20 September 2026

Alice Munro

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I am so compulsive that I have a quota of pages. I’m also compulsive now about how much I walk every day” –Alice Munro.

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya.

Namun di sisi lain, kita juga memahami bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Maka salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Kita membatasi diri, belajar tentang produktivitas dan kreativitas menulis, dari para penulis hebat yang sudah melahirkan banyak karya. Kita tidak sedang mempelajari ideologi, isme, keyakinan atau prinsip dan pandangan hidup mereka. Kita boleh berbeda keyakinan dan pandangan hidup, namun kita bisa belajar tentang produktivitas dan kreativitas dari semua orang.

Seri # 13 – Belajar Produktif dari Alice Munro

Kali ini kita akan belajar dari Alice Munro, seorang penulis cerpen yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Alice Munro adalah penulis fiksi dari Kanada. Lahir dan besar di Ontario, Kanada pada tahun 1931. Ia mulai menulis cerita sejak tahun 1950. Hampir semua bukunya berupa kumpulan cerita pendek. Beberapa buku karya Alice Munro, antara lain Dance of the Happy Shades (1974), Who Do You Think You Are (1978), The Progress of Love (1986), Friend of My Youth (1990), The Love of a Good Woman (1998), Runaway (2005) dan Away From Her (2007).

Karya tulis Munro bisa dikategorikan cerpen panjang jika dibandingkan dengan ukuran cerpen Indonesia. Munro menulis satu cerpen berkisar antara 40.000 hingga 100.000 karakter dengan spasi. Di Indonesia, umumnya satu cerpen berada pada kisaran 10.000 karakter. Maka cerpen Munro bisa disebut novela atau cerita bersambung, bagi masyarakat Indonesia.

Munro dikenal sebagai penulis dengan gaya cerita sangat simpel. Ia lebih suka mengambil setting tempat di mana ia dibesarkan, pun ceritanya berkaitan dengan kejadian sehari-hari. Ia bukan tipe penulis fiksi yang bombastis dan ‘meledak-ledak’. Ia sosok yang tenang dan bersahaja dalam membuat jalan cerita. Inilah salah satu sisi menarik yang patut kita pelajari.

Ada sangat banyak hal lain yang akan kita gali dari Munro, dalam beberapa postingan berturut-turut. Saya mulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan Munro untuk produktif menulis.

Menetapkan Kuota Menulis

“I write every morning, seven days a week. I write starting about eight o’clock and finish around eleven” –Alice Munro.

Salah satu rahasia produktivitas menulis Alice Munro adalah menetapkan kuota harian. Ia tipe manusia pagi, yang memanfaatkan energi pagi untuk mengalirkan ide-ide. Setiap hari ia rutin menulis, dengan kuota tertentu.

“Saya menulis setiap pagi, tujuh hari sepekan”, ujar Munro. “Saya menulis mulai sekitar pukul delapan pagi dan selesai sekitar pukul sebelas”, lanjutnya.

Pelajaran awal dari Munro adalah rutinitas menulis, setiap hari. Tidak ada hari yang kosong dari kegiatan tulis menulis. Hal sederhana seperti ini, menyebabkan seseorang akan mengalami pertumbuhan kemampuan. Tanpa menulis rutin, kemampuan menulis tidak akan bertumbuh.

Selain rutinitas, hal lain yang perlu kita pelajari adalah pilihan waktu pagi. Munro –sebagaimana Stephen King, Maya Angelou, Ray Bradbury dan banyak penulis lainnya, menjadi pagi sebagai pilihan waktu menulis. Kita semua merasakan, pagi adalah waktu yang memberikan suasana kesejukan dan kesegaran. Bukan hanya udara, namun juga pikiran dan perasaan.

“Saya sangat kompulsif”, ujar Munro, “sehingga saya memiliki kuota halaman”. Dengan menetapkan kuota minimal halaman yang harus ditulis, membuat dirinya selalu produktif. Ada orang yang rutin menulis tiap hari, namun tidak menetapkan target kuantitatif. Kondisinya berbeda dengan Munro yang memiliki kuota halaman dalam rutinitas menulis.

Bukan hanya dalam menulis, bahkan dalam olahragapun Munro memiliki kuota. “Saya juga kompulsif tentang seberapa banyak saya harus berjalan setiap hari”, ujarnya. Ini memberikan pelajaran tentang kedisiplinan hidup. Ada target pada berbagai aktivitas, yang membuatnya teratur menjalani kehidupan.

Disiplin dalam Berbagai Aktivitas Kehidupan

“Three miles every day, so if I know I’m going to miss a day, I have to make it up. I watched my father go through this same thing. You protect yourself by thinking if you have all these rituals and routines then nothing can get you” –Alice Munro.

Berapa banyak ia menetapkan kuota berjalan? “Tiga mil setiap hari”, ujar Munro. “Jika saya melewatkan satu hari (tanpa berjalan sebanyak tiga mil), maka saya harus menebusnya”, lanjut Munro.  Inilah pelajaran tentang kedisiplinan itu. Target dan kuota tidak ada artinya, jika tidak disertai kedisiplinan.

Disiplin itu, salah satu bentuknya adalah dengan melakukan ‘kompensasi’. Jika hari ini terlewat –tidak berjalan kaki tiga mil, maka besok harus dikompensasi dengan berjalan enam mil. Tiga mil untuk mengganti yang terlewat di hari sebelumnya, dan tiga mil untuk kewajiban berjalan hari ini.

Ini juga yang diterapkan Munro dalam menulis. Jika hari ini tidak menulis sesuai jumlah kuota, maka ia akan mengganti dan mengkompensasi pada esok hari. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk membiarkan ada banyak hari yang kosong tanpa menulis atau berjalan kaki, karena akumulasi kompensasinya akan menjadi berat.

Sudahkah Anda rutin menulis setiap hari? Seberapa banyak kuota harianmu?

Bahan Bacaan

Devina Yo, Bicara Buku: Orang-orang Biasa dan Cara Menulis ala Alice Munro, https://dvnheriyanto.wordpress.com, 1 Februari 2018

Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994

Maggie Tiojakin, Proses Kreatif #1: Alice Munro, https://fiksilotus.com, 13 April 2013

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *