.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“One of the secrets to my writing a lot of articles within a short period of time is to research first before writing” –Bamidele, 2021.
.
Bamidele (2021) seorang penulis dan bloger menyatakan, jika Anda dapat menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu kurang dari setengah waktu yang biasanya diperlukan, Anda akan dapat melakukan hal-hal lain yang lebih produktif pada setengah waktu yang tersisa. Misalnya, Anda punya waktu untuk memasarkan produk, atau menjalankan bisnis, atau kegiatan lainnya.
Bamidele berbagi tips untuk meningkatkan produktivitas menulis. Tentu saja tidak semua tips akan tepat bagi kita. Namun penting bagi kita untuk belajar dari orang yang telah berhasil membuktikan dirinya mampu meningkatkan produktivitas menulis.
Mari kita simak beberapa tips penting dari Bamidele, dari pengalaman pribadinya. Bisa kita ambil yang cocok dan relevan untuk diri kita.
Tips # 4 – Lakukan Riset Sebelum Menulis
“Instead of having to resolve to use the internet whenever you need those facts, why not get those facts beforehand and put them in a notepad?” –Bamidele, 2021.
Bamidele mengaku, salah satu rahasia mengapa ia bisa menulis banyak artikel dalam waktu singkat adalah karena terbiasa melakukan riset sebelum menulis. Bamidele berusaha untuk merencanakan, berapa banyak artikel yang akan ia tulis pada hari itu. Dengan perencanaan yang matang, ia menjadi tahu keperluan data, fakta dan analisa yang diperlukan untuk penulisan semua artikel tersebut.
Setelah mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan untuk semua naskah yang hendak ditulis pada hari itu, ia baru mulai menulis artikel pertama. Bamidele menulis banyak artikel setiap hari dengan lancar, karena semua bahan telah dikumpulkan terlebih dahulu. Ia tidak perlu menghabiskan waktu untuk berpindah-pindah perangkat saat menulis untuk mencari data.
“I will need to write in a particular day, and I ensure I research the points and everything I need for those articles before I start typing the first article” –Bamidele, 2021.
Terkadang kita memerlukan data, fakta dan analisa dari tulisan para ahli, untuk menyelesaikan artikel yang tengah kita tulis. Banyak penulis yang akhirnya berbelok untuk mencari bahan-bahan tersebut di tengah menulis. Waktunya habis tersita untuk mencari bahan yang diperlukan, ditambah dengan munculnya banyak godaan saat melakukan searching. Akhirnya tak ada naskah bisa ditulis hingga selesai, karena asyik berselancar dari satu blog, ke web, ke situs dan seterusnya.
Dibandingkan harus menggunakan internet di tengah proses menulis, lebih efektif untuk mendapatkan semua bahan terlebih dahulu. Saat menulis, tinggal memindahkan data, fakta dan analisa yang diambil dari pendapat para pakar –yang telah disimpan di suatu file. Tidak perlu sibuk mencari bahan di tengah menyelesaikan tulisan.
Mengapa Perlu Riset untuk Menulis?
Kita semua harus menyadari, betapa terbatas ilmu pengetahuan dan informasi yang kita miliki. Kita tidak mungkin bisa tahu segala sesuatu. Maka, agar dalam menulis bisa menyajikan data, fakta dan analisa yang relevan, harus bersedia melakukan riset terhadap berbagai rujukan terpercaya.
“You might need to clarify facts, obtain quotes from other experts, or learn news in the area that has just been released. Even statistics have to be researched to support your writing. The more you research even the topics you are knowledgeable in, the more you enhance your knowledge and support your words” –Rebecca Graf, 2018.
Rebecca Graf (2018) seorang penulis dan bloger produktif menyatakan, menulis bisa menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan. Namun menulis juga bisa sekedar menjadi aktivitas menyusun kata-kata menjadi kalimat dan paragraf. Hal ini terjadi ketika menulis tidak didahului dengan riset yang memadai.
Mengapa perlu melakukan riset sebelum menulis? Menurut Graf, riset penting dilakukan karena pembaca akan mudah menemukan kekurangan dalam tulisan kita. Misalnya, ketika kita membaca sebuah novel yang sangat mengasyikkan, mendadak kita menjadi terganggu oleh karena penggambaran yang tidak masuk akal, yang bertentangan dengan pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.
Penulis novel –misalnya—menceritakan tentang budaya Jawa, namun kisah yang disajikan sama sekali tidak mencerminkan budaya Jawa. Sebagai orang Jawa, pembaca merasa kisah tersebut sama sekali bukan dari latar budaya Jawa. Bagian yang seperti ini tentu sangat mengganggu. Sebagus apapun gaya penulisan novel dan pemilihan kosa kata, namun informasi yang disajikan tidak valid.
“Writing a story set in the 1950s for anyone who did not live in that time period, you will need to research as the world is vastly different today than it was back then. You don’t need to become an expert in the era, but you need to make sure your story reflects the period it was written in” –Rebecca Graf, 2018.
Riset sangat penting dilakukan terkait isi tulisan yang akan Anda buat. Saat menulis sebuah adegan dalam kisah fiksi, tidak boleh melanggar pengetahuan dan informasi umum terkait dengan latar budaya setempat. Di Indonesia, ada ribuan budaya lokal, yang saling berbeda stu dengan yang lainnya. Jangan sampai tertukar-tukar informasinya. Riset menjamin informasi yang Anda trulis lebih valid.
Demikian pula ketika Anda mendeskripsikan latar tempat –misalnya Banda Naira, tidak boleh bertentangan dengan data-data resmi terkait wilayah tersebut. Anda tidak harus datang langsung ka Banda Naira, namun Anda bisa melakukan riset kepustakaan terkait data-data geografi, demografi, budaya, sosial, ekonomi dan pemerintahan setempat. Tulisan Anda akan lebih valid, dan tidak terkesan asal menulis, ketika Anda dasari dengan riset.
Tulisan Fiksi dan Nonfiksi Memerlukan Riset
Menulis jenis fiksi dan nonfiksi, keduanya memerlukan riset. “Tulis apa yang Anda ketahui”, adalah nasihat umum dalam dunia literasi. Nasihat itu menjadi batasan bagi setiap penulis, bahwa mereka tidak boleh menulis sesuatu yang di luar jangkauan pengetahuan.
Terlebih dalam tulisan nonfiksi, pembaca mengharapkan penulis benar-benar ahli dalam tema yang disampaikan. Pembaca percaya kepada keahlian Anda sebagai penulis dan mempercayai setiap bagian tulisan Anda. Inilah pentingnya melakukan riset, agar setiap detail informasi tidak menimbulkan bias pada pembaca.
“You might wonder why research is important. In some instances, it might be obvious, but other areas might not be so clear to a writer. Research is important because readers will find the flaws in your writing” –Rebecca Graf, 2018.
Dalam menulis fiksi maupun nonfiksi, bisa jadi Anda perlu mengklarifikasi fakta, mendapatkan data, serta analisa dari para pakar terkait. NBisa jadi Anda juga memerlukan angka-angka statistik yang harus didapatkan dari sumber terpercaya. Rebecca Graf meyakini, semakin jeli Anda melakukan riset, semakin meningkat pula pengetahuan Anda dan dengan itu akan meningkatkan kualitas tulisan Anda.
Jika Anda menulis cerita berlatar tahun 1950-an, Anda perlu melakukan riset dengan detail, karena kondisi saat ini sangat berbeda dengan kondisi saat itu. Anda tidak perlu menjadi ahli di zaman tersebut, namun Anda bisa melakukan riset untuk memastikan cerita Anda mampu mencerminkan kondisi zamannya.
Catatan Saat Melakukan Riset
Berikutnya Rebecca Graf memberikan beberapa catatan penting terkait riset. Berdasarkan pengalaman pribadinya dalam menulis nonfiksi maupun fiksi, yang selalu diawali dengan riset. Catatan Graf ini penting untuk kita perhatikan.
- Miliki catatan / penyimpanan data
“Every writer should have a notebook to jot down ideas and take notes for current and future projects. Write down what you discover in your research. Also, write down where you found it in case you have to clarify your notes or dig further into a topic” –Rebecca Graf, 2018.
Setiap penulis harus memiliki sarana untuk mencatat atau menyimpan data. Ingatan kita tidak sebaik yang kita bayangkan. Berbagai hal mudah dilupakan karena ada sangat banyak kegiatan dan informasi yang datang setiap saat.
Tuliskan hasil-hasil riset Anda. Tuliskan pula sumber rujukannya agar mudah dikonfirmasi ulang. Suatu ketika saat akan menggunakan data tersebut, bisa jadi Anda merasa perlu untuk mengeksplorasi lebih detail. Anda akan menyesal nanti jika tidak mencatat sumber rujukan. Catatan ini akan menjadi sumber daya yang berharga bagi Anda.
- Jangan abaikan hal kecil
“You might think something you read is useless to you. Yes, it might be for that one story, but it could be important for something later either in that story or a different one. Little things can be helpful. Be a detective and note everything you can” –Rebecca Graf, 2018.
Anda mungkin berpikir bahwa ada suatu data sederhana yang tidak penting bagi Anda. Mungkin untuk satu cerita atau satu artikel yang sedang Anda tulis saat itu, mungkin memang tidak penting. Tetapi bisa menjadi data dan bahan penting untuk tulisan berikutnya nanti. Hal-hal kecil sering kali dapat membantu proses menulis.
- Diskusi dengan ahli
“Ask experts. Is there a chef in your book? Talk to an experienced cook” –Rebecca Graf, 2018.
Saat menulis suatu fenomena alam atau perkembangan teknologi dalam kisah novel atau artikel populer, Anda perlu berdiskusi dengan ahlinya. Para ahli adalah sumber pengetahuan yang valid. Bertanya kepada ahlinya, menjadi cara riset yang penting bagi kualitas tulisan Anda.
Jika dalam kisah Anda ada karakter seorang chef, diskusikan dengan chef profesional dan berpengalaman. Mereka akan memberikan Anda fakta-fakta lapangan yang membuat kisah Anda lebih hidup.
- Jangan berasumsi
“Never assume you got something right that you are not familiar with nor have you researched. Maybe in your first draft, you write it without research, but go back and do your research. Rewrite scenes where you have to” –Rebecca Graf, 2018.
Jangan sekedar berasumsi, terlebih meyakini bahwa Anda memiliki data atau informasi yang benar padahal tidak melakukan riset. Jika Anda menulis sebuah cerita, bisa jadi dalam dalam draf pertama, Anda bisa menulis tanpa riset. Namun dalam proses penyempurnaan naskah, Anda tetap harus melakukan riset.
Tulis ulang bagian-bagian yang harus mendasarkan pada riset. Jangan sekedar membangun asumsi sendiri. Rebecca Graf berulang berpesan, lakukan riset dan lakukan dengan benar. Tidak sembarang riset alias abal-abal.
- Gunakan sumber terpercaya
“Don’t assume everything you read online is reliable. Anyone can publish stuff out there with no real truth behind it. Use reliable sources such as universities, journals, and academic works. You want to be as accurate as possible” –Rebecca Graf, 2018.
Tidak semua bacaan yang tercantum di blog, web atau situs dapat dipercaya. Sebab di dunia maya, semua orang dapat mempublikasikan tulisan. Banyak produk informasi hoax sengajka diciptakan pihak tertentu, tanpa memperhatikan kebenaran data.
Maka gunakan sumber terpercaya seperti web resmi universitas, jurnal, karya akademis, serta web resmi lembaga pemerintahan. Jauhi blog atau web yang meragukan dan tidak dikenal luas.
Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.
Bahan Bacaan
Bamidele, 10 Productivity Tips for Writers, https://www.writersincharge.com, diakses pada 28 Agustus 2021
Rebecca Graf, The Need to Research Your Writing, https://writingcooperative.com, 28 Mei 2018

Agar semakin produktif menulis menyiapkan bahan-bahan dari berbagai tlulisan yang ada hubungannya dengan materi atau naskah yang akan di tulis Tidak perlu gonta-ganyi perangkat tulis supaya waktunya tidak habis. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan
Trimk. Pencerahan hati tuk segera menulis, jangan hanya mengumpulkan data dan fakta di lapangan. Segera bergeraklah