.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“The imagination cannot and must not be policed” –Camille Paglia.
.
Sebagian dari Anda masih merasa ragu untuk menulis dan memublikasikan tulisan. Merasa tidak percaya diri, karena tidak memiliki ijazah formal pendidikan di bidang penulisan. Merasa minder dengan para penulis hebat yang karyanya sudah sangat populer.
Berikut saya ajak Anda menyimak penuturan Chad Grills (2017), yang berusaha mengambil spirit menulis dari para tokoh dunia, agar bisa memotivasi untuk terus menerus menghasilkan karya.
Penulis Terbaik Tidak Menempuh Pendidikan Formal dalam Bidang Menulis
“The best writers do not police their imaginations. They do practice prudence, and they do censor themselves sometimes when they publish work publicly. But this doesn’t mean that they don’t hide esoteric ideas inside exoteric stories” –Chad Grills, 2017.
Belajar dari banyak penulis dunia, Chad Grills menyatakan, penulis terbaik tidak menempuh pendidikan formal dalam bidang menulis. Berbeda dengan dokter yang harus lulus fakultas kedokteran dan pendidikan profesi dokter. Berbeda dengan apoteker yang harus lulus fakultas farmasi dan pendidikan profesi apoteker. Berbeda dengan psikolog yang harus lulus fakultas psikologi dan pendidikan profesi psikolog.
Penulis tidak memerlukan pendidikan formal dan gelar kesarjanaan. Tentu saja tidak dilarang apabila ada kampus yang menawarkan Fakultas Menulis, akan tetapi keterampilan menulis tidak mesti didapatkan di bangku pendidikan formal.
Dalam dunia fiksi, imajinasi adalah kekuatan untuk menghasilkan karya berkualitas. Sementara corak pendidikan formal lebih mengarah kepada pola-pola keteraturan. Maka untuk menjadi seorang sastrawan, penyair atau novelis, kebebasan berimajinasi menjadi sangat penting. Sulit untuk berimajinasi apabila mendapatkan batasan-batasan yang sangat sempit.
“Imajinasi tidak dapat dan tidak boleh diatur”, demikian ungkap Camille Paglia. Ungkapan ini tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Sebagaimana diketahui Camille Paglia adalah aktivis feminis di Amerika yang menyuarakan berbagai kebebasan berekspresi. Ia menentang kriminalisasi prostitusi, aborsi, narkoba dan pornografi.
Kebebasan ‘mutlak’ menjadi tuntutan Paglia. Baginya imajinasi tidak boleh diatur. Harus diberikan ruang sebebas mungkin. Bagi penganjur kebebasan tanpa batas, seruan ini menarik. Namun dalam ruang lingkup moralitas, imajinasi tetap harus berada dalam bingkai moral dan etik.
Solusi untuk mempertemukan keduanya, berimajinasilah secara bebas saat menulis. Namun lakukan editing sebelum publikasi. Sebab kita tidak menulis di ruang hampa. Kita tengah berada dalam kebhinnekaan Indonesia yang harus kita jaga. Tidak boleh mengekspresikan kebebasan tanpa norma.
Bahkan, Tidak Harus Lulusan Perguruan Tinggi
Untuk menjadipenulis hebat, tidak harus lulus dari perguruan tinggi. Selama ini, perguruan tinggi dianggap sebagai karier pendidikan paling bergengsi dalam kehidupan masyarakat modern. Padahal banyak penulis tingkat dunia yang bahkan tidak lulus dari perguruan tinggi. Jadi, Anda jangan pernah merasa rendah diri jika tidak sempat mengenyam bangku kuliah. Anda tetap bisa menjadi penulis produktif.
Para penulis dunia yang tidak pernah kuliah atau tidak lulus kuliah inipun terbukti mampu menghasilkan karya berkualitas yang diterima masyarakat. Ray Bradbury, Maya Angelou, Truman Capote, William Faulkner, Mark Twain, H.G. Wells, Jack London, Augusten Burroughs, Charles Dickens, Jack Kerouac, dan masih banyak lainnya –adalah contoh penulis dunia yang tak mengenyam pendidikan tinggi.
Ray Bradbury, seorang novelis produktif, hampir tidak menyelesaikan sekolah menengah dan tidak tertarik untuk kuliah. Dia menyatakan “tidak percaya” kepada perguruan tinggi dan lebih percayaan kepada perpustakaan. Ia melihat perpustakaan dapat diakses oleh semua kelompok usia dan semua kalangan, bahkan mereka yang miskin. Bradbury menulis Fahrenheit 451 di perpustakaan, menyewa ruang dan mesin tik.
Maya Angelou berhasil lulus sekolah menengah, tetapi tiga minggu kemudian ia melahirkan putranya. Kesulitan ekonomi membuatnya tidak dapat kuliah. Ia dipaksa oleh keadaan untuk bekerja –apa saja—demi mendapatkan uang. Pada usia menjelang 40 tahun, Angelou menerbitkan otobiografinya “I Know Why the Caged Bird Sings”.
Truman Capote memiliki masa kecil yang sulit. Truman bekerja untuk The New Yorker, dan memilih keluar dari sekolah menengah. Di usia 41 tahun ia menerbitkan novel “In Cold Blood”. William Faulkner adalah pemenang Hadiah Nobel. Ia tidak memiliki ijazah sekolah menengah. Sempat mendaftar di Universitas Mississippi, tetapi hanya mengikuti kuliah selama tiga semester lalu putus kuliah.
Samuel Langhorne Clemens, nama asli dari Mark Twain, putus sekolah pada usia 12 tahun dan bekerja untuk menyambung hidup setelah ayahnya meninggal. Clemens mendidik dirinya sendiri di perpustakaan umum. Ia pernah bekerja sebagai pilot kapal uap selama bertahun-tahun. Setelah kembali menulis, pekerjaan sebagai pilot kapal itu memberikan nama barunya –Mark Twain, yang merupakan istilah gaul dalam kapal uap untuk mengukur dua depa.
H.G. Wells mengalami cedera kaki saat usia 8 tahun. Ayahnya membawakan buku-buku dari perpustakaan untuk menemaninya di ranjang. Wells terpaksa meninggalkan sekolah menengah untuk bekerja. Wells kemudian menjadi novelis fiksi ilmiah yang dikenal dengan buku The War of the Worlds dan The Time Machine.
Jack London menemukan seorang pustakawan di Perpustakaan Umum Oakland yang bersedia untuk membimbingnya, London belajar sendiri di perpustakaan tersebut. Ia bekerja di pabrik pengalengan mulai usia 13 tahun. Pada usia 18, ia menyelesaikan sekolah menengah. Ia sempat kuliah di UC Berkeley, tetapi tidak pernah lulus. Ia menulis karya klasik seperti The Call of the Wild dan White Fang.
Augusten Burroughs sempat putus sekolah di kelas enam, tetapi ia kembali melanjutkan hingga sekolah menengah. Burroughs kemudian mendaftar di Holyoke College sebagai mahasiswa kedokteran, namun drop out sebelum semester pertama berakhir. Burroughs menerbitkan memoar pertama yang kontroversial, Running with Scissors, pada tahun 2002.
Charles Dickens menerima pendidikan formal di sela pekerjaan pabrik yang harus dijalaninya. Ayahnya dijebloskan ke dalam penjara ketika ia masih kecil. Pengalaman Dickens sebagai orang miskin menjadi inspirasi dalam banyak novelnya. Ia tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Jack Kerouac sempat masuk Universitas Columbia dengan beasiswa atletik—bukan akademis. Ia adalah pelari yang terampil, tetapi kakinya patah. Kerouac terpaksa putus kuliah sama sekali.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah produktif menulis?
Bahan Bacaan
Chad Grills, The 7 Secrets of Writing From the Best Writers in the World, https://medium.com, 2 November 2017
Lindsey DeLoach Jones, 10 Famous Authors Who Never Graduated from College, https://www.pastemagazine.com, 18 November 2013
