.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“Apa kabar Mas…” sebuah chat masuk ke nomer whatsapp (WA) saya. Dari nomer WA atas nama teman, berinitial HT. Salah seorang teman yang menjadi pejabat penting.
“Baik, alhamdulillah… Tumben Bang HT kontak saya… Bahagia sekali rasanya”, jawab saya.
“Iya Mas, tapi kali ini aku lagi perlu bantuanmu…” balas Bang HT.
“Apa yang bisa saya bantu Bang?” jawab saya.
“Pinjami aku uang 20 juta saja dulu. Ini mau bayar kekurangan beli mobil. Pekan depan aku kembalikan”, balasnya.
Saya merasa aneh dengan komunikasi ini. Pertama, selama berinteraksi dengan Bang HT, tidak pernah sama sekali ada pembicaraan soal uang. Kedua, dari profil pribadi Bang HT yang saya ketahui, rasanya mustahil meminjam uang 20 juta rupiah untuk kekurangan membeli mobil. Ketiga, Bang HT bukan tipe yang mudah hutang.
Saya tidak membalas lagi chat itu. Saya memilih chat ke salah seorang teman yang dekat dengan Bang HT, menceritakan komunikasi barusan.
Segera saya mendapat konfirmasi, bahwa nomer WA Bang HT sedang dibajak orang. Dalam waktu singkat, sudah banyak korban. Ratusan juta rupiah melayang.
Cerita seperti ini sudah sangat banyak kejadian. Modus pembajakan nomer WA sangat sering terjadi. Biasanya digunakan untuk melakukan pemerasan uang, sejak dari yang kecil, seperti minta pulsa, sampai yang besar seperti untuk pembiayaan tertentu dengan nominal ratusan juta.
Mengapa nomer WA bisa dibajak? Ada banyak modus. Salah satunya melalui modus yang membuat kita menyetujui sesuatu, seperti mengklik (next), (I agree), atau (finish). Untuk itu, kita perlu mengaktifkan two-step verification pada akun Whatsapp. Ini menjadi salah satu langkah keamanan untuk menghindari pembajakan.
Oke, cukup sampai di sini saja cerita tentang pembajakan nomer WA. Bukan tentang pembajakan nomer WA yang ingin saya sampaikan. Namun tentang kekuatan pesan dari sebuah cerita atau kisah.
Jika saya menulis pesan tentang pentingnya mengaktifkan two-step verification pada akun Whatsapp, ini hanya menjadi informasi biasa. Orang akan menerima sekedar sebagai sebuah pemberitahuan. Tak ada nilai lebihnya.
Agar Pesan Lebih Berkesan
Bagaimana agar pesan lebih kuat diterima oleh pembaca? Salah satunya adalah dengan data. Misalnya, “dalam satu pekan terakhir terjadi lebih dari 2.000 kasus pembajakan akun whatsapp”. Namun, mencari data seperti ini tidak mudah. Bahkan cenderung tidak ada data valid.
Jika tidak memiliki data valid, kita bisa membuat pesan menjadi lebih mendapat perhatian, apabila memasukkan unsur cerita atau kisah. Kisah atau cerita ini bisa dari pengalaman pribadi, benar-benar kita alami. Atau berdasarkan kejadian yang menimpa orang lain.
Satu cerita saja, sudah bisa membuat pembaca menjadi lebih yakin akan pentingnya nilai pesan yang kita sampaikan. Maka, memasukkan unsur cerita, menjadi penting untuk menguatkan nilai pesan melalui tulisan.
Sekarang saya ambil contoh yang berbeda. Lanang (bukan nama sebenarnya), pemuda berusia 19 tahun, memilih menjadi gelandangan di Kota A, tempat orangtuanya tinggal. Ia berasal dari keluarga yang mapan, serba kecukupan.
Ayah Lanang adalah seorang profesor, guru besar di sebuah kampus ternama. Mengapa Lanang melarikan diri dari rumah dan memilih hidup menggelandang di kota yang sama dengan tempat tinggal orangtuanya?
“Sejak SD, ayah selalu mengatakan aku malu-maluin. Setiap kali aku terima rapor, nilainya tidak bagus, ayah selalu marah. Aku dibilang malu-maluin ayah. Sampai SMA, masih terus dimongin malu-maluin ayah”, ujar Lanang.
Lalu mengapa Lanang harus hidup menggelandang? “Sekarang saatnya aku tunjukkan, bahwa aku benar-benar malu-maluin ayah. Biar ayah malu. Anaknya hidup menggelandang”, demikian ujar Lanang.
Ternyata Lanang tengah melakukan balas dendam. Ucapan ayahnya sejak SD yang menyebut dirinya malu-maluin, benar-benar melukainya. Kini ia ingin membuat ayahnya benar-benar malu.
Di antara prinsip pendidikan anak adalah, hendaknya orangtua mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Jangan sampai melakukan kekerasan baik verbal maupun nonverbal kepada anak. Kekerasan verbal dan nonverbal yang dilakukan orangtua, akan melukai hati anak.
Jika saya menyampaikan pesan, agar orangtua menjauhi kekerasan verbal dan nonverbal kepada anak, ini hanya akan diterima sebagai sebuah informasi. Pembaca akan mengatakan, “Saya sudah tahu”.
Namun jika saya menambah dengan kisah atau cerita, maka akan bisa lebih menguatkan nilai pesan bagi pembaca. Cerita akan menjadikan pesan lebih kuat tersampaikan.
Mengapa demikian? Karena cerita lebih mudah diingat, sedangkan teori cenderung lebih sulit diingat.
Maka, selipkan cerita dalam tulisan Anda, untuk menguatkan pesan kepada pembaca. Yang akan lebih diingat pembaca adalah ceritanya. Cerita itu akan membawa pembaca kepada nilai pesan yang kita maksudkan.
Selamat berkarya.

Subhanallah…
Itulah juga mengapa dlm al-quran banyak kisah-kisah utk diambil pelajaran
Matur Nuwun Suhu
Masya Allah
Kekuatan cerita dalam sebuah tulisan:
1. Bisa menyampaikan pesan yang lebih mudah
diingat.
2. Memudahkan pembaca menangkap pesan yang
disampaikan.
3. Bisa mengajak pembaca untuk ikut rekreasi
dengan alur cerita yang indah, atau turut
merasakan kesedihan jika itu cerita duka, dan
turut bersyukur jika itu cerita dengan akhir yang
bahagia.
Terima kasih pak Cah
Jazakallahu khair
Bukittinggi, 05/11/2020
Itulah makanya dalam kitab suci lebih banyak isinya narasi kisah cerita. Karena dengan cerita lebih nancap di hati di jiwa di kalbu. mantap pak Cahya tulisannya. Keren.