.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Tulislah kebaikan, masa depan Anda dijamin sangat cerah” – Cahyadi Takariawan
.
Belum lama seorang penulis senior menulis kekecewaannya. Ia mengatakan, tidak mau mengajari orang untuk menjadi penulis. Tidak lagi mau membuat kelas-kelas menulis, baik offline maupun online.
Apa alasannya? “Karena masa depan penulis itu suram”, jelasnya. “Menjadi penulis, sulit untuk menjadi gantungan hidup. Tidak jelas penghasilannya”, demikian ungkapnya.
Blog Mojok.co pernah menyajikan hitungan penghasilan yang didapatkan oleh penulis dari buku yang ditulis. Jika seorang penulis menerbitkan buku di penerbit mayor, maka ia akan mendapatkan royalti sekitar 10%, yang dibayarkan per enam bulan.
Apabila buku dijual dengan harga 50 ribu, dan dalam waktu 6 bulan laku 3 ribu eksemplar, maka ia mendapat bagian royalti buku sebesar 10% x Rp. 50 ribu x 3 ribu eksemplar = Rp. 15 juta. Jika penjualannya konsisten, berarti mendapat Rp. 30 juta setahun.
Dengan hitungan bulanan, berarti ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 2,5 juta. Inipun dengan asumsi penjualan mencapai 3.000 eksemplar dalam 6 bulan. Sebuah penjualan sangat mungkin untuk buku yang bagus dan pemasaran yang handal.
Jika kualitas buku –dalam berbagai sisinya—kurang bagus, ditambah pemasaran yang lambat, maka tentu tak akan bisa mencapai jumlah 3.000 eksemplar dalam 6 bulan. Apalagi jika bukunya tidak laku, maka tidak ada royalti yang didapatkan.
MGB : Meaning, Goal, Benefit
Saya turut prihatin dengan keputusasaan yang dimiliki oleh penulis senior tersebut. Ia tidak mau mengajari menulis, karena penulis masa depannya suram. Minat baca masyarakat Indonesia belum bagus, apalagi di daerah-daerah. Ditambah dengan maraknya gadget beserta media sosial, membuat buku semakin tidak populer.
Tapi, apakah menulis dan menjadi penulis, selalu terkait dengan materi? Selalu terkait dengan kekayaan dan popularitas? Sehingga hitungan masa depan selalu dikaitkan dengan seberapa profit yang bisa dihasilkan dari menulis?
Saya memiliki pengalaman ruhani yang sangat berbeda dengan penulis yang putus asa tersebut. Pengalaman spiritual yang membuat saya meyakini, menulis adalah aktivitas menyehatkan, membahagiakan, dan memberikan jaminan masa depan.
Pertanyaan mendasar yang sering saya ajukan adalah soal MGB. Sebesar apa meaning (makna) menulis bagi Anda? Apa goal (tujuan) menulis yang Anda lakukan? Apa benefit (keuntungan, kebermanfaatan) dari menulis yang Anda inginkan? Semua dari kita, akan memiliki jawaban yang berbeda-beda.
Mengapa saya amat sangat bersemangat mengajari orang lain menulis –bahkan memacu banyak kalangan untuk menulis? Karena menulis, bagi saya memiliki makna yang sangat penting. Saya ingin memperpanjang usia kemanfaatan saya dengan menulis.
Bagi saya, masa depan penulis sangatlah cerah. Jika kita menulis kebaikan, kemudian kebaikan tersebut menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk melakukan kebaikan, maka pahala kebaikan mereka mengalir kepada penulisnya. Ini yang namanya pahala jariyah.
Saya gambarkan sebagai berikut. Jika tulisan kebaikan Anda menginspirasi dan memotivasi 3 orang untuk melakukan kebaikan atau menjauhi keburukan, lalu masing-masing dari 3 orang tersebut menginspirasi 3 orang lagi untuk melakukan kebaikan atau menjauhi keburukan, lalu setiap 3 orang ini menginspirasi 3 orang lagi… dan seterusnya.
Anda bisa menghitung, berapa banyak pahala kebaikan yang akan Anda dapatkan dari perjalanan kebaikan tersebut ke banyak orang. Nah, ketika kebaikan ini terus menerus dibaca dan disampaikan kepada orang lain, pahala kebaikannya akan terus menerus diberikan kepada sumber asalnya, yaitu Anda sebagai penulis.
Bahkan ketika penulisnya telah meninggal dunia, pahalanya terus menerus mengalir, tak ada habisnya. Maka kelak di akhirat ada orang yang terkejut dengan catatan kebaikannya. Ia merasa amalnya tidak banyak, lalu mengapa tertulis sedemikian banyaknya? Ternyata ada penambahan pahala rutin dari orang-orang yang terinspirasi.
Bukankah masa depan penulis kebaikan sangat cerah? Masa depan yang pasti diinginkan oleh semua manusia. Surga.
Dan kita yakin, surga itu indah. Surga itu cerah.
Bahan Bacaan
Mojok.co, Menghitung Penghasilan Seorang Penulis Buku, https://mojok.co, 16 Juni 2020

Benerrr
Terima kasih Pak Cah motivasi pagi ini…semoga saya memiliki niat yg baik dan insya Allah niatku menulis ingin mencari Ridha Allah…saya mulai paham MGB
Terima kasih banyak Pak Cah. Ini sangat menginspirasi para penulis tetap menulis kebaikan. Tabarakallahu.
Setuju sekali Ustadz. Menulis merupakan media menebar kebaikan yang sangat efektif.
Setuju Ustad ada kebahagian dan kebanggan tersendiri…merasa hidup terasa damai , waktu begitu berharga dan jadi dekat denganNya..
Masya Allah cita yg abadi membuat tak lelah menebar inspirasi. Dapat dunia, di akhirat in syaa Allah lebih bahagia.
Terima kasih Pak Cah
Masya Allah cita abadi yg membuat kuat, tak lelah terus menulis dan memotivasi. Barakallah, terima kasih Pak Cah
Betul pak, kita tidak akan hidup di dunia terus. Bukankan setiap orang sedang menuju jalan kwmbali kepada-Nya. Kebermanfaatan lbh utama syukur dapat profitnya. Trimakasih Pak Cah ilmunya.