19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Dari seluruh naskah yang masuk kepada admin WWC hingga Rabu 14 Juni 2017, ada lima catatan umum saya untuk perbaikan. Lima catatan umum tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Catatan untuk Judul

Beberapa judul artikel sudah bagus dan menarik, sesuai dengan teori pembuatan judul. Beberapa yang lainnya membuat judul secara ‘standar’, dan beberapa lainnya judulnya perlu diubah agar lebih menarik dan mengandung kejelasan.

Contoh judul yang menarik:

10 Keuntungan LDR dari Suami

Bantu Aku Dengan Diam (Bisa ditambahi : Istriku, Bantu Aku Dengan Diam)

Nikah Muda Banyak Cerita

Hamil di Atas 40 Tahun, Siapa Takut?

Mengapa Wanita Harus Berbisnis?

Gaya Hidup Begini-begini Saja, Demi Hidup yang Tidak Begini-begini Saja

Dan lain-lain.

Contoh judul yang standar:

Menyemai Benih Iman

Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Mengejar CintaNya

Ketika Ujian Melanda

Dan lain-lain.

Contoh judul yang perlu diubah:   

  • Judul : Komunikasi

Judul ini kurang memberikan kejelasan dan kurang memiliki daya tarik. Perlu diubah dengan judul lain yang lebih memberikan kejelasan isi, agar pembaca tahu apa yang akan dibahas dalam tulisan itu. Sesungguhnya isi tulisan tersebut sangat bagus, menceritakan bagaimana semestinya orang tua menegur anaknya yang masih kecil, saat ia memetik bunga tanpa izin pemiliknya. Dicontohkan percakapan lembut yang membuat anak tidak tersakiti hatinya.

Judul itu bisa diubah dengan :

“Tips Berkomunikasi dengan Anak”

“Agar Hati Anak Tidak Terluka”

“Saat Anak Anda Melakukan Kesalahan”

Dan lain sebagainya.

  • Judul : Agar Undangan Bernilai Berkah

Ide dan isi tulisan sangat menarik, tentang bagaimana menampilkan undangan pernikahan, agar memiliki nilai berkah. Namun judulnya kurang memberikan informasi, bahwa yang dimaksud adalah undangan pernikahan. Padahal daya tarik terbesar tulisan itu –untuk segmen yang disasar– justru pada kata pernikahan.

Usulan perubahan judul :

“Agar Undangan Pernikahan Bernilai Berkah”

  • Judul : Malaikat Juga Tahu, Ibu Mertualah Pemenangnya

Ide dan isi tulisan sangat menarik, tentang dinamika hubungan antara menantu dengan mertua. Namun judul di atas menggunakan kata sakral : malaikat. Saya menyarankan, agar kata malaikat diganti dengan kata yang lain. Misalnya : Semut pun Tahu, Ibu Mertualah Pemenangnya.

Hal-hal yang masuk kategori Rukun Iman adalah sakral, dan menjadi sensitif untuk digunakan jika tidak dalam konteks yang benar. Malaikat adalah makhluk ghaib, sementara kita tidak akan bisa mengerti apapun kondisi dan kegiatan malaikat, kecuali dari sumber kitab Allah dan hadits Nabi Saw.

Kita tidak boleh mensejajarkan kedudukan para malaikat yang mulia dengan kedudukan manusia, juga tidak boleh menjadikan Rukun Iman sebagai hal yang sensasional.

Kedua, Catatan untuk Bagian Pendahuluan

Sudah banyak artikel karya peserta WWC menggunakan pendahuluan yang menarik, sesuai dengan teori. Misalnya dengan menggunakan ilustrasi cerita, atau penggambaran suatu kejadian, atau kutipan menarik dari tokoh.

Berikut ini saya ambilkan beberapa contoh naskah yang bagian pendahuluannya menarik.

  • Judul : Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Diawali dengan kisah dialog antara ibu dengan anak di sebuah warung sayur.

  • Judul : Mengejar CintaNya

Diawali dengan ilustrasi kegiatan pagi hari di sebuah rumah, yang pernah ditayangkan dalam iklan kopi di televisi.

  • Ingin Mendapatkan Kebahagiaan Hidup?

Diawali dengan kisah Umar bin Khathab yang tidur di gubuk beralaskan pelepah kurma.

  • Judul : Agar Undangan Bernilai Berkah

Diawali dengan kutipan yang sesuai dengan tema tulisan, dari ulama muda Salim A. Fillah.

  • Judul : Bantu Aku Dengan Diam

Diawali dengan kejadian di sebuah rumah kontrakan, menggambarkan aktivitas harian suami dan istri.

  • Judul : Mengapa Wanita Harus Berbisnis?

Diawali dengan berita kematian seorang suami dengan meninggalkan beberapa anak yang masih kecil-kecil.

Namun masih ada beberapa naskah yang tidak menggunakan bagian pendahuluan, langsung masuk ke bagian isi. Cara seperti ini tampak terlalu to the poin, dan kurang menarik pembaca, walaupun isinya bagus.

Beberapa contoh naskah yang tidak menggunakan pendahuluan:

  • Judul : 5 Langkah Mudah Menjadi  Istri Solehah

Sangat baik kalau diawali dengan kisah atau penggambaran atau contoh istri salihah. Akan lebih hidup dan menarik.

  • Judul : Komunikasi

Sangat baik kalau diawali dengan kutipan ayat atau hadits tentang pendidikan anak. Bisa juga pernyataan tokoh tentang pentingnya komunikasi antara orang tua dengan anak.

Contoh : “I have found the best way to give advice to your children is to find out what they want and then advise them to do it” –Harry S. Truman.

  • Judul : Menyemai Benih Iman

Sangat baik jika diawali dengan kisah anak-anak di zaman Nabi Saw atau sahabat Nabi. Bisa juga kutipan pernyataan ulama tentang pentingnya pendidikan iman dalam kehidupan anak.

Ketiga, Catatan untuk Bagian Isi

Dalam bagian isi, ada beberapa catatan umum saya atas naskah yang sudah masuk ke admin WWC, sebagai berikut:

  • Konten Positif

Secara keseluruhan naskah yang masuk memiliki konten positif. Semuanya positif dan konstruktif. Inilah misi menulis yang kita lakukan, yaitu memberikan motivasi dan inspirasi masyarakat luas untuk melakukan kebaikan. Pertahankan corak tulisan seperti ini, bahkan jadikan kepribadian tulisan anda.

  • Konten Unik

Sudah banyak konten yang unik dari naskah yang masuk, karena menggunakan perspektif yang berbeda dengan pembahasan yang sudah banyak beredar. Sekedar sebagai contoh adalah naskah “10 Keuntungan LDR dari Suami”.

Biasanya orang melihat LDR dari sisi negatif, dan memberi nasihat agar bisa menghadapi dengan baik. Namun naskah tersebut mengambil perspektif unik, melihat sisi keuntungan LDR dengan suami.

  • Perlunya Pembagian Subjudul

Secara teknis, bagian isi adalah yang paling panjang sari sebuah tulisan. Maka bagian isi perlu dibagi menjadi beberapa sub-bagian, dan setiap sub-bagian diberikan subjudul yang menarik. Kegunaan subjudul adalah untuk memberikan jeda, sekaligus memberikan semangat baru untuk meneruskan membaca bagian selanjutnya.

Sebagian besar naskah yang masuk belum dibadi menjadi beberapa sub bagian. Hal ini mudah memberikan efek lelah bagi pembaca, karena tidak ada kesempatan jeda.

Keempat, Catatan tentang Pembuatan Paragraf

Sebagian besar naskah yang masuk sudah benar dalam membuat paragraf. Hanya ada sedikit naskah yang belum tepat dalam membuat paragraf. Berikut naskah yang perlu dibenahi pembuatan paragrafnya:

  • Judul : Air Mata Menuju Surga

Dalam naskah ini satu paragraf hanya terdiri dari satu kalimat. Kemungkinan besar ditulis menggunakan gadget atau smartphone. Harap diperhatikan, paragraf dalam medsos berbeda dengan paragraf dalam artikel. Medsos cenderung tidak memiliki aturan baku, namun artikel memiliki aturan tentang paragraf.

Saran saya, jika anda menulis artikel menggunakan smartphone, hendaknya anda mengubah ke bentuk naskah menggunakan laptop atau komputer. Karena sangat berbeda karakternya.

  • Judul : Mengejar CintaNya

Catatan saya untuk naskah ini sama dengan sebelumnya, yaitu satu paragraf hanya terdiri dari satu kalimat. Kemungkinan besar ditulis menggunakan gadget atau smartphone. Ini perlu dibenahi agar sesuai standar pembuatan paragraf.

  • Judul : Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Untuk naskah ini, secara umum sudah benar dalam pembuatan paragraf. Hanya pada paragraf pertama saja yang perlu dibenahi untuk membuat lebih menarik penampilannya. Karena berbentuk dialog, bisa dibuat paragraf tersendiri untuk setiap bagian dialog.

Tertulis pada naskah:

“Yang ini apa Ma?” tanya seorang anak kecil pada ibunya di sebuah warung sayur. “Terong!” jawab ibunya ketus sambil terus memilih sayuran yang akan dibeli. “Yang ini?” lanjut si anak bertanya, anak sepertinya tidak peduli atau memang tidak tahu bahwa ibunya tidak suka ditanya-tanya. “Labu siam!” jawab ibu masih dengan ketusan yang sama. “Kalau ini?” anak masih juga penasaran. “Diem ih! Nanya mulu kamu!” Akhirnya kesabaran si ibu habis juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele dari anak.

Saran perubahan:

“Yang ini apa Ma?” tanya seorang anak kecil pada ibunya di sebuah warung sayur.

“Terong!” jawab ibunya ketus sambil terus memilih sayuran yang akan dibeli.

“Yang ini?” lanjut si anak bertanya. Anak sepertinya tidak peduli atau memang tidak tahu bahwa ibunya tidak suka ditanya-tanya.

“Labu siam!” jawab ibu masih dengan ketusan yang sama.

“Kalau ini?” anak masih juga penasaran.

“Diem ih! Nanya mulu kamu!” Akhirnya kesabaran si ibu habis juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele dari anak.

Kelima, Catatan tentang Teknis Penulisan

Terkait teknis penulisan, ada beberapa catatan saya dari naskah yang masuk.

  • Hindari Penggunaan Singkatan

Hendaknya menghindari penggunaan singkatan, kecuali untuk hal-hal yang memang dibolehkan untuk disingkat. Menulis artikel untuk dipublikasi melalui koran, majalah atau web resmi itu berbeda dengan menulis di grup whatsapp atau menulis di facebook, twitter, instagram dan lain-lain. Untuk artikel, tidak disarankan ada singkatan walaupun pembaca sudah tahu maksudnya, seperti yg, utk, dll, dlm, dan lain sebagainya.

Contoh singkatan yang harus dihindari dalam penulisan artikel:

Menurut Sean Convey dlm buku ‘The 7 Habits of Highly Effective Teens’, ada tujuh kebiasaan yg bisa dilakukan remaja utk sukses di masa depan.

Seharusnya:

Menurut Sean Convey dalam buku ‘The 7 Habits of Highly Effective Teens’, ada tujuh kebiasaan yang bisa dilakukan remaja untuk sukses di masa depan.

Contoh yang memang dibolehkan untuk disingkat adalah nama-nama lembaga, instansi, gelar, organisasi, dan lain-lain semisal itu. Seperti TNI, Polri, PGRI, SD, SMP, SMA, Drs, dan lain-lain.

  • Hindari Sarkasme

Kata-kata yang tidak patut diucapkan, tidak patut pula untuk dituliskan. Misalnya kata-kata sarkasme. Banyak penulis cerpen atau novel biasa menggunakan kata-kata kasar dengan alasan menuliskan apa yang sesungguhnya terjadi dalam kebiasaan hidup di masyarakat. Kata-kata “misuh” dengan menggunakan nama-nama binatang, ditulis secara vulgar karena dalam kenyataan sehari-hari banyak orang mengucapkan kata itu.

Saya menemukan satu contoh pada naskah berjudul “Gaya Hidup Begini-begini Saja, Demi Hidup yang Tidak Begini-begini Saja”. Perhatikan kutipan satu paragraf dari naskah tersebut:

Melati, sebut saja demikian, bukan nama sebenarnya, mengupload foto jalan-jalannya ke Singapura. Dengan memamerkan barang-barang belanjaan dan tas brandednya. Dia menulis caption besar-besar “LIFE IS BEAUTIFUL”. Di seberang sana, Mawar, Bunga, Dahlia, Kembang, Kuncup melihat status Melati di HP masing-masing sambil ngedumel, “Life is beautiful ndasmu… mbok ya bayar utang dulu sebelum jalan-jalan. Utang ra sepiro kok yo lali…”

Penggunaan kata “ndasmu” dalam naskah tersebut bisa memberikan bias persepsi tentang si penulis dan tentang isi naskah. “Ndasmu” adalah kata kasar yang masuk kategori sarkasme.

Jika kata itu diucapkan langsung akan bisa membuat orang kebanyakan tersinggung. Maka menjadi tidak etis pula untuk dituliskan. Penggunaan kata semacam itu bisa kontraproduktif dengan isi naskah yang Islami dan menasihati.

  • Pelajari Kosa Kata Baku

Ada kosa kata baku, yang dianggap benar menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hendaknya kita menggunakan yang baku.

Contoh :

Judul : Air Mata Menuju Syurga

Catatan ada pada penggunaan kata “syurga”. Menurut KBBI, yang benar adalah surga, tanpa huruf y. Kadang kita menemukan variasi tulisan surga, seperti syurga, sorga, dan syorga. Walaupun kita mengerti maksudnya sama, namun ada yang baku dalam KBBI, maka kita gunakan yang baku.

Judul : 5 Langkah Mudah Menjadi Istri Solehah

Catatan pada penggunaan kata “solehah”. Menurut KBBI, yang benar adalah salihah. Kita sering menemukan variasi tulisan salihah, seperti solehah, sholihah, shalihah, sholehah dan lain sebagainya. Walaupun kita mengerti maksudnya sama, namun ada yang baku dalam KBBI, maka kita gunakan yang baku.

  • Gunakan huruf miring untuk kata serapan atau kata yang tidak lazim

Boleh saja kita menggunakan kata-kata yang tidak lazim atau kata-kata serapan dari bahasa asing maupun bahasa daerah. Namun perlu diberi tanda dengan menggunakan huruf miring atau italic.

Misalnya pada naskah berjudul “Gaya Hidup Begini-begini Saja, Demi Hidup yang Tidak Begini-begini Saja”. Perhatikan kutipan dari naskah tersebut:

Melati, sebut saja demikian, bukan nama sebenarnya, mengupload foto jalan-jalannya ke Singapura. Dengan memamerkan barang-barang belanjaan dan tas brandednya. Dia menulis caption besar-besar “LIFE IS BEAUTIFUL”. Di seberang sana, Mawar, Bunga, Dahlia, Kembang, Kuncup melihat status Melati di HP masing-masing sambil ngedumel, “Life is beautiful ndasmumbok ya bayar utang dulu sebelum jalan-jalan. Utang ra sepiro kok yo lali…”

Ada banyak kata-kata serapan dan kata-kata tidak baku, seperti upload, branded, caption, life is beautiful, ngedumel, ndasmu, mbok ya, utang ra sepiro kok yo lali. Perlu ditandai dengan menggunakan huruf miring.

Semoga bermanfaat untuk perbaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *