19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

I have to write hundreds of pages before I get to page one” – Barbara Kingsolver.

.

Menulis adalah sebuah proses. Bahkan hasil tulisan juga bisa menjadi sebuah proses. Misalnya, menjadi proses katarsis, penyembuhan diri, pelepasan beban, penyampaian harapan, pengungkapan keinginan, bahkan penyingkapan sebagian rahasia yang selama ini tersimpan.

Saya sering membedakan, menulis untuk sebuah projek, dan menulis untuk ekspresi diri. Jika kita menulis untuk sebuah projek, misalnya membuat buku, atau menulis artikel untuk koran, majalah, dan lain sebagainya, maka menulis memiliki definisi tujuan yang pasti. Menulis dilakukan sesuai dengan kerangka kerja tertentu sesuai dengan projek yang tengah digarap.

Sedangkan menulis untuk ekspresi diri, adalah proses rutin yang kita lakukan setiap hari. Tidak selalu untuk menghasilkan sebuah tulisan yang ‘selesai’. Tidak selalu untuk dipublikasikan. Kadang hanya untuk proses relaksasi diri, menuangkan perasaan dan keinginan dalam bentuk tulisan. Sekaligus untuk membangun habit, agar semakin lancar dan produktif menulis.

Dalam konteks yang manapun kita menulis, akan lebih lancar dan mengalir tulisan kita apabila kita bisa menuliskan dengan hati. Bukan menulis dengan beban. Menulis dengan hati adalah menulis yang kita nikmati, menulis yang kita rasakan dan kita hayati. Menulis yang keluar dari ketulusan.

Maka, terkadang dalam proses menulis, kita biarkan saja semua mengalir. Kita fokus pada proses menulis. Semua dikeluarkan. Semua pesan sebisa mungkin dapat tersampaikan melalui tulisan. Tak ada yang terlewatkan.

Jangan khawatir dan jangan takut melakukan kesalahan saat menulis. Karena akan ada saat membenarkan dan membenahi tulisan. Saat menulis, fokus saja pada proses menuangkan gagasan dan perasaan. Jangan mengedit saat menulis.

Memotong, Mengurangi, Mengubah, Menambah dan Memperindah

Setelah selesai proses menulis, saatnya kita melakukan self editing. Hal yang sangat penting dalam melakukan self editing adalah substansial editing, yaitu mengedit isi atau substansi dari isi tulisan. Pastikan secara substansi sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Pastikan secara isi sudah sesuai dengan tujuan penulisan.

Substansial editing juga mencermati jika ada bagian dari isi yang tidak sesuai dengan prinsip kebenaran dan etis. Jangan sampai tulisan kita melanggar undang-undang serta kepatutan norma. Ini menjadi tanggung jawab penulis, sepenuhnya.

Selanjutnya, lakukan mechanical editing semampu kita. Editing mekanik ini menyangkut PUEBI, KBBI serta aspek kebahasaan. Kita edit tulisan agar enak dibaca, mudah dipahami, dan indah untuk dinikmati.

Saat melakukan self editing ini, kita bisa memotong, mengurangi, mengubah, menambah dan memperindah. Tidak semua tulisan yang kita hasilkan harus dipertahankan. Kadang ada bagian yang harus dipotong atau dihilangkan. Kadang ada yang perlu dikurangi, atau ditambah. Kita bisa mengubah bagian-bagian manapun sesuai selera.

Jangan sungkan untuk memotong –bahkan jika harus dilakukan dalam jumlah yang banyak. Banyak penulis kelas dunia yang fokus menulis, dan tak mau membatasi dalam proses menulis. Namun mereka akan memotong dalam jumlah yang banyak, saat melakukan editing.

Barbara Kingsolver, penulis buku The Lacuna dan belasan buku lainnya, memahami bahwa menulis adalah sebuah proses. Oleh karena menulis adalah proses, maka hasil akhir berupa tulisan masih harus melewati editing. Tulisan yang dihasilkan setiap kali menulis, bukanlah ‘hasil baku’ yang tak bisa berubah.

I write a lot of material that I know I’ll throw away. It’s just part of the process. I have to write hundreds of pages before I get to page one”, ujar Barbara.

“Saya menulis banyak materi yang saya tahu akan saya buang. Itu hanya bagian dari proses. Saya harus menulis ratusan halaman sebelum saya masuk ke halaman satu”, ujarnya.

Barbara Kingsolver memberi contoh keberanian dalam memotong tulisan sendiri. Ratusan halaman ia tulis, mungkin untuk ‘pemanasan’, atau untuk ‘mengalirkan’ suasana menulis. Agar menemukan suasana yang paling pas dalam menulis. Hingga akhirnya ia menemukan bagian yang paling indah menawan.

Hal ini sama dengan yang disarankan oleh Karen Russell, penulis Sleep Donation dan banyak buku lainnya. Russel bahkan mengajarkan, “Enjoy writing badly.” Ia memandang, kita perlu bersikap santai dalam menulis, sampai kita bisa menerima bahwa bisa jadi sebagian besar tulisan kita akan terpotong.

If you can make peace with the fact that you will likely have to throw out 90 percent of your first draft, then you can relax and even almost enjoy writing badly”.

Menurut Russel, jika Anda bisa berdamai dengan fakta bahwa Anda mungkin harus membuang 90 % dari draf pertama Anda, maka Anda bisa santai dan bahkan menikmati proses “menulis dengan buruk”.

Yang dimaksud oleh Russel sebagai ‘writing badly’ adalah sebuah proses menulis yang tak perlu pusing tentang benar salah. Fokus saja pada proses menulis. Enjoy saja, nikmati saja, santai saja dalam menulis. Ini akan membuat proses menulis lebih mengalir.

Setelah tiba waktu mengedit, barulah kita pilih bagian yang sesuai keinginan. Potong saja bagian-bagian lain yang tak sesuai keinginan Anda, atau bagian yang Anda tidak menyukainya.

Santai saja. Jangan sungkan memotong, jangan merasa sayang menghilangkan sebagian tulisan. Pilih bagian yang benar-benar Anda inginkan, baru dipublikasikan.

Selamat menulis.

Bahan Bacaan

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com

2 thoughts on “Santai Saja, Tulis Semua, Potong Bagian yang Tak Relevan

  1. Assalamualaikum pak Cah

    Menulis sebagai sebuah proyek, menarik sekali. Sebuah kerja besar dan berkesinambungan.
    Terima kasih motivasinya pak Cah.

    Jazakallahu khair

    Selasa, 03/11/2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *