.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Austen is responsible for creating some of the most memorable characters in literature, and she did so by giving them the complexity of real people” –Stephanie Topacio Long (2016).
.
Jane Austen (1775-1817) adalah novelis Inggris pada era abad ke-18 sampai abad ke-19. Buku karya Austen yang melegenda antara lain novel Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Northanger Abbey, serta Love and Friendship. Beberapa karya Austen diangkat menjadi film layar lebar.
Kita belajar dari Austen, bagaimana ia produktif menulis. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru dan dieksekusi. Pilih saja yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa atau tidak cocok untuk kita lakukan.
Austen Pandai Membuat Sosok Karakter yang Manusiawi
“Even if you aren’t actually writing about humans, remember that your characters should be multifaceted. Smith highlights Austen’s warning against writing heroes without flaws and villains that are pure evil” –Stephanie Topacio Long (2016).
Pada saat akan menulis fiksi, Anda harus memulai dengan menciptakan tokoh-tokoh yang akan Anda tampilkan dalam kisah fiksi Anda. Agar tercipta sosok tokoh yang berkarakter kuat, Anda harus membayangkan sosok tokoh tersebut, baik secara sifat, watak, maupun fisiknya. Misalnya ganteng, cantik, baik, jahat, tinggi, semampai, gondrong, botak, dan lain sebagainya.
Buatlah karakter tokoh yang “manusiawi”, bukan sosok sempurna tanpa kesalahan, ataupun sosok sempurna tanpa kebaikan. Pada kenyataannya, tidak ada manusia sempurna tanpa cacat yang hidup di zaman kita ini. Pun tidak manusia super jahat tanpa ada sisi kebaikan sama sekali.
Semakin realistis karakter yang Anda hadirkan, semakin hidup kisah fiksi Anda. Semakin tidak realistis karakter yang Anda ciptakan, sepertinya tidak akan mendapat tempat di hati pembaca. Dalam dunia fiksi, pembaca tidak mengharapkan hadirnya sosok tokoh sempurna tanpa cela, karena mereka tahu itu tidak ada.
Dalam kisah fiksi, kita mengenal tokoh antagonis dan protagonis. Pada cerita-cerita klasik, tokoh antagonis sering diidentikkan dengan kejahatan, sedangkan protagonis adalah si pahlawan pembela kejahatan. Akan tetapi, sebenarnya tak harus demikian.
Antagonis adalah tokoh yang dimunculkan sebagai tokoh yang berkebalikan secara karakter dengan tokoh protagonis. Kemunculan dua jenis tokoh yang berbeda, memunculkan perbedaan karakter, yang ketika berinteraksi kemudian memunculkan konflik (Afra, 2020).
Inilah salah satu kelebihan Austen. Ia sangat ahli dalam menghadirkan karakter yang benar-benar manusia dengan segala dinamika dan tingkah lakunya. “Austen bertanggung jawab atas terciptanya beberapa sosok karakter yang paling berkesan dalam sastra. Ia melakukan dengan memberi mereka kompleksitas watak manusia sebenarnya”, ujar Stephanie Topacio Long (2016).
Rebecca Smith —salah seorang penulis keturunan Austen, dalam buku “The Jane Austen Writers’ Club: Inspiration and Advice from the World’s Best-Loved Novelist” (2016), menyampaikan peringatan Austen agar tidak menulis pahlawan tanpa cacat dan penjahat yang murni jahat.
“Bahkan jika Anda tidak benar-benar menulis tentang manusia, ingatlah bahwa karakter Anda harus beragam”, ujar Stephanie mengambil pelajaran dari Austen.
Gunakan Subplot
“You might have your plot worked out, but it’s also important to consider deepening your story with subplots. Austen did this masterfully, using secondary characters as a way to explore various themes” –Stephanie Topacio Long (2016).
Salah satu teknik menulis Austen adalah dengan memanfaatkan subplot. ”Anda mungkin telah menyelesaikan plot, namun penting juga untuk mempertimbangkan memperdalam cerita Anda dengan subplot”, ungkap Stephanie.“Austen melakukan ini dengan mahir, menggunakan karakter sekunder sebagai cara untuk mengeksplorasi berbagai tema”, lanjutnya.
Rebecca Smith menyatakan, “Pembaca senang dengan cara Jane Austen bekerja dengan berbagai tema dalam novelnya”. Cara Austen mengolah subplot memang sangat jeli. “Kita melihat sosok karakter yang menghadapi dilema dan kesulitan sama namun merespons dengan cara yang kontras,” lanjut Smith.
“Readers delight in the way that Jane Austen works with the different themes in her novels. We see characters facing similar dilemmas and quandaries and responding in contrasting ways” –Rebecca Smith, 2016.
Austen pandai menyuguhkan kepada pembaca sosok karakter yang tidak terduga, namun tetap memiliki nilai humanis. Bahwa semua karakter itu adalah manusia dengan segala dinamikanya. Bukan sosok sempurna tanpa cela. Ia gunakan karakter sekunder untuk mendapatkan banyak sisi dari konflik yang semakin membuat pembaca terpesona.
Bahan Bacaan
Afifah Afra, Membangun dan Menghias Sebuah Cerita Pendek, 18 Desember 2020, https://www.afifahafra.com
Claudia Gray, Jane Austen’s Advice for Writers, http://www.claudiagray.com, 27 Januari 2013
Katherine Luck, How to Write Like Jane Austen, https://howtowritelike.com, 4 April 2019
Maria Popova, Jane Austen’s Advice on Writing, in Letters to Her Teenage Niece, https://www.themarginalian.org, 16 Desember 2014
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017
Rebecca Smith, The Jane Austen Writers’ Club: Inspiration and Advice from the World’s Best-Loved Novelist, Bloomsbury, USA, 2016
Stephanie Topacio Long, 10 Lessons Every Writer Can Learn From Jane Austen, https://www.bustle.com, 28 September 2016
