kepada diri sendiri “Aku adalah penulis”, katakan lagi dan lagi. “Say it so many times that you get exasperated looks from your spouse”, sampai pasanganmu jengkel melihat kelakuanmu, ujar Sambuchino.

Ia meniru kebiasaan aktor Robert De Niro yang mengulang dialog puluhan kali sampai ia yakin dengan apa yang diucapkannya —sebelum syuting film. Maka katakan terus menerus kepada diri  Anda sendiri, bahwa Anda adalah seorang penulis. “That’s your goal: say it, then say it again until you believe it”. Sampai Anda yakin bahwa Anda adalah seorang penulis. Dengan demikian, Anda akan semakin bertanggung jawab atas pilihan diri sebagai penulis, bahwa Anda harus semakin rajin menulis.

Kedua, menyebut diri sendiri sebagai penulis kepada orang lain. “The answer to this question is also now — but this is a different matter altogether”, ujar Sambuchino. Alasan mengenalkan diri sebagai penulis kepada orang lain adalah untuk memberikan tanggung jawab kepada diri sendiri, bahwa Anda memang seorang penulis —yang layak disebut sebagai penulis oleh orang lain.

Namun siaplah menghadapi respon orang lain tatkala Anda mengenalkan diri sendiri sebagai penulis. “The first thing is your friends and spouse may have an irksome tendency to snicker or roll their eyes”, ujar Sambuchino. Bahkan suami atau istri Anda sendiri pun mungkin akan mengerenyitkan alis atau memicingkan mata saat mendengar Anda menyebut diri sebagai penulis. Mengapa? “The truth is that one cannot become a doctor or welder simply because they say they are. Such professions take degrees and certifications”, jawab Sambuchino.

Sebab ketika seorang mengenalkan diri sebagai dokter, apoteker, psikolog, akuntan, guru —dan lain-lain, mereka telah menempuh pendidikan dan memiliki sertifikasi sesuai profesinya. Penulis? Apa yang bisa Anda ceritakan —bahwa Anda adalah penulis? Beruntung jika Anda telah mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku dan telah mendapatkan sertifikat. Paling tidak Anda bisa menunjukkan bahwa Anda juga belajar untuk menjadi penulis. Di sisi ini, Anda telah bisa berbangga dan percaya diri, “Saya memiliki sertifikat”.

Miliki Jawaban yang Akurat

Bagaimana dengan yang tidak atau belum memiliki sertifikat? Maka Sambuchino memberi saran, agar Anda benar-benar menyiapkan jawaban, apabila ada orang bertanya, “What do you write? Apa yang Anda tulis?” Nah, Anda harus dengan percaya diri menjelaskan, apa  wujud karya tulis Anda. Jawablah dengan ringkas saja, namun akurat.

Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Saya menulis rutin melalui Facebook, dan mengikuti Program SHSB —Seratus Hari Satu Buku”. Ini adalah jawaban ringkas dan meyakinkan. Atau Anda bisa menjawab, “Saya menulis rutin di Kompasiana”, atau “Saya menulis rutin di web / blog pribadi”, atau jawaban apapun yang sesuai kebiasaan Anda masing-masing. Tentu tidak boleh berbohong. Bahkan ketika Anda baru memulai menulis dan meniatkan untuk rutin menulis, katakan apa adanya, namun penuh percaya diri.

Jadi, jangan malu untuk menyebut diri sebagai penulis, meskipun baru memulai. “But don’t forget that the sooner you start calling yourself a writer in private and in public, and the sooner you create a website and business cards, the sooner you will realize your career choice is a serious endeavor and demands your time and attention”, saran Sambuchino. Semakin cepat Anda menyebut sebagai penulis kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, akan semakin cepat pula Anda menyadari bahwa pilihan menjadi penulis adalah hal serius dan menuntut waktu serta perhatian Anda.

“And that is what will drive you to sit down, put in the hard work and create”, ujar Chuck Sambuchino. Identitas diri sebagai penulis inilah yang akan mendorong Anda untuk duduk, bekerja keras dan menciptakan karya tulis.

Bahan Bacaan

Chuck Sambuchino, When Can You Call Yourself A Writer? www.thewritelife.com, 4 Desember 2013

34 thoughts on “Kapan Mulai Menyebut Diri Anda Sebagai Penulis?

  1. Alhamdulillah terimakasih Pak Cahyadi atas motivasinya. Smg kami bisa terus berkarya melalui goresan tinta serta tarian jemari yang indah..Aamiin

    1. Dengan segudang prestasi yang sudah diraih Pak Cah, saya lagi-lagi merasa sangat beruntung karena dapat menimba ilmu/wawasan setiap hari dari beliau. Terima kasih Pak Cah.

  2. Terimakasih atas bimbingannya. Semoga selalu diberikan kesehatan untuk terus menginspirasi menjadi penulis.

  3. JazakAllah ahsanal jaza ustadz Cah yang sudah mau menjadi mentor dan terus membimbing kami. In sya Allah siap jadi penulis.

  4. Mau terus belajar agar tulisan semakin lancar. Terima kasih ilmunya Pak Cahyadi Takariawan.
    Oh ya….untuk ikut menulis seratus hari satu buku apakah perlu diberikan hastag? Dan apakah belum terlambat jika ingin bergabung?
    Terima kasih atas pencerahannya.

    1. hastag #SHSB #SeratusHariSatuBuku, ayuk bergabung Kak Dani… Mulai tanggal 1 Juni 2020 yaa….

  5. Saya dulu sering menulis di media cetak, baik koran mauoun majalah, pernah menulis 1 buku yg sudah cetak 2 kali, habis itu lama sekali tidak menulis lagi, bagaimana Cara agar menjadi penulis yg produktif tadz? Kalo mau intensif nerbitkan buku bagaimana caranya? Mohon saran tadz…

    1. ikuti program SHSB — SERATUS HARI SATU BUKU … keterangan lengkap ada di rubrik Sastra Budaya web ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *