.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“How can you get your finger on it, feel that life beating?” –Alice Munro.
.
Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.
Pada postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Tulis Hal yang Mudah bagi Anda
“Menulis tidak harus ambisius. Munro terkenal dan bahkan memenangkan Nobel Sastra dari cerita pendek, melawan anggapan bahwa karya sastra yang serius harus berbentuk buku tebal” –Devina Yo, 2018.
Salah satu ‘penyakit’ penulis adalah ambisius. Baru sekali membuat buku, langsung ingin best seller, langsung ingin populer, langsung ingin mendapat penghargaan, dan lain sebagainya. Apakah keinginan seperti ini salah? Tentu saja tidak. Itu sah-sah saja. Namun harus dipahami, orang seperti adalah unicorn. Jumlahnya amat sangat sedikit.
Menurut Shaunta Grimes, mungkin saja Anda termasuk unicorn itu, namun peluang itu hanya 0,00001 % saja. Sisanya, 99,9999 % adalah kita semua, orang biasa. Yang harus rajin berlatih menulis, dan bekerja keras untuk memasarkan buku kita ke berbagai tempat. Yang harus berusaha untuk melakukan proses perbaikan dari hari ke hari.
Maka, sebagai penulis pemula sekaligus pembelajar, harus bersedia menempuh proses pembelajarannya. Memulai dari hal-hal yang mudah untuk ditulis. Saya yakin, jika Anda menuliskan hal-hal yang mudah, akan membuat Anda mudah dan lancar menulis. Misalnya, jika Anda ibu rumah tangga fulltime, tulislah tentang mengatur rumah, mengasuh anak, tips memasak, dan sekitar itu.
Akan sangat sulit bagi kita jika harus menulis tema-tema di luar aktivitas keseharian. Misalnya menulis tentang kebijakan ekonomi makro untukmengatasi dampak krisis akibat pandemi. Padahal yang kita hadapi adalah ekonomi mikro –yaitu bekerja mencari nafkah untuk hidup sehari-hari. Akan lebih mudah bagi kita untuk menulis kendala-kendala mengais rejeki di masa pandemi. Karena itu yang kita dihadapi sehari-hari saat ini.
Mengapa Anda memaksa untuk menulis tema yang sulit, yang membuat Anda berputus asa dan membuat kesimpulan salah tentang menulis? Contoh kesimpulan salah, ‘menulis itu susah’, padahal bukan menulisnya yang susah. Yang susah adalah keinginan kita, yang tidak mengukur kemampuan diri.
Alice Munro memang luar biasa. Dia mengajari kita bahwa menulis cerpen itu berkelas. Banyak orang berpandangan, kasta tertinggi fiksi adalah jika mampu menulis novel. Mayoritas tulisan Munro adalah cerpen, dan ia mendapat penghargaan Nobel dari cerpen. Ia dihargai dan dihormati karena kemampuan menulis cerpen.
Jika memang belum mampu menulis novel, tulislah banyak cerpen. Jika belum mampu menulis cerpen 5.000 kata, tulislah 1.000 kata. Jika belum mampu menulis cerpen 1.000 kata, tulislah cerpen mini 500 kata. Bahkan jika Anda hanya bisa menulis 300 kata untuk sebuah cerpen, itupun sebuah karya.
“Mungkin inilah pelajaran yang terpenting. Apapun yang akan diceritakan, sebagaimanapun caramu bercerita, menulislah. Karena sebuah cerita pendek pun, selama diceritakan dengan baik, bisa menuturkan banyak hal” (Devina Yo, 2018).
Anda dihargai bukan karena karya berupa novel tebal. Anda akan dihargai karena konsistensi. Maka berkaryalah secara konsisten.
Menumbuhkan Percaya Diri
Kadang rasa percaya diri muncul, justru karena tengah bertumbuh dan berproses. Bukan karena sudah matang dan profesional. Saya bertemu seorang sahabat yang merintis lembaga keuangan syari’ah. Dengan sangat percaya diri, ia membangun tim dan akhirnya mampu mendirikan lembaga keuangan tersebut. Bahkan berhasil berkembang dengan memiliki banyak cabang.
Setelah duapuluh tahun perjalanan lembaga keuangannya, ia baru menyadari sangat banyak kesalahan dilakukan sejak awal pendirian. Maka ia memutuskan untuk membongkar dan menyusun ulang lembaga keuangan tersebut, seakan memulai dari awal lagi. “Saya tidak mengerti, mengapa saya dulu begitu percaya diri saat mengawali lembaga ini? Padahal sekarang saya merasa malu dengan yang telah saya jalani”, ujarnya.
Seperti ini pula yang dialami oleh Alice Munro. “Saat menulis, saya selalu punya rasa percaya diri yang tinggi. Namun saya juga khawatir bahwa rasa percaya diri itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya”, ujar Munro.
“Menurut saya, rasa percaya diri yang saya miliki datangnya dari kebodohan saya sendiri”, lanjut Munro. “Karena karya saya bukan termasuk karya populer. Awalnya saya tidak tahu bahwa profesi menulis seringkali dianggap tabu bagi kaum perempuan ataupun mereka yang berasal dari kelas menengah ke bawah”, ujar Munro.
“Bila kita menulis dengan baik di tengah lingkungan di mana orang-orangnya bahkan merasa kesulitan membaca, tentu saja kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki sangatlah spesial”, ujar Munro. Saya kira ini adalah sebuah ungkapan kerendahhatian seorang sekaliber Munro.
Namun saya menangkap pesan penting, menulis itu PD saja. Tidak perlu minder atau malu, karena setiap orang memiliki minat, bakat, kecenderungan dan kemampuan yang berbeda-beda. Kita menulis, kita berkarya, sesuai minat, bakat, kecenderungan dan kemampuan masing-masing.
Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.
Bahan Bacaan
Cahyadi Takariawan, Menjalani Protokol, Bukan Menjadi Unicorn, www.menulis.nurdin.id, 14 Oktober 2020
Devina Yo, Bicara Buku: Orang-orang Biasa dan Cara Menulis ala Alice Munro, https://dvnheriyanto.wordpress.com, 1 Februari 2018
Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994
Maggie Tiojakin, Proses Kreatif #1: Alice Munro, https://fiksilotus.com, 13 April 2013
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/
Shaunta Grimes, 25 Habits That Will Make You a Writer, www.medium.com, 5 April 2017
