20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Denying your own creativity is like denying you’re a human being” –Brian Clark (2020)

.

I’m not creative”, adalah sebuah mental block pada banyak kalangan. “Saya tidak kreatif, saya tidak memiliki kreativitas, maka saya tidak bisa menulis dengan baik”.

Denying your own creativity is like denying you’re a human being”, ujar Brian Clark (2020). Menyangkal bahwa Anda kreatif, sama dengan menyangkal hakikat kemanusiaan Anda sendiri. Sebab pada dasarnya, manusia adalah makhluk kreatif.

If you tell yourself you’re not creative, it becomes true. Stop that”, ujar Clark. Jika Anda selalu mengatakan, saya tidak kreatif, maka itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Maka hentikan pikiran itu.

Dalam diri manusia, terdapat potensi kreativitas yang tidak terbatas. Inilah kelebihan manusia —dan nilai kemanusiaan, dibanding dengan mesin komputer serta sistem kecerdasan buatan.

Manusia Lebih Kreatif Dibanding Mesin

Beberapa tahun lalu, sebuah film pendek berjudul Sunspring memenangkan kompetisi Film Sci Fi di London. Penulis skenario film ini adalah sistem artificial intelligence, suatu kecerdasan buatan menggunakan teknologi. Awalnya disebut Jetson oleh pemrogramnya, namun kemudian diganti menjadi Benjamin.

Sistem kecerdasan buatan ini disebut AIVA (Artificial Intelligence Virtual Artist). Sebuah program teknologi yang mampu menggubah musik klasik yang begitu memikat. Saat ini sering digunakan dalam film, iklan, dan video. Secara resmi bahkan telah memperoleh status sebagai komposer, lengkap dengan hak cipta atas karyanya.

Di Jepang, penghargaan Hoshi Shinichi pernah diberikan untuk prestasi yang luar biasa ini. Salah satu karya tulis dari sistem kecerdasan buatan di tahun 2016 berjudul “The Day a Computer Writes a Novel”. Sebuah novel yang ditulis oleh mesin komputer.

I writhed with joy, which I experienced for the first time, and kept writing with excitement. The day a computer wrote a novel. The computer, placing priority on the pursuit of its own joy, stopped working for humans”, demikian kutipan isi novel buatan komputer tersebut.

“Saya sangat gembira untuk pengalaman pertama ini, dan akan terus menulis dengan kegembiraan. Hari ketika komputer menulis novel. Komputer yang memprioritaskan mencari kesenangan sendiri, berhenti bekerja untuk manusia”.

Bukan hanya mampu menggubah musik klasik dan menulis novel, mesin komputer juga mampu membuat lukisan. Tahun 2018 sebuah lukisan berjudul “Potret Edmond Belamy” dijual seharga $ 432.500. Ini adalah karya lukis karya mesin komputer.

Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa mesin komputer terbukti mampu menulis novel, membuat copy writing, menulis skenario film, dan membuat cerita pendek. Namun, apakah mereka lebih kreatif dari manusia?

Richard Holman (2019) meyakini, manusia jauh lebih kreatif dibandingkan mesin yang mereka ciptakan. Ketika membuat film pendek Sunspring, pertama kali mesin bernama Jetson atau Benjamin mendapatkan input sangat banyak contoh skenario fiksi ilmiah.

Si mesin Benjamin bekerja memecah contoh-contoh ini menjadi kata-kata tunggal dan berusaha mencari pola. Ia akan menemukan kata yang cenderung mengikuti satu sama lain, pola dalam dialog dan ungkapan, juga pola dalam arah dan struktur cerita.

Setelah Benjamin berhasil mengidentifikasi pola-pola ini, dia mulai dapat menggunakannya untuk menghasilkan karakter, dialog, dan setting cerita karya dia sendiri. Apabila mesin komputer diberi input berupa contoh-contoh tulisan dari suatu genre, maka ia mengidentifikasi dan menemukan pola serta prinsip yang membuatnya bisa menciptakan karya sendiri.

Mesin komputer hanya dapat meniru dari bahan yang telah dimasukkan ke dalam program. Mereka tidak dapat membuat terobosan baru. Tidak dapat menciptakan cerita yang baru sama sekali.

Richard Holman dengan tegas menyatakan, “Human creativity, at its best, presents ourselves and our world to us in a way that we have not encountered before. Whereas computer-based creativity — for the time being at least — can only ever ape what has already been made”.

Intinya, kreativitas manusia tak akan tertandingin oleh kecerdasan mesin buatan. Semua kreativitas karya mesin komputer hanya dapat menduplikasi pola yang telah dimasukkan ke dalam programnya.

Jadi, apakah Anda masih merasa tidak kreatif? Mari menulis kreatif.

.

Bahan Bacaan

Brian Clark, Do You Recognize These 10 Mental Blocks to Creative Thinking? www.copyblogger.com, 10 Agustus 2020

Richard Holman, Why A.I. Can’t Replace Human Creativity, www.medium.com, 18 November 2019

2 thoughts on “Ketika Komputer Telah Mampu Menulis Novel Sendiri

  1. Bismillahirrahmanirrahiim

    Manusia adalah ciptaan yang sempurna dari Yang Maha Pencipta. Kesempurnaan manusia dibedakan karena dianugerahkan akal untuk berpikir.

    Adapun sistem kecerdasan buatan adalah hasil karya dari manusia yang diciptakan dengan kesempurnaan tadi.

    Sebuah sistem akan dipahami oleh yang membuatnya serta siapa saja yang mempelajarinya.
    Sistem berwujud benda atau cara.

    Sedangkan kecerdasan manusia ada pada diri manusia yang hidup dan matinya ditandai dengan adanya ruh. Disinilah letak beda yang nyata antara kecerdasan manusia dengan kecerdasan buatan.

    Terima kasih pak Cah
    Jazakallahu khair

    Rabu, 04/11/2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *