.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I am not at all in a humour for writing; I must write on until I am” –Jane Austen.
.
Jane Austen (1775-1817) adalah novelis Inggris pada era abad ke-18 sampai abad ke-19. Buku karya Austen yang melegenda antara lain novel Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Northanger Abbey, serta Love and Friendship. Beberapa karya Austen diangkat menjadi film layar lebar.
Rebecca Smith —salah seorang penulis keturunan Austen, dalam buku “The Jane Austen Writers’ Club: Inspiration and Advice from the World’s Best-Loved Novelist” (2016), mengajak kita belajar dari Austen, bagaimana ia produktif menulis.
Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru dan dieksekusi. Pilih saja yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa atau tidak cocok untuk kita lakukan.
Austen : Anda Tidak Akan Pernah Bisa Menyenangkan Semua Orang
“Jane Austen kept a book of ‘Reactions’ to all of her novels, mostly comprised of friends and family who had read it. She had the rare privilege of friends and family who would tell her honestly what they thought” –Claudia Gray, 2013.
Jika Anda berharap bia menyenangkan semua orang melalui tulisan, Anda tidak akan pernah menulis selamanya. Tidak ada satupun tulisan manusia di muka bumi ini yang bisa menyenangkan semua orang. Maka menulis sajalah, dan pilih segmen untuk Anda hadirkan buku Anda.
Wajar jika ada orang yang tidak suka dengan tulisan Anda dan memberikan masukan, kritik bahkan ejekan. Itu biasa saja. Masukan dan kritikan yang diberikan oleh sebagian orang –juga tidak akan bisa menyenangkan semua pembaca Anda. Seandainya para pengritik itu menulis untuk ‘meluruskan’ atau ‘memperbaiki’ tulisan Anda, hasil tulisan merekapun tidak bisa menyenangkan semua orang.
Maka Austen memilih jalan damai. Claudia Gray (2013) menceritakan, “Jane Austen menyimpan catatan ‘reaksi’ untuk semua novelnya. Sebagian besar respon berasal dari teman dan keluarga yang telah membacanya”.
Ia memilih orang-orang yang didengarkan untuk memberi masukan dan kritikan. “Austen memiliki hak istimewa dari teman dan keluarga yang akan memberitahunya dengan jujur apa yang mereka pikirkan tentang novelnya —terkadang terlalu jujur”, lanjut Gray.
“Kakaknya, Cassandra, berdebat tentang akhir dari kisah Mansfield Park. Cassandra merasa akan lebih menarik jika tokoh Henry Crawford benar-benar ditebus oleh cintanya pada Fanny dan memenangkan hatinya –daripada Fanny menunggu Edmund”, ungkap Gray.
“Her sister Cassandra argued with her about the ending of Mansfield Park; apparently Cassandra felt it would be more interesting if Henry Crawford were to be truly redeemed by his love for Fanny and win her heart, instead of Fanny waiting for Edmund to finally wake up” –Claudia Gray, 2013.
Anda berhak memilih pihak yang akan Anda dengarkan masukan dan pendapatnya, sebagaimana ANda berhak mengabaikan masukan dan kritikan pihak lain. Sebab –sekali lagi, Anda tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang dengan tulisan Anda.
Austen : Nikmati Proses Menulis
“Smith reminds readers to have fun with the process and not to put too much pressure on themselves to become an overnight success. As she points out, Austen kept working at it for over 20 years” –Stephanie Topacio Long, 2016.
Salah satu penyakit manusia di zaman cyber adalah ‘tergesa-gesa’. Sulit bersabar dalam proses, pengennya langsung sukses, langsung menjadi penulis hebat, bukunya langsung best seller, dan berbagai keinginan instan lainnya.
Padahal menulis itu bukan hanya soal hasil. Bukan sekedar lahirnya sebuah novel, atau puisi, atau artikel, atau buku. Menulis adalah tentang menikmati proses. Menyusun kata demi kata, membentuk makna sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Claudia Gray mengingatkan, “Meskipun Anda mungkin menyukai kegiatan menulis, kita semua tahu itu tidak bisa menyenangkan 100 % setiap saat”. Kenyataannya, Austen sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak suka menulis. Namun ia terus menulis sampai selesai. “I am not at all in a humour for writing; I must write on until I am”, ujar Jane Austen.
Demikian pula Rebecca Smith mengajak kita untuk ‘bersenang-senang dengan proses menulis’, dan tidak terlalu memaksakan diri untuk menjadi sukses dalam semalam. Austen terus menulis dan membuat karya selama lebih dari 20 tahun. Hasilnya, sepadan dengan panjangnya waktu yang dialokasikan.
Austen : Masukkan Unsur Humor
“Humor is rarely a bad thing; Austen was certainly a fan” –Stephanie Topacio Long, 2016.
Agar pembaca tidak tegang selama membaca karya tulis Anda, masukkan humor yang relevan. Unsur humor akan membuat tulisan berat terasa lebih ringan. Ada saat di mana pembaca bisa tersenyum bahkan tertawa. Mereka akan merasa lega meskipun tengah membaca tema yang berat.
“Humor jarang merupakan hal yang buruk”, ujar Stephanie, dan “Austen adalah penggemar humor,” sambungnya. Ini menjadi salah satu kelebihan Austen untuk membuat pembaca menjadi nyaman dan betah membaca hingga selesai. Ada hiburan dalam sertiap tulisan Austen yang membuat pembaca merasa ringan.
Bagaimana dengan Anda? Selamat menulis, selamat menghasilkan karya.
Bahan Bacaan
Afifah Afra, Membangun dan Menghias Sebuah Cerita Pendek, 18 Desember 2020, https://www.afifahafra.com
Claudia Gray, Jane Austen’s Advice for Writers, http://www.claudiagray.com, 27 Januari 2013
Katherine Luck, How to Write Like Jane Austen, https://howtowritelike.com, 4 April 2019
Maria Popova, Jane Austen’s Advice on Writing, in Letters to Her Teenage Niece, https://www.themarginalian.org, 16 Desember 2014
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017
Rebecca Smith, The Jane Austen Writers’ Club: Inspiration and Advice from the World’s Best-Loved Novelist, Bloomsbury, USA, 2016
Stephanie Topacio Long, 10 Lessons Every Writer Can Learn From Jane Austen, https://www.bustle.com, 28 September 2016
