20 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Forget the books you want to write. Think only of the book you are writing” –Henry Miller.

.

Henry Miller adalah seorang penulis dan pelukis produktif asal Amerika. Karya-karya Miller yang mengungkap secara vulgar aspek seksualitas mengundang kontroversi, sehingga dilarang selama beberapa dekade di Amerika Serikat. Miller sering dijuluki sebagai seniman anarkhi kreatif, atas karya-karya yang cenderung memberontak terhadap berbagai kemapanan sosial dan budaya.

Pada tahun 1932, Henry Miller mengemukakan “11 komando” yang membuat dirinya bisa konsisten menulis pada jadwal kerja dan rutinitas harian selama bertahun-tahun. Sebelas “komando” Miller tersebut banyak memberi inspirasi kepada para penulis. Tentu saja tidak semua poin bisa ditiru dan dieksekusi. Pilih saja yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Kekuatan Fokus

Ada beberapa poin dari “sebelas komando Miller”, yang mengisyaratkan pentingnya fokus. Ada banyak penulis yang gagal fokus, karena terlalu banyak keinginan. Ingin menulis ini, ingin menulis itu, banyak sekali. Akhirnya justru tidak menulis sama sekali.

Bagaimana caranya agar bisa fokus menulis? Tiga poin dari “sebelas komando Miller” berikut ini, bisa memberikan gambaran kepada kita.

Pertama, kerjakan satu per satu sampai selesai.

“Work on one thing at a time until finished” –Henry Miller.

Salah satu dari “sebelas komando Miller” adalah agar kita bekerja dengan rapi, satu demi satu, sampai selesai. Bukan mengerjakan banyak hal di waktu bersamaan, namun tidak ada yang selesai.

Ini adalah ‘penyakit kronis’ dalam belajar menulis. Terbiasa meninggalkan naskah yang sudah mulai ditulis. Saat tengah menulis sebuah tema, mendadak tertarik dengan tema yang lain. Akhirnya, ia berhenti menulis tema pertama, dan memulai menulis tema baru.

Baru memulai menulis artikel, tiba-tiba ingin menulis cerpen. Lagi menulis cerpen, mendadak ingin membuat puisi. Sedang menyusun puisi, muncul keinginan menulis esai. Tengah menulis esai, tiba-tiba ingin membuat kisah berhikmah. Belum selesai juga, muncul keinginan membuat biografi.

Jika kebiasaan ini dituruti, dampaknya bisa ditebak. Tak ada tulisan yang selesai. Semua hanya berupa draft tulisan, atau tulisan setengah jadi, atau bahkan tulisan sepersepuluh jadi. Ini sangat merugikan bagi proses pembelajaran.

Maka Miller memiliki komando yang tepat. Kerjakan satu per satu sampai selesai. Hal ini seperti yang sering saya sampaikan, “selesaikan apa yang sudah Anda mulai”. Jangan terbiasa meninggalkan naskah yang sudah Anda kerjakan.

Kedua, lupakan buku yang ingin Anda tulis, pikirkan hanya buku yang sedang Anda tulis.

“Forget the books you want to write. Think only of the book you are writing” –Henry Miller.

Salah satu dari “sebelas komando Miller” adalah agar kita fokus kepada projek penulisan. Mungkin saja Anda memiliki sangat banyak keinginan untuk menuliskan ini dan itu –sesuai banyaknya godaan yang Anda dapatkan.

Namun ketika Anda sudah mulai masuk dalam proses penulisan, fokuslah untuk menuliskan tulisan tersebut hingga selesai. Meskipun di tengah jalan Anda mengalami kesulitan dan kendala, fokuslah untuk mencari solusi untuk mengatasinya. Jangan biarkan Anda mudah menyerah dan mudah kalah oleh kesulitan. Meskipun terasa berat, tetaplah meneruskan hingga selesai.

Anda harus mengabaikan gangguan. Ketika muncul banyak ide untuk menulis tema lain, Anda harus mengabaikannya. Caranya, tulis pokok ide yang muncul belakangan pada satu file tertentu, lalu simpan. Setelah itu mulai fokus pada penyelesaian naskah yang sudah Anda mulai. Jangan fokus kepada ide yang baru, fokuslah pada ide yang telah Anda mulai menuliskannya.

Ketiga, tinggalkan program saat Anda menginginkannya, namun kembali lagi keesokan harinya.

“Discard the Program when you feel like it, but go back to it the next day. Concentrate. Narrow down. Exclude” –Henry Miller.

Salah satu dari “sebelas komando Miller” adalah agar kita memberikan kesempatan untuk menjeda sejenak, namun untuk kembali lagi menuntaskan karya. “Buang program –yaitu naskah yang sedang Anda kerjakan, saat Anda menginginkannya. Tetapi kembali lagi keesokan harinya. Konsentrasi. Persempit. Kecualikan”, ujar Miller.

Jika ada masa di mana Anda merasa jenuh dengan proses menyelesaikan tulisan, buang (tinggalkan sejenak) tulisan itu. Namun keesokan hari, Anda sudah kembali lagi untuk melanjutkan proses menulis hingga selesai, dengan lebih berkonsentrasi dan fokus. Ini adalah teknik menjeda, agar ada masa rehat yang memadai.

Dalam sebuah projek penulisan yang panjang –seperti membuat novel atau buku nonfiksi yang tebal, tentu memerlukan waktu berpekan atau berbulan lamanya, Selama proses penulisan tersebut, mungkin saja dijumpai kejenuhan, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan projek tersebut.

Boleh saja Anda sejenak rehat, untuk menyegarkan pikiran dan badan. Namun jangan terlalu lama. Besok pagi Anda sudah kembali menjamah projek tersebut agar bisa selesai. Inilah cara-cara fokus yang bisa kita pelajari dari “sebelas komando Miller”.

Bagaimana dengan Anda? Sefokus apa Anda menulis karya?

Bahan Bacaan

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Maria Popova, Henry Miller’s 11 Commandments of Writing and His Daily Creative Routine, https://www.themarginalian.org, 22 Februari 2012

David W. Berner, Writing Lessons from Henry Miller, https://writingcooperative.com, 27 Maret 2019

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 86

  1. Penyakit menulis yang harus saya berantas adalah penyakit gagal fokus. Selalu ingin ini dan itu seperti Doraemon. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *