20 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The secret of writing was, to go and live in the library two or four days a week for ten years” –Ray Bradbury.

.

Ray Douglas Bradbury (1920 –2012) adalah penulis Amerika yang terkenal karena cerita pendek dan novelnya yang sangat imajinatif. Ia mampu memadukan gaya fiksi, kritik sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas beberapa tips produktif menulis dari Bradbury. Kali ini saya tanbahkan lagi tips produktif menulis dan Ray Bradbury.

Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Gunakan Metafora untuk Cerita Anda

“I think the reason my stories have been so successful is that I have a strong sense of metaphor… So when you have influences like that, your metaphors are so strong that people can’t forget them” –Ray Bradbury.

Kadang tulisan kita tampak demikian kering dan kurang menarik. Bisa jadi karena kita tidak mencoba menggunkan metafora dalam menyampaikan cerita. Metafora adalah salah satu daya tarik yang membuat pembaca tidak bosan dan mengantuk saat membaca tulisan kita.

“Jika Anda seorang pendongeng, metafora itulah yang membuat cerita menjadi hebat”, ujar Bradbury. “Saya pikir alasan mengapa cerita saya begitu sukses adalah karena saya memiliki rasa metafora yang kuat”, lanjutnya.

Bradbury menyarankan agar kita menggunakan metafora dalam menulis cerita. Ini akan membuat hidup dan menarik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), majas metafora merupakan pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Rachmat Djoko Pradopo (1990) berpendapat, metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingkan, tetapi tidak menggunakan kata pembanding. Bahasa kiasan terdiri dari dua bagian, yaitu term pokok dan term kedua. Term pokok menyebutkan hal yang dibandingkan, sedangkan term kedua untuk membandingkan. Posisinya tidak perlu berurutan.

Contoh majas metafora bisa dilihat dalam kalimat berikut:

  • Wajah Ani memerah karena tersulut api amarah.
  • Hati-hati, jangan sampai tertipu buaya darat.
  • Jangan terpengaruh oleh air mata buaya yang sering dipertunjukkan.
  • Artis baru itu sekarang sedang menjadi buah bibir.
  • Ia dulu adalah kembang desa.
  • Ibu sekarang menjadi tulang punggung keluargaku.
  • Di masa pandemi ini banyak bisnis gulung tikar.

Penggunaan metafora tidak hanya dalam penulisan cerita fiksi. Dalam karya nonfiksi, metafora juga bisa memperindah tulisan.

Pelajari Karya Klasik

“(Read as many short stories from the turn of the century as you can, but) stay away from most modern anthologies of short stories, because they’re slices of life” –Ray Bradbury.

Bradbury mengajarkan agar kita banyak belajar karya sastra dari masa ke masa. Namun beliau menekankan agar kita banyak membaca karya klasik. Misalnya novel dan cerita klasik, karena dari sanalah sumber ‘keaslian’ sastra bisa kita pelajari.

“Bacalah sebanyak mungkin cerita pendek dari berbagai abad, tetapi bukan cerita pendek modern”, ujar Bradbury.

Mengapa bukan dari zaman modern? “Kisah modern tidak memiliki metafora apa pun. Mereka tidak tahu bagaimana menulis cerita pendek”, ujar Bradbury. Mungkin penilaian ini terlampau ‘kasar’ dan menggeneralisir. Tentu kita juga harus mengakui bahwa banyak karya modern yang berkualitas.

Namun, belajar dari karya klasik membuat kita mengetahui hal-hal dasar dari orisinalitas sebuah karya tulis. Jangan hanya mengerti budaya pop sampai tidak mengerti kaidah dasar dalam penulisan. Saya kira sisi ini yang ingin ditonjolkan oleh Bradbury.

Tidak Cukup Hanya dengan Ikut Kelas Menulis

“I graduated from the library having read every single book in it. And along the way I wrote every day of every week of every month, for every year. And in ten years, I became a writer” –Ray Bradbury.

Yang membuat seseorang menjadi penulis produktif, tidak semata karena ikut kelas menulis. Faktor utama untuk membuat habit produktif menulis adalah kedisiplinan diri untuk terus berlatih menulis setiap hari.

“Saya belajar menulis di sekolah musim panas pada tahun 1939, ketika saya masih di sekolah menengah. Tapi itu tidak berhasil”, ujar Bradbury. “Rahasia menulis adalah, datanglah ke perpustakaan dua sampai empat hari sepekan, selama sepuluh tahun”, lanjutnya.

“Saya ‘lulus’ dari perpustakaan setelah membaca setiap buku di perpustakaan tersebut. Saya terus menulis setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, untuk setiap tahun. Dalam sepuluh tahun, saya menjadi seorang penulis”, ujar Bradbury.

Luar biasa semangat Bradbury untuk belajar dan terus berkarya. Ia sangat banyak membaca, ini yang membuat karya tulisnya menjadi semakin berisi dan berbobot tinggi.

Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Emily Temple, Ray Bradbury’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 22 Agustus 2018

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Sue Weems, How to Bust Excuses and Focus on Your Writing Like Ray Bradbury, https://thewritepractice.com

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 31

  1. Dengan banyak membaca karya tulisan menjadi semakin berisi dan berbobot tinggi. Belajar menulis menggunakan majas metafora (perumpamaan atau perbandingan). Syukran katsiir ustaz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *