19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

I had to write them in order to get rid of them. But then I’ve written a lot of other stuff too. So the good stuff stays, and the old stuff goes”  –Ray Bradbury.

.

Ray Douglas Bradbury (1920 –2012) adalah penulis Amerika yang terkenal karena cerita pendek dan novelnya yang sangat imajinatif. Ia mampu memadukan gaya fiksi, kritik sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas beberapa tips produktif menulis dari Bradbury. Kali ini saya tanbahkan lagi tips produktif menulis dan Ray Bradbury. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Manfaatkan Pengalaman yang Menyentuh Jiwa

Any experience that touches you, in any particular way, is good. It can be a horrible experience” –Ray Bradbury.

Bradbury menyatakan, semua pengalaman yang menyentuh jiwa, adalah bahan tulisan yang baik. Pengalaman dan kejadian yang pernah kita alami, atau kita lihat, atau kita dengar, bisa menjadi inspirasi kuat untuk melahirkan karya tulis berkualitas.

“Saya pernah melihat kecelakaan mobil pada usia 15 tahun di Los Angeles. Lima orang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Saya tiba di tempat kejadian dalam waktu 20 detik setelah mendengar tabrakan”, ujar Bradbury.

“Saya tidak tahu apa yang tengah saya hadapi. Korban kecelakaan itu kondisinya sangat hancur. Selama berbulan-bulan setelahnya, jiwa saya terguncang. Mungkin itu alasan saya tidak pernah belajar mengemudi. Saya takut mobil untuk waktu yang lama setelah melihat kejadian itu,” ujar Bradbury.

So for months after, I was shaken. It’s probably the reason I never learned to drive. I was terrified of automobiles for a long time after that but I turned it into a short story called ‘The Crowd’ six or seven years later” –Ray Bradbury.

Namun pengalaman melihat kecelakaan tersebut bisa diolah menjadi karya hebat oleh Bradbury. “Saya mengubahnya menjadi tulisan berjudul “The Crowd”, sekitar enam atau tujuh tahun kemudian”, ungkapnya. Sebuah rasa takut setelah melihat kejadian, yang bisa diolah menjadi karya mengesankan.

“Dari peristiwa yang benar-benar mengerikan ini—Anda bisa mengambil pelajaran tentang jenis ketakutan tertentu, dan Anda meneruskannya kepada orang lain melalui tulisan, dan menyatakan, ‘Seperti inilah yang bisa dilakukan oleh sebuah mobil,’” sambung Bradbury.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak peristiwa dan pengalaman kita hadapi. Termasuk dalam kegiatan profesi. Misalnya, para dokter yang menghadapi berbagai jenis pasien setiap hari. Para guru yang bertemu sangat banyak murid dengan berbagai latar belakang kehidupan. Petani yang menghadapi berbagai kondisi lahan, musim, hama dan berbagai tantangan lainnya.

Pasti sangat banyak kejadian menarik, mengesankan, atau menyentuh jiwa. Ambil beberapa bagian darinya, abadikan dan olah menjadi tulisan yang memberikan inspirasi serta pencerahan bagi banyak orang. Bisa menjadi tulisan fiksi, bisa pula nonfiksi. Tergantung selera dan minat masing-masing.

Jangan Sungkan Memotong Tulisan

“Most short stories are too long… So I went through and cut out fifty thousand. It’s important to get out of your own way. Clean the kindling away, the rubbish. Make it clear” –Ray Bradbury.

“Banyak cerita pendek yang terlalu panjang”, ujar Bradbury. Namanya saja cerita pendek, namun terkadang menjadi terlalu panjang dan bertele-tele. Bagi penulis pemula, ada rasa sayang untuk memotong atau membuang cerita yang telah ditulis. Padahal, panjang tidak identik dengan ‘lebih baik’. Sebagaimana pendek tidak bermakna ‘lebih buruk’.

“Ketika saya menulis novel Something Wicked This Way Comes, draf pertama berjumlah seratus limapuluh ribu kata. Saya memotong limapuluh ribu kata”, ujar Bradbury. Tentu saja memerlukan keberanian dan kebearan jiwa untuk membuang sepertiga bagian cerita.

Limapuluh ribu (50.000) kata, yang dibuang Bradbury, bukan jumlah yang sedikit. Ini sudah patut menjadi satu novel sendiri. Pasti banyak penulis yang merasa sayang dan tidak tega untuk memotong sebanyak itu.

Memotong atau membuang –tidak bermakna benar-benar menghapus bagian itu. Namun bisa dilakukan dengan jalan menyimpan bagian yang tidak diperlukan, karena bisa jadi akan diperlukan untuk tulisan berikutnya nanti. Namun secara teknis, kita bisa membuang atau memotong bagian naskah yang tidak relevan.

Ketika kita telah menulis berpuluh ribu kata, namun merasakan ada hal-hal yang tidak menyambung dengan tema, atau tidak relevan untuk dicantumkan, terkadang muncul rasa ‘sayang jika harus dibuang’. Kurang lebih kita merasa, “sudah susah-susah menulis, berhari-hari, masa iya harus membuang atau memotongnya?”

Namun Bradbury menekankan, “Jangan takut memotong tulisan Anda”. Jika dengan memotong atau membuang suatu bagian membuat tulisan lebih baik dan lebih relevan, maka memotong adalah tindakan yang tepat.

Jangan Takut Menulis ‘Omong Kosong’

“Whatever it is—whatever it is, do it! Sure there are going to be mistakes. Everything’s not going to be perfect. I’ve written thousands of words that no one will ever see” –Ray Bradbury.

Salah satu beban mental bagi penulis –terutama pemula, adalah bahwa mereka harus menulis karya bermuta, karya berkualitas, karya terbagus. Dampaknya tidak berani menulis apapun, karena takut hasilnya jelek dan tidak berkualitas.

Maka Bradbury memiliki resep, tulis saja apapun, yang mungkin saja nantinya akan dibuang atau dipotong. Sebab, Anda tidak mungkin menulis tanpa kesalahan. Pasti ada tulisan yang salah, tidak relevan, tidak kontekstual, tidak menyambung, tidak mengalir, dan sebagainya.

Nah, penulis harus mampu menghilangkan ketakutan dan beban mental seperti itu. Sebab jika takut menulis yang ‘omong kosong’, maka seumur hidup tidak akan pernah belajar menulis, tidak akan berlatih menulis. Dampaknya, tidak memiliki keterampilan menulis dan tidak memiliki karya tulis. Dengan alasan –menunggu sempurna. Sekali menulis langsung sempurna.

“Apa pun itu, tulis saja! Pasti akan ada kesalahan. Semuanya tidak akan sempurna. Saya telah menulis ribuan kata yang tidak akan pernah dilihat siapa pun”, ujar Bradbury.

Ketika Bradbury menulis, ada bagian-bagian yang dibuang atau dipotong. Nah, bagian ini pasti tidak pernah dibaca oleh siapapun. Jangan menganggap bahwa semua tulisan kita harus dibaca orang lain. Bahkan sekaliber Bradbury, penulis tingkat dunia, masih juga menemukan kesalahan dalam tulisannya –untuk dibuang.

Maka kuncinya –tidak takut salah, dan tidak takut memotong tulisan sendiri. Tulisa saja dulu semuanya, lalu lakukan editing. Buanglah bagian yang salah atau tidak relevan. Dengan cara ini, pasti kita akan produktif menulis.

“Saya harus menulisnya untuk memotong (sebagian) dari tulisan itu. Tapi kemudian saya juga menulis banyak hal lain. Jadi hal-hal yang baik tetap ada, dan hal-hal yang jelek dibuang”, lanjut Bradbury.

Bahan Bacaan

Emily Temple, Ray Bradbury’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 22 Agustus 2018

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Sue Weems, How to Bust Excuses and Focus on Your Writing Like Ray Bradbury, https://thewritepractice.com

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 29

  1. Hal yang baik tetap ada, yang jelek di buang. Jangan takut memotong tulisan panjang dan jangan takut salah menulis. Panjang tidak indentik lebih baik dan pendek tidak bermakna lebih jelek. Panjang dan pendek tidak jadi acuan, yang penting menulis dengan relevan. Syukran katsiran ustaz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *