.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“The more focused you are on a task, the easier it is to get it done and work on other tasks, but the moment you start working on 2 or 3 things at the same time, you find it difficult to get things done, and you also find it easier to procrastinate” –Bamidele, 2021.
.
Semua orang memiliki waktu yang sama dalam sehari semalam. Namun produktivitas yang dihasilkan sangat berbeda. Ada tipe manusia yang sangat produktif dalam kehidupannya, dan ada tipe manusia yang banyak memubazirkan waktunya.
Bamidele (2021) seorang penulis dan bloger meyakini, sebenarnya tubuh kita mampu melakukan lebih dari yang sudah biasa dilakukannya. Namun, kita harus belajar melakukan pekerjaan secara efektif dalam situasi yang tepat. Bagimana cara agar produtivitas menulis kita meningkat?
Bamidele berbagi tips untuk meningkatkan produktivitas menulis. Tentu saja tidak semua tips akan tepat bagi kita. Namun penting bagi kita untuk belajar dari orang yang telah berhasil membuktikan dirinya mampu meningkatkan produktivitas menulis.
Mari kita simak beberapa tips penting dari Bamidele, dari pengalaman pribadinya. Bisa kita ambil yang cocok dan relevan untuk diri kita.
Tip #3 – Fokuslah Menulis, Jangan Berusaha Multitasking
“I have discovered that I am more productive when I focus on one task and that task only till it is completed. Working on multiple things at a time is a great waste of your time, it also sometimes results in loss of ideas, and at the end, you see that new “very important” information pop up that suck hours of your time, even though you’re yet to finish your primary assignment” –Bamidele, 2021.
Anda mungkin merasa memiliki kemampuan multitasking, terlebih kaum perempuan. Anda merasa bisa mengerjakan empat sampai lima pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Namun kalau bicara produktivitas, benarkah perilaku multitasking itu lebih produktif? Lantaran bisa melakukan banyak aktivitas, bukan berarti itu lebih produktif.
Misalnya sembari menulis, Anda juga memeriksa aktivitas di grup whatsapp, memberikan komentar, bahkan sambil menelpon teman. Bisakah semuanya dilakukan dalam waktu bersamaan? Mungkin saja bisa. Namun perhatikan, apakah waktu menulis menjadi lebih pendek, atau menjadi lebih panjang?
Pertanyaan pentingnya adalah, benarkah manusia benar-benar memiliki kemampuan multitasking? Benarkan manusia mampu mengerjakan banyak aktivitas dalam satu waktu yang sama? John Hamilton (2008) menyarankan, jangan percaya dengan kemampuan multitasking. Karena itu hanya delusi otak manusia.
Konsep Multitasking Hanya Delusi Kemanusiaan
Mengutip studi para ahli, Hamilton menolak konsep multitasking dengan penuh keyakinan. Jangan percaya publikasi tentang multitasking, ujar para ilmuwan. Penelitian menunjukkan bahwa manusia tidak sebaik yang kita perkirakan dalam melakukan beberapa aktivitas sekaligus.
Teknologi memang memungkinkan manusia melakukan banyak aktivitas pada waktu yang sama, namun mitos tentang multitasking tidak bisa dibenarkan karena fenomena ini. Para ilmuwan menyatakan, sebenarnya manusia tidak melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Yang terjadi adalah, manusia mengalihkan perhatian dari aktivitas ke aktivitas yang lain dengan sangat cepat.
“Humans don’t do lots of things simultaneously. Instead, we switch our attention from task to task extremely quickly” –John Hamilton, 2008.
Melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, telah menjadi bagian dari realitas kehidupan manusia zaman ini. Kita menjawab e-mail sambil berbicara di telepon. Kita menjadwalkan pertemuan saat tengah mengemudi dan mendengarkan radio. Sekan kita bisa fokus melakukan semua tugas tersebut secara bersamaan. Seakan kita telah menjadi ahli sejati dalam melakukan 10 hal sekaligus pada waktu yang sama.
Padahal, ahli saraf mengatakan, kemampuan seperti itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya delusi manusia zaman cyber.
“Manusia tidak dapat melakukan banyak tugas dengan baik dalam waktun yang sama. Ketika mereka mengatakan mereka bisa, sesungguhnya mereka tengah menipu diri sendiri,” ujar Earl Miller, seorang professor ahli saraf di Massachusetts Institute of Technology.
“Otak sangat pandai menipu dirinya sendiri,” ujar Miller. Ia meyakini, sebagian manusia kita tidak bisa fokus pada lebih dari satu aktivitas pada satu waktu. Yang bisa kita lakukan adalah mengalihkan fokus kita dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya dengan kecepatan yang tinggi.
“People can’t multitask very well, and when people say they can, they’re deluding themselves,” said neuroscientist Earl Miller. And, he said, “The brain is very good at deluding itself” –John Hamilton, 2008.
“Beralih dari aktivitas ke aktivitas yang lain, Anda pikir telah benar-benar memperhatikan segala sesuatu di sekitar Anda pada saat yang sama. Namun sebenarnya tidak demikian,” ujar Miller.
“Anda tidak memperhatikan satu atau dua hal secara bersamaan, tetapi beralih di antara mereka dengan sangat cepat.”
Miller mengatakan ada beberapa alasan mengapa otak harus beralih di antara tugas-tugas. Salah satunya adalah bahwa tugas serupa bersaing untuk menggunakan bagian otak yang sama.
“Pikirkan tentang menulis e-mail dan berbicara di telepon pada saat yang sama. Hal-hal itu hampir tidak mungkin dilakukan pada saat yang bersamaan,” katanya.
“Anda tidak bisa fokus pada satu saat melakukan yang lain. Itu karena apa yang disebut interferensi antara dua tugas,” kata Miller. “Keduanya melibatkan komunikasi melalui ucapan atau kata-kata tertulis, sehingga ada banyak konflik di antara mereka berdua.”
“You’re not paying attention to one or two things simultaneously, but switching between them very rapidly… Think about writing an e-mail and talking on the phone at the same time. Those things are nearly impossible to do at the same time,” Miller said –John Hamilton, 2008.
Para peneliti mengatakan mereka benar-benar dapat melihat otak berjuang. Dan sekarang mereka mencoba untuk mencari tahu detail dari apa yang terjadi.
Melakukan Banyak Aktivitas di Saat yang Sama Bisa Mengacaukan Otak Manusia
Di laboratorium di University of Michigan, para peneliti menggunakan pemindai MRI untuk memotret otak subjek saat mereka melakukan aktivitas yang berbeda. Daniel Weissman, ahli saraf yang bertanggung jawab atas eksperimen tersebut, menjelaskan bahwa seorang lelaki yang berbaring di dalam pemindai akan melakukan aktivitas yang berbeda, tergantung pada warna yang dilihatnya di layar.
“Jika dua digit adalah satu warna -katakanlah merah- subjek memutuskan digit mana yang lebih besar secara numerik,” kata Weissman. “Di sisi lain, jika digitnya memiliki warna yang berbeda –misalnya hijau- maka subjek memutuskan digit mana yang benar-benar dicetak dalam ukuran font yang lebih besar.”
Studi MRI ini menunjukkan bahwa ketika lelaki di pemindai melihat warna hijau, otaknya harus berhenti sejenak sebelum merespons —untuk mengumpulkan semua informasi yang dimilikinya tentang tugas hijau tersebut. Ketika ia melihat warna merah, otaknya berhenti lagi —untuk mengesampingkan informasi tentang tugas hijau dan menggantinya dengan informasi tentang tugas merah.
Aktivitas yang sederhana sekalipun, ujar Weissman, bisa membuat otak kewalahan saat mencoba melakukan beberapa sekaligus. “Jika saya keluar di sudut jalan dan saya mencari satu teman yang mengenakan syal merah, saya mungkin bisa memilih teman itu,” kata Weissman.
“Tetapi jika saya mencari teman yang mengenakan syal merah di salah satu sudut jalan, dan di tengah jalan saya mencari teman lain yang mengenakan syal biru —dan di seberang jalan saya mencari teman yang mengenakan syal hijau — pada titik tertentu, saya hanya bisa membagi perhatian saya begitu banyak, dan saya mulai mengalami masalah.”
Jadi otak mulai beralih. Pindai merah. Mengalihkan. Pindai warna biru. Mengalihkan. Pindai hijau. Mengalihkan. Ternyata ini mengacaukan kerja otak.
Fokus Menulis Sampai Selesai
Karena Anda adalah penulis dengan tanggung jawab besar dan banyak hal yang harus diselesaikan dalam waktu singkat, cara apa yang lebih baik untuk mendapatkan hasil yang optimal? Mungkinkah kita menulis naskah sembari memeriksa email dan twitter secara bersamaan?
Bamidele (2021) menemukan bahwa dirinya lebih produktif ketika fokus pada satu aktivitas sampai selesai. Mengerjakan banyak hal sekaligus adalah pemborosan waktu dan tenaga. Bahkan bisa mengakibatkan hilangnya ide-ide penting, disebabkan otak tidak fokus pada aktivitas menulis.
Semakin Anda fokus pada suatu tugas, semakin mudah untuk menyelesaikannya dan mengerjakan tugas lain. Namun begitu Anda mengerjakan dua atau tiga aktivitas pada saat yang bersamaan, Anda akan kesulitan untuk menyelesaikan semuanya. Anda juga merasa lebih mudah untuk menunda-nunda, dan tak ada tugas bisa Anda selesaikan dengan sempurna.
Bahan Bacaan
Bamidele, 10 Productivity Tips for Writers, https://www.writersincharge.com, diakses pada 28 Agustus 2021
John Hamilton, Think You’re Multitasking? Think Again, 2 Oktober 2008, https://www.npr.org/
.
Ilustrasi : https://twitter.com/TheSocialBrain

Fokus pada satu pekerjaan dulu. Menuntaskan tulisan, karena Anda seorang Penulis maka menuliskan naskah hingga tuntas. Insyaallah, syukran ustaz Cahyadi Takariawan.