19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

The art of writing is the art of cutting” –Anton Chekhov.

.

Sebagian dari Anda masih merasa ragu untuk menulis dan memublikasikan tulisan. Merasa tidak percaya diri, karena belum mampu membuat tulisan yang panjang. Ini adalah cara pandang yang tidak tepat. Seakan tulisan disebut bagus adalah apabila panjang.

Padahal letak kualitas tulisan bukan pada panjangnya. Yulia Shamporova (2018) mengajak kita untuk belajar dari para sastrawan besar Rusia. Rupa-rupanya banyak sastrawan yang justru memberikan penghargaan kepada kemampuan untuk memotong atau memendekkan tulisan –bukan memanjangkannya.

Membuat Tulisan Pendek

The greatest ability of a writer is to be able to cross out. One who knows how to do that and who can eliminate can go far. All the great writers wrote extremely briefly. And most importantly –do not repeat what has already been said or what is known by everyone” — Fyodor Dostoevsky.

Anton Chekhov, seorang sastrawan Rusia menyatakan, “Seni menulis adalah seni memotong.” Seorang penulis harus ‘berani’ dan ‘tega’ memotong tulisan yang sudah dibuatnya berhari-hari. Penulis bahkan terkadang harus rela membuang bagian tulisan, karena mengganggu struktur cerita, atau mengganggu sistematika pemikiran.

“Ini mungkin sangat sulit dan bahkan menyakitkan, tetapi itulah cara untuk membuat cerita Anda menarik. Seorang penulis harus memupuk kemampuan untuk mencoret dan, idealnya, belajar bagaimana menulis secara ringkas sejak awal”, ungkap Yulia Shamporova.

Fyodor Dostoevsky, sastrawan terkemuka Rusia menyatakan, “Kemampuan terbesar seorang penulis adalah mampu mencoret. Orang yang tahu bagaimana melakukan itu akan bisa berkembang. Semua penulis hebat menulis dengan sangat singkat. Dan yang paling penting –jangan menulis hal-hal yang telah diketahui oleh semua orang.”

It may be very hard and even painful, but that’s the way to make your story interesting. A writer should cultivate the ability to cross out and, ideally, to learn how to write concisely from the start” –Yulia Shamporova, 2018.

Bagi Dostoevsky, penulis yang tidak tahu bagian mana yang harus dicoret, akan kesulitan dalam mengembangkan karyanya. Ternyata memotong tulisan adalah sebuah seni sekaligus ilmu, yang harus dilakukan dengan penuh keberanian. Penulis bukan hanya perlu memiliki ketrampilan menuangkan ide ke dalam tulisan, namun juga harus punya keterampilan memotong tulisan.

Tulisan yang Efektif

Brevity is the soul of wit” –Shakespeare.

Ungkapan bijak Shakespeare sangat relevan dalam konteks menulis. “Singkat adalah jiwa dari kecerdasan”, ujarnya. Rupa-rupanya, menulis secara singkat memerlukan kecerdasan tersendiri. Maka ketika Anda menulis tweet yang hanya diizinkan 280 karakter setiap cuitan, justru membuat Anda berpikir keras bagaimana meringkas pesan.

Sebenarnya, pokok masalah bukan terletak pada panjang dan pendek. Tidak bisa disimpulkan tulisan pendek lebih baik daripada tulisan panjang, dan sebaliknya. Yang menjadi masalah adalah adanya kata, kalimat, paragraf bahkan bab, yang tidak efektif. Kata-kata yang tidak memiliki fungsi. Ini membuat bertele-telenya sebuah tulisan.

Editing is like going on a diet: you have to cut out all the junk if you want to see results” –The Nature of Writing, 2022.

Di sini kita semakin menghargai fungsi editing. Dalam blog The Nature of Writing (2022) dinyatakan, “Mengedit seperti melakukan diet: Anda harus membuang semua sampah jika ingin melihat hasilnya”. Yang dibuang adalah ‘sampah’ –yaitu hal-hal yang tidak diperlukan.

Bukan sekedar membuat tulisan menjadi pendek dan ringkas, sebab semua akan kembali kepada tujuan penulisan. Jika Anda menulis novel, tidak mungkin pendek dan ringkas. Dalam tulisan fiksi, Anda menggunakan banyak gaya showing, juga banyak dialog. Ini tentu tidak bisa jika dipaksa pendek. Yang paling penting adalah –selain indah, tulisan Anda harus efektif.

Bagaimana cara agar bisa menghadirkan tulisan efektif? Blog Masterclass (2021)  membagikan tips untuk kita. “Kata-kata tambahan, kata-kata panjang, frasa yang tidak perlu, dan bab yang dibuat-buat dapat meningkatkan jumlah kata, tetapi itu tidak akan meningkatkan kualitas tulisan Anda”.

A writer is more effective when they make their point efficiently without resorting to unnecessary words, redundant words, and redundant phrases” –MasterClass, 2021.

Terkadang penulis sekedar ingin melakukan penambahan kata, kalimat, atau paragraf agar bisa menghasilkan buku yang tebal. Namun mereka lupa bahwa esensi penambahan itu bukan hanya sekedar menambahkan kata, kalimat dan paragraf. Yang harus ditambahkan adalah kualitas tulisan.

“Seorang penulis lebih efektif ketika mereka menyampaikan poin secara efisien tanpa menggunakan kata-kata yang tidak perlu, kata-kata yang berlebihan, dan frasa yang berlebihan. Berusahalah untuk mengomunikasikan poin Anda dengan sesedikit mungkin kata, dan jika gaya bahasa Anda terasa terlalu sederhana, Anda dapat meningkatkannya suatu ketika nanti” (Masterclass, 2021).

Extra words, long words, unnecessary phrases, and contrived chapters may boost word count, but they won’t improve your writing” –MasterClass, 2021.

Setelah Anda menulis, baca ulang semua tulisan Anda sebelum memublikasikannya. Lihatlah semua kata-kata, kalimat dan paragraf. Adakah yang jika Anda hilangkan, tidak mengubah makna, dan tetap bisa dipahami dengan baik? Bagian itu berarti masuk kategori ‘sampah’ yang harus dibuang.

Anda harus tega memotongnya, meskipun berdampak menjadi berkurang jumlah kata atau karakter yang Anda hasilkan. Namun hal itu akan menambah kualitas atau bobot karya tulis Anda.

Sudah siap memotong tulisan?

Bahan Bacaan

Sean Glatch, Concise Writing: How to Omit Needless Words, https://writers.com, 19 November 2020 

The Nature of Writing, How To Write More Concisely, https://natureofwriting.com, diakses 15 Januari 2022

Yulia Shamporova, How to Start Your Writing Career, Advice From the Greats of Russian Literature, https://www.rbth.com, 13 Maret 2018

1 thought on “Spirit Menulis dari Tokoh Dunia – 8

  1. Siap, akan saya potong dan pangkas, agar segera bisa di sampaikan ke teman-teman. Bismillah semoga di mudahkan. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *