20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Being a writer requires only one thing: actually writing” — Mel Lee-Smith, 2017

.

Saya tidak bercita-cita menjadi penulis. Lalu mengapa saya bisa menjadi penulis? Karena saya terus menulis. Setiap hari, saya selalu menulis. Sebagaimana pula setiap hari saya makan, tidur, dan aktivitas rutin lainnya.

Inilah yang dinyatakan oleh Mel Lee-Smith (2017), “Being a writer requires only one thing: actually writing”. Menjadi penulis itu sangat mudah, maka tidak perlu menjadi cita-cita. Karena semua orang bisa menjadi penulis. Jika Anda benar-benar menulis, maka Anda adalah penulis.

Jika memiliki beberapa buku karya Anda sendiri di masa lalu, kemudian Anda tidak pernah lagi menulis, maka Anda adalah mantan penulis. Jika Anda tidak punya buku karya sendiri, tidak juga buku antologi, namun Anda menulis setiap hari, maka Anda adalah penulis. Semudah itu untuk menjadi penulis.

Berbeda dengan profesi yang berbasis akademik. Jika ingin menjadi dokter, maka Anda harus kuliah dan lulus di Fakultas Kedokteran. Masih ditambah dengan internship setelah lulus kuliah, ditambah lagi uji kompetensi sebagai dokter. Dengan memiliki izin praktek, Anda baru bisa menjadi dokter.

Demikian pula profesi lainnya yang mengharuskan adanya kompetensi akademik, yang ditunjukkan dengan ijazah. Anda tidak bisa menjadi pengacara jika tidak kuliah sampai lulus di Fakultas Hukum, dilanjutkan kuliah di program Pendidikan Profesi Advokat, ditambah lagi magang. Anda juga harus memiliki izin praktek, baru bisa menjadi pengacara.

Langkah Nyata

Karena menjadi penulis itu mudah, cukup dengan cara menulis setiap hari, maka tidak perlu menjadi obsesi. Cukup melakukan tindakan nyata, membuat langkah-langkah yang memastikan Anda menulis setiap hari.

Berikut beberapa langkah nyata yang bisa Anda lakukan sehari-hari. Anda bisa memilih sesuai dengan situasi dan kondisi. Tapi –menulislah. Sebab dengan menulis Anda telah menjadi penulis.

  • Menulis 10 – 20 Kata Setiap Hari

Mungkin Anda merasa, menulis pendek lebih mudah daripada menulis panjang. Padahal belum tentu. Kadang menulis pendek lebih rumit dibanding menulis panjang, karena harus sangat memilih kata agar bisa membentuk makna.

Jika Anda ingin belajar menulis pendek, cobalah melakukannya. Anda cukup menulis 10 hingga 20 kata setiap harinya. Tentu isi tulisannya harus mengandung makna kebaikan. Tulisan ini bisa Anda posting di medsos setiap hari.

Apa yang bisa Anda tulis dengan 10 – 20 kata? Salah satunya adalah kata mutiara, nasihat singkat, atau quotes. Berikut saya beri contoh.

“Ketika hidupmu harus terus berjuang, bersyukurlah, karena sesungguhnya Allah tengah memberimu kesempatan untuk menjadi pemenang” (Wydiesti, Mendaki Sabar, Menjemput Syukur, DD Publishing, 2020).

Quotes di atas, terdiri dari 15 kata. Telah membentuk kalimat yang bermakna, dan memberikan inspirasi serta motivasi. Tulisan pendek, namun sangat kuat pesannya.

Nah, silakan Anda mencoba membuat tulisan satu atau dua kalimat pendek, terdiri 10 hingga 20 kata saja.

  • Menulis 100 Kata Setiap Hari

Jika Anda masih merasa sulit menulis yang panjang, tulislah yang pendek-pendek saja. Asalkan bermakna. Atau Anda sangat sibuk pada suatu hari, tidak memiliki cukup waktu untuk menulis panjang, tetaplah menulis. Buatlah tulisan yang terdiri dari 100 kata saja.

Seratus kata, bisa menjadi tulisan apa saja? Sangat banyak tulisan yang dibangun dengan 100 kata. Anda bisa membuat puisi, cerpen mini, kisah humor, santapan ruhani, bahkan artikel mini.

Berikut saya ambilkan artikel dari blog Artikel 100 Kata www.artikel100kata.com, dengan sedikit edit tanpa mengubah makna. Jika Anda hitung dengan wordcount, akan muncul informasi artikel ini terdiri dari 100 kata.

Sejarah dapat memberikan gambaran dan menjadi pedoman bagi suatu bangsa untuk melangkah dari kehidupan masa kini ke masa depan. Pengalaman suatu bangsa di masa lampau merupakan sejarah yang berharga pada masa kini.

Tujuan mempelajari sejarah hukum adalah untuk mengetahui latar belakang lahirnya dan perkembangan tata hukum di Indonesia. Termasuk faktor-faktor yang memengaruhi dan langkah-langkah yang dilakukan untuk membangun tata hukum Indonesia.

Dengan mempelajari sejarah hukum, dapat diketahui kelemahan dan keunggulan hukum yang pernah berlaku. Hal ini diperlukan dikarenakan hukum masa lalu memberi andil terhadap hukum saat ini. Demikian pula sebaliknya, hukum yang berlaku saat ini memengaruhi hukum yang akan datang. 

Cukup pendek bukan? Paati tidak sulit Anda melakukannya.

  • Menulis 200 Kata

Jika Anda merasa terlalu terbatasi oleh 100 kata, sekarang Anda bisa menulis setiap hari 200 kata. Ini akan membuat Anda lebih leluasa dalam menyampaikan pesan.

Apa yang bisa Anda tulis dengan 200 kata? Tentu lebih banyak lagi pilihannya. Anda juga bisa membuat puisi, cerpen mini, kisah humor, santapan ruhani, atau artikel pendek.

Berikut saya cuplikkan artikel hikmah dari blog www.hidayatullah.com, berjudul “Delapan Bekal untuk Para Pemimpin”, yang diposting pada 3 Desember 2015. Sengaja saya ambil hanya 200 kata, untuk menjadi contoh.

Al-Ahnaf bin Qais, nama aslinya adalah Shakhr. Sedangkan Ahnaf (si kaki bengkok) adalah julukan.

Beliau pemimpin terkemuka Bani Tamim. Beliau telah berkali-kali memimpin peperangan dan meraih kemenangan di wilayah Persia sejak masa khalifah Umar. Kepemimpinan dan kesantunan adabnya menjadi legenda turun temurun.

Secara fisik, Al-Ahnaf benar-benar unik. Ia adalah lelaki bermata juling seolah terhalang gerhana, sangat buruk rupa, berdagu bengkok, susunan giginya berantakan. Ia juga berjidat menonjol, berpipi kecil, kedua kakinya bengkok dan berpijak di atas punggung kaki. Ibunya berasal dari suku Bahilah, yang dianggap rendah dan diremehkan bangsa Arab saat itu.

Namun, sangat banyak mutiara hikmah dari kepemimpinan beliau, yang ditulis dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’ karya Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi.

Dikisahkan, salah satu kehebatan Al-Ahnaf adalah dalam strategi memimpin. Ia mengajarkan tindakan yang sangat bijak.

Apabila Anda memasuki “belantara” tugas baru, bertindaklah bijak dan hormati orang-orang yang telah lebih dahulu hadir. Jangan buru-buru membuat kebijakan yang tidak populer dan memicu kebencian mereka.

Kenali medannya. Sebab jika tidak, Anda pasti dikomentari macam-macam yang sangat jauh dari kenyataan Anda yang sesungguhnya, dan gagal mendapat kepercayaan. Al-Ahnaf bin Qais berkata:

“Barangsiapa yang terburu-buru (mendatangi) manusia dengan (membawa) apa yang tidak mereka senangi, pasti dia akan dikomentari dengan apa yang tidak mereka ketahui.”

Nah, dengan 200 kata cukup leluasa bagi Anda untuk mengekspresikan cerita atau pesan. Namun tidak terlalu panjang. Mudah bukan? Anda pasti bisa membuat tulisan rutin sehari 200 kata.

Selamat menulis, selamat menebar kemanfaatan.

Bersambung.

Bahan Bacaan

Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com,  23 Juni 2017

4 thoughts on “Bangga Menjadi Penulis – 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *