.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“The hardest part of writing a book is giving it a chance” –Jessica Cote, 2017
.
Hal apakah yang paling sulit dalam menulis? Jawaban setiap orang bisa berbeda-beda atas pertanyaan ini. Saya telah mengajak Anda bertanya kepada beberapa orang penulis, dalam beberapa postingan sebelumnya. Anda bisa mencermati, jawaban mereka memang berbeda-beda.
Tidak masalah dengan jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama ini. Justru kita bisa mengambil pelajaran bahwa kesulitan menulis sebagian besarnya bercorak subjektif. Kesulitan yang dialami oleh seseorang berbeda dengan kesulitan yang dialami orang lainnya.
Kesempatan kali ini saya akan mengajak Anda bertanya kepada Jessica Cote, seorang penulis dan bloger. Menurutnya, bagian paling sulit dari menulis adalah memberinya kesempatan. Apa yang ia maksud sebagai memberi kesempatan?
“The hardest part of writing a book is giving it a chance” –Jessica Cote, 2017
Menemukan Ide Menulis
Menurut Cote, menemukan ide untuk diwujudkan menjadi sebuah tulisan atau buku adalah bagian termudah. Hal ini, menurut Cote, karena para penulis adalah ‘penyihir kata’. Mereka dengan mudah menciptakan ide dari halaman kosong, atau dari apa saja, “seolah-olah mereka menguasai seni membuat air”.
Ini sudah sering saya sampaikan dalam berbagai postingan sebelumnya. Ide atau inspirasi untuk ditulis, bisa datang sewaktu-waktu. Sudut pandang sebagai penulis, membuat kita melihat semua hal sebagai bahan tulisan. Maka ide bermunculan di berbagai aktivitas kehidupan.
“I like to think that the idea of a book is the easiest part for us to conjure up. We are word magicians after all. Creating ideas out of thin blank pages as if we mastered the art of how to make water” –Jessica Cote, 2017
Agatha Christie menemukan ide saat mencuci gelas dan piring. Gina Conroy menemukan ide saat mandi pagi. Angela DiTerlizzi menemukan ide saat mengobrol dengan anaknya. Gertrude Stein menemukan ide saat melihat gerombolan sapi dari dalam mobilnya. J.K Rowling menemukan ide saat di tengah keramaian kereta api.
Saya kira, inilah yang dimaksud oleh Cote, bahwa bagian paling mudah dari menulis adalah menemukan ide. “Setelah bagian yang mudah ini berhasil kita lalui, segera kita akan menyaksikan berbagai ketegangan yang sulit yang menciptakan stres”, ujar Cote. Seperti apa ketegangan itu?
“After the easy part we start witnessing all the difficult strains that creates our stress against us” –Jessica Cote, 2017
Memberi Kesempatan Ide untuk Berkembang
Inilah bagian paling sulit dari menulis, menurut Cote. Menemukan sebuah ide untuk ditulis, teramat sangat mudah. Namun memberi kesempatan kepada ide itu untuk berkembang, adalah hal paling sulit. Bagaimana ide itu terus menerus dikembangkan, hingga tuntas menjadi sebuah karya tulis. Di sini kesulitan mulai dirasakan.
Terlebih bagi penulis pemula. Pertama kali menciptakan sebuah karya tulis yang utuh adalah sebuah perjuangan yang luar biasa. Menulis sebuah artikel, atau sebuah cerpen, atau sebuah buku, hingga selesai, artinya memberi kesempatan ide untuk berkembang. Proses mengembangkan ide secara leluasa dan tuntas inilah perjuangan yang besar.
“Writing a first draft can make or break us. We are our worst enemies in this process” –Jessica Cote, 2017
Jika Anda membuat cerpen, perjuangan besar Anda –menurut Cote, terutama pada mengembangkan ide menjadi sebuah cerpen utuh, untuk karya perdana. Pertama kali Anda menciptakan cerpen, inilah bagian tersulit yang harus Anda lalui. Istilah umumnya adalah “pecah telur”. Semula belum punya karya, kemudian berhasil menciptakan cerpen, ini namanya pecah telur.
Menciptakan karya tulis pertama kali, menurut Cote, bisa membangun namun juga bisa menghancurkan kita. Ketika memulai menulis dengan lancar di bagian awal, kita merasa optimis akan segera bisa menyelesaikan karya. Namun begitu tiba pada bagian-bagian yang sulit, “energi kita mulai menipis”, ujar Cote.
“The first part drills out fine, we can’t throw out words fast enough on the page. But as time and energy goes on we start depleting. Falling into a mass of depression. Every words is a weight, and the book falls onto the ground to be left behind because we gave up on the idea” –Jessica Cote, 2017
Memasuki bagian-bagian sulit dari tulisan, bisa membuat kita “jatuh ke dalam depresi”, ungkap Cote. “Setiap kata adalah beban, dan rencana buku itu jatuh ke tanah untuk ditinggalkan karena kita menyerah pada kesulitan itu”, lanjut Cote. Kondisi itu terjadi, misalnya ketika kita tidak mampu lagi mengembangkan ide. Terasa mentok dan tidak bisa melanjutkan tulisan.
“It begins to fade, collect dust, and we start on a new idea to never see the first through, and that is the hardest part of writing. Writing a full book” –Jessica Cote, 2017
Cari Solusi Setiap Kesulitan
Untuk itu, setiap kali menghadapi persoalan dalam menulis, segera cari solusinya. Jangan biarkan Anda berhenti dan mengalami ‘depresi’ berkepanjangan. Menulis itu membahagiakan, bukan menyengsarakan.
“Once you write a full book the second draft and third draft can come to you easier. But giving your idea the chance to fully emerge can mean the greatest way to be productive” –Jessica Cote, 2017
Bersungguh-sungguhlah untuk menciptakan karya pertama, sesuai minat dan kecenderungan masing-masing. Jika Anda berminat menulis cerpen, berjuanglah untuk membuat satu cerpen perdana. Dengan ‘pecah telur’ menghasilkan cerpen perdana, akan memudahkan dalam menulis cerpen kedua, ketiga dan seterusnya.
Jika Anda minat menulis artikel, berjuanglah untuk membuat satu artikel hingga selesai. Jika berhasil membuat satu artikel, akan memudahkan Anda dalam membuat artikel-artikel berikutnya. Demikian pula dengan buku. Berjuanglah menerbitkan buku perdana. Jika telah pecah telur, akan memudahkan Anda menerbitkan buku-buku selanjutnya.
“You have to hold onto a determination to get the words written, and produce a story through all of your roadblocks, and life blocks that may come your way” –Jessica Cote, 2017
Selamat menulis, selamat menciptakan karya tulis.
Bahan Bacaan
Jessica Cote, The Hardest Part of Writing a Book is Giving it a Chance, 26 September 2017, https://writingcooperative.com
.
Ilustrasi : http://positivewriter.com/struggling-to-write-doesnt-mean-youre-not-a-writer/

Bagian tersulit menulis yaitu berkomitmen untuk menuntaskan tulisan ketika kehabisan ide. Beralih pada ide yang lain. Pecah telur sangat penting, agar bisa membahagiakan bukan menyengsarakan. Syukran usrz. Cahyadi Takariawan