19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“My own journey of becoming a writer  was an awakening of sorts –to who I already was” –Jeff Goins

.

Hal apakah yang paling sulit dalam menulis? Jawaban setiap orang bisa berbeda-beda atas pertanyaan ini. Saya telah mengajak Anda bertanya kepada beberapa orang penulis, dalam beberapa postingan sebelumnya.

Kesempatan kali ini saya akan mengajak Anda bertanya kepada Jeff Goins, seorang penulis dan bloger. Saya agak “ngeri-ngeri sedap” ketika mendapatkan jawaban dari Goins terkait pertanyaan ini.

“The hardest part of writing is getting started, and finishing, and all the stuff in between” –Jeff Goins

Menurutnya, hal paling sulit dalam menulis adalah memulai menulis, menyelesaikan tulisan, dan semua hal di antara keduanya. Dengan kata lain, dalam semua bagian, terdapat kesulitan. Ada kesulitan memulai, ada kesulitan menyelesaikan tulisan, dan ada kesulitan yang muncul di tengah-tengahnya.

Mengatasi Kesulitan dalam Memulai Menulis

Jeff Goins memberikan catatan terkait kesulitan dalam memulai menulis. Menurutnya, seseorang menjadi penulis adalah dengan percaya bahwa dirinya seorang penulis. Goins menuturkan perjalanan dirinya untuk menjadi penulis adalah semacam kebangkitan (awakening) –untuk siapa saya sebenarnya?

“A writer is a writer when he says he is” –Steven Pressfield

Sebuah pertanyaan yang sangat filosofis. Untuk siapa, dan untuk apa kehadiran kita di muka bumi ini? Di antara jawaban yang mungkin adalah, untuk memberikan makna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia. Menulis adalah salah satu cara serta upaya untuk memberikan makna dalam kehidupan.

Maka langkah memulai menulis adalah sederhana. Ya, Goins menyebutnya sebagai “sederhana”, bukan mudah. Sederhana saja memulai menulis itu, meskipun tidak mudah. Yaitu dengan jalan menulis. Jika Anda menulis, maka Anda adalah penulis. Sederhana bukan? Namun tidak mudah.

“Writing is simple, but not easy” –Jeff Goins

Di mana letak tidak mudahnya? Salah satunya adalah menulis hal-hal yang sesuai dengan konteks memberi makna atas kehadiran kita di muka bumi ini. Tidak sekedar menulis, namun menebar makna. Menyampaikan pesan kebaikan, menginspirasi untuk melakukan hal-hal positif. Inilah makna yang bisa kita berikan melalui tulisan, kepada sangat banyak orang, tanpa batas.

Mulai Saja, dan Terus Memperbaiki Diri

Oleh karena itu, langkah yang harus Anda tempuh adalah memulai menulis. Nyatakan kepada diri sendiri bahwa Anda penulis. Mengutip Steven Pressfield, “Seseorang adalah penulis ketika ia mengatakan dirinya penulis”.

Siapapun yang menulis adalah seorang penulis, tetapi itu tidak berarti bahwa kualitasnya sudah baik. Kualitas tulisan adalah proses, dan semua penulis mengalaminya. Semua penulis hebat dimulai dari proses berlatih dan berlatih. Tidak ada orang yang sekali menulis langsung bagus. Jika ada, itu hanyalah pengecualian.

“Anyone who writes is a writer, but that doesn’t mean they’re a very good one” –Jeff Goins

Kesediaan untuk terus menerus belajar memperbaiki kualitas tulisan, akan menyebabkan para penulis terus bertumbuh. Sebagai proses, kita harus menerima pertumbuhan itu. Bahwa awalnya tulisan kita amburadul. Awalnya tulisan kita tidak beraturan. Jangan putus asa. Itulah yang disebut sebagai proses.

Dengan proses yang terus menerus kita lakukan, akan membuat diri kita bersikap sewajarnya. Jangan berharap mendapat ribuan likers atau tepuk tangan meriah secara virtual atas postingan yang kita buat. Harapan berlebihan seperti ini, tidak relevan dalam melewati proses.

“Before you get a larger audience, you have to get better” –Jeff Goins

Sebagai pemula, tulis saja apa yang menjadi pikiran, perasaan, pengalaman dan harapan-harapan Anda. Ini adalah bagian paling penting –bahwa Anda menulis setiap hari dengan lancar. Anda merasakan menulis sebagai sesuatu yang sederhana. Anda mulai memiliki kebiasaan rutin menulis setiap hari.

Gunakan Teknologi untuk Mencari Solusi

Tidak ada cara yang lebih praktis dalam meningkatkan kualitas karya tulis, kecuali dengan berlatih menulis setiap hari. Setiap saat Anda menemukan kesulitan, maka akan berusaha mencari pemecahan. Gunakan teknologi untuk mencari solusi atas kesulitan menulis yang Anda hadapi.

Jika kesulitan menulis terkait dengan tanda baca dan tata bahasa, bisa ditanyakan melalui Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) Daring. Dengan cepat Anda membukan PUEBI Daring melalui gadget atau laptop, an langsung menemukan jawaban atas kesulitan yang Anda hadapi.

Jika kesulitan memahami arti kata yang benar, atau kata-kata yang baku, maka Anda bisa mendapatkan melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Melalui gadget atau laptop, Anda bisa membuka KBBI Daring untuk mendapatkan jawabannya. Nah, inilah pertumbuhan itu. Sembari berlatih menulis, Anda menemukan kesulitan, dan sekaligus mencari jawaban.

“Practice makes you better; it’s the repetitions that make it effortless” –Jeff Goins

Kuncinya adalah disiplin diri. Meski tidak mudah, namun menulis itu proses yang sederhana. “You can’t practice without discipline. Keep showing up  and persevering”, ujar Jeff Goins.

Berikutnya, jangan mudah mencari alasan untuk tidak menulis. “Get over your excuses and do the work”, ujar Goins. Jangan beralasan, pasti Anda akan rutin menulis, dan mengalami pertumbuhan dalam kualitas. Semakin lama, semakin berkualitas. Percayalah.

Bahan Bacaan

Jeff Goins, The Hardest Part of Writing, https://goinswriter.com

.

Ilustrasi : https://heathenhippie.com

2 thoughts on “Bagian Tersulit dari Menulis – 4

  1. Jangan mudah mencari alasan. Kuncinya terus menulis maka akan bertemu dengan jawaban. Syukran ustz.Cahyadi Takariawan

  2. Alhamdulillah
    Selamat pagi Pak Cah dan Bu Ida, setidaknya setiap pagi sy membaca tulisan bapak dan belajar membuat kesimpulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *