19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

I write, in the same linen we make shirts of” –Mark Twain.

.

Menulis adalah aktivitas kreatif, yang bercorak sangat dinamis. Pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya –yang bisa berbeda dengan orang lain.

Namun kita juga menyadari, tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Kita batasi wilayah pembelajaran, hanya dalam konteks proses kreatif dan produktivitas menulis. Kita tidak sedang belajar atau mengadopsi ideologi, isme, keyakinan, ataupun ajaran. Kita tengah belajar tips kreatif dan produktif menulis.

Seri # 21 – Belajar Produktif dari Mark Twain

Kali ini kita akan belajar dari Mark Twain, seorang penulis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Mark Twain adalah seorang penulis produktif, novelis, dan pengajar. Terlahir dengan nama asli Samuel Langhorne Clemens, sedangkan Mark Twain adalah nama pena.

Pada tahun 1848, Mark Twain bekerja penuh waktu di sebuah surat kabar di Hannibal. Berikutnya, ia pindah ke pekerjaan penulisan di sebuah koran lokal milik kakak laki-lakinya, dan sempat menulis beberapa tulisan satire untuk publikasi.

Pada usia 17 tahun, ia berpindah-pindah tempat tinggal seperti di New York, Philadelphia, Keokuk, Iowa, dan tetap bekerja di surat kabar. Karena keadaan sulit sejak mudanya, Mark Twain tidak sempat mengenyam pendidikan formal yang cukup.

Ia lahir pada 30 November 1835, ketika komet Halley terlihat dari bumi. Menurut teori, komet itu muncul pada setiap 75 tahun. Twain sempat meramalkan bahwa ia akan mati saat komet berikutnya tampak kembali dari bumi.

Pada tahun 1909 ia mengatakan, “Saya datang dengan Komet Halley pada tahun 1835. Itu akan datang lagi tahun depan, dan saya berharap untuk keluar dengannya. Ini akan menjadi kekecewaan terbesar dalam hidup saya jika saya tidak pergi dengan Halley’s Comet.”

Ia meninggal di rumahnya pada 21 April 1910, satu hari setelah komet Halley terlihat kembali dari bumi. Tepat 75 tahun setelah kelahiran Mark Twain, seperti ramalannya.

Di antara karya Mark Twain yang monumental adalah The Adventures of Huckleberry Finn, The Adventures of Tom Sawyer, dan The Prince and the Pauper.

mark twain

Mark Twain: Jangan Beralasan

On hot days, I spread the study wide open, anchor my papers down with brickbats, and write in the midst of the hurricane, clothed in the same linen we make shirts of” –Mark Twain.

Ada sangat banyak orang menyatakan dirinya ingin bisa menulis, namun kenyataannya tidak pernah menulis apapun. Ada banyak orang yang rajin mengikuti berbagai kelas menulis, namun kenyataannya tidak pernah menghasilkan karya tulis. Ada banyak orang berobsesi ingin menjadi penulis, namun ternyata tak ada yang ditulis.

Mengapa bisa demikian? Karena beralasan. Ya benar, karena beralasan. Mereka tidak pernah menulis, karena mereka beralasan. Ada sangat banyak alasan yang digunakan mereka yang tidak pernah menulis padahal berkali-kali menyatakan pengen menulis.

Berikut lima alasan yang paling klasik dan paling banyak disampaikan, yaitu, (1) tidak ada mood (2) tidak punya ide menulis (3) kebanyakan ide sehingga menjadi bingung mana yang akan ditulis (4) tidak memiliki waktu untuk menulis (5) tidak memiliki sarana untuk menulis.

Saya akan mengajak Anda membahas poin kelima, yaitu tidak memiliki sarana untuk menulis. Di zaman sekarang, sarana yang lazim untuk menulis adalah laptop, tablet, gadget, ataupun komputer. Namun, apakah apabila tidak memiliki sarana-sarana tersebut berarti tidak bisa menulis dan menghasilkan karya tulis?

Tentu saja bisa. Bagaimana caranya? Sangat banyak jalan menuju Roma. Yang penting mau berusaha.

Pengalaman saya sendiri, saat menulis skripsi untuk kelulusan kuliah S1, saya tidak memiliki sarana menulis. Yang saya lakukan adalah dengan meminjam komputer milik sebuah lembaga penerbitan. Saya diperbolehkan menggunakan komputer kantor dan sarana lainnya, pada malam hari. Bersyukurnya, tidak perlu membayar.

Meski tidak memiliki sarana menulis, saya tetap bisa menulis skripsi hingga selesai. Tiap malam saya ke kantor lembaga tersebut dan mengetik skripsi. Alhamdulillah, selesai juga skripsi saya tulis di komputer kantor lembaga tersebut. Setelah selesai ujian, revisi skripsi kembali saya kerjakan di tempat yang sama.

Di mana ada kemauan, di sana ada jalan. Demikian kata pepatah mengajarkan. Ternyata Mark Twain telah melakukannya. Ia memiliki banyak keterbatasan sarana, namun tidak menghalanginya melahirkan karya.

Twain menjalani rutinitas hidup secra sederhana. Setiap pagi setelah sarapan, ia akan pergi ke ruang belajar. Ia berada di ruang ini hingga tiba waktu makan malam sekitar pukul 17.00 sore.

Ia sering melewatkan makan siang, karena asyik menulis. Keluarganya juga tidak menjemput ke ruang belajar. Mereka akan membunyikan klakson apabila membutuhkan Twain. Biasanya Twain dapat menulis tanpa gangguan selama beberapa jam di ruang itu.

“Pada hari-hari yang panas,” tulis Twain kepada seorang teman, “Saya membuka ruang belajar, mengikat kertas-kertas dengan batako, dan menulis di tengah-tengah badai”. Ungkapan ini menggambarkan kedisiplinan yang tinggi dalam menulis. Dalam situasi apapun ia tetap menulis.

Bahkan ketika tidak memiliki kertas untuk menulis, “Saya menulis di kain linen, sama dengan yang kami buat untuk kemeja,” ujar Twain. Apapun bisa menjadi sarana menulis, jika memiliki kemauan.

Satu saja syarat produktif menulis : jangan beralasan. Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *