.
Oleh: Cahyadi Takariawan
“This is how I take my revenge on my childhood, my situation, my poverty” –Mohammed Aziz.
Anton L. Delgado menulis sebuah artikel berjudul “Selling Books in a Country That Cannot Read” di blog MoroccoWorldNews (2019). Delgado menceritakan seorang lelaki tua penjual buku di kota tua Rabat, Maroko. Lelaki ini selalu membaca buku setiap hari, dan telah menyelesaikan membaca lebih dari 4.000 buku.
Masa lalu Mohammed Aziz tidak seberuntung anak-anak lainnya. Terlahir dari keluarga tidak mampu di Rabat, Maroko, ia tak memiliki akses pendidikan dan pembelajaran yang memadai.
Meski sudah berjuang untuk belajar di bangku SMA dengan berjualan ikan, namun takdir menentukan ia tak bisa menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas itu. Menyadari hidup tanpa memiliki ijazah, Aziz memulai babak baru kehidupannya. Ia berjualan buku di kota tua Rabat.
Mengapa ia berjualan buku? “Inilah cara saya membalas dendam atas masa kecil saya, situasi saya, dan kemiskinan saya,” ungkap Aziz. Dengan memiliki toko buku, ia bisa membaca buku setiap hari. Sesuatu yang tak bisa dilakukan saat masih bersekolah, lantaran mahalnya harga buku pelajaran.
“I’ll be here till everyone can read” –Mohammed Aziz.
Lebih dari 45 tahun Aziz berjualan buku di tempat yang sama. Ini membuatnya menjadi penjual buku tertua di kota tua Rabat. Orang-orang bisa melihat dirinya setiap hari berada di toko dan membaca buku. Duduk beralaskan karpet di depan pintu toko buku sembari membaca buku, itulah salah satu pemandangan tetap di kota tua Rabat.
Rutinitas di Toko Buku
“My life revolves around reading” –Mohammed Aziz.
Aziz bekerja 12 jam sehari di toko miliknya sendiri. Tiap pagi ia berjalan di sekitar kota Rabat untuk mencari buku-buku terbaik. Ia berbelanja buku dan membawa buku barunya ke atas tumpukan. Ketika ditanya berapa banyak buku yang ada di dalam tokonya, dia menjawab, “Tidak cukup (untuk dihitung).”
Setelah menempatkan buku baru di tokonya, dia duduk di kusen pintu dan mulai membaca. Begitu rutinitas setiap hari. Ia selalu membaca dan hanya berhenti untuk makan, shalat, merokok, dan melayani pembeli. Rata-rata Aziz hanya bisa menjual satu atau dua buku dalam sehari.
Meskipun hanya bisa menjual satu hingga dua buku tiap hari, namun Aziz berbahagia karena dirinya bisa membaca buku setiap hari. Ia juga seorang lelaki yang religius, yang menghendaki masyarakat berada dalam kebaikan.
Aziz sangat ingin semua orang bisa membaca Al-Quran. Di toko bukunya, ia mempersilakan masyarakat untuk membaca Al-Qur’an maupun buku-buku miliknya. Dengan cara itu, Aziz berharap dapat memperkuat keimanan masyarakat.
Selalu Ingin Membaca
“I’ve read more than 4,000 books, so I’ve lived more than 4,000 lives” –Mohammed Aziz.
Berapa lama Aziz akan bertahan di toko buku itu? “Saya akan tetap berada di sini sampai semua orang bisa membaca,” kata Aziz. Ia sangat ingin menciptakan tradisi belajar di kalangan masyarakat.
“Saya telah membaca lebih dari 4.000 buku, jadi saya telah menjalani lebih dari 4.000 kehidupan”, lanjutnya. Baginya, membaca satu buku berarti telah menjalani satu episode kehidupan.
Dalam usia yang sudah senja, di atas 70 tahun, Aziz merasa bersedih ketika melihat anak-anak yang tidak bersekolah dan tidak belajar. Ia meyakini, membaca adalah bagian utuh dari proses belajar.
“Reading is a gift from God and a command” –Mohammed Aziz.
“Membaca adalah anugerah dari Tuhan dan sebuah perintah,” ungkap Aziz dengan merujuk kepada ayat Al-Qur’an surat al-Alaq ayat 1 hingga ayat 5.
Terus Belajar
“In life, I care most about my ability to read and that I can read until the end of it” –Mohammed Aziz.
Dengan hiasan buku berwarna-warni, toko Aziz telah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari seluruh Maroko, bahkan dari berbagai belahan dunia. Banyak para pelajar yang akan melakukan kegiatan musim panas, menitipkan buku bekas mereka di toko Aziz.
Karena banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai negara, Aziz belajar bahasa Arab, Prancis, dan Spanyol secara otodidak. Ia juga belajar bahasa Jerman dan Italia.
Menyediakan buku-buku dalam semua bahasa daerah Maroko adalah impian Aziz yang berharap bisa terwujud suatu hari nanti. “Hidup saya berkisar pada membaca,” ujar Aziz.
“Dalam hidup, saya paling peduli dengan kemampuan membaca, dan bahwa saya bisa membaca sampai akhir.”
Bagaimana dengan kita? Berapa buku yang sudah pernahkita baca sampai selesai?
Bahan Bacaan
Anton L. Delgado, Selling Books in a Country That Cannot Read, https://www.moroccoworldnews.com, 13 April 2019
