19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Hari ini, Rabu 10 November 2021, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan dengan tema “Pahlawanku Inspirasiku”. Diharapkan bangsa Indonesia mampu mengambil inspirasi kepahlawanan dari para tokoh pahlawan bangsa.

Di antara sekian banyak pahlawan nasional Indonesia, terdapat tokoh-tokoh yang pandai dan rajin menulis. Mereka adalah inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia, lantaran jiwa dan sikap kepahlawanan yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga memberi kita inspirasi dalam hal ketekunan membaca dan menulis.

Berikut saya cuplikkan tujuh tokoh pahlawan nasional Indonesia yang rajin dan pandai menulis. Mereka telah melakukan berbagai bentuk perjuangan –salah satunya adalah melalui tulisan. Kita bisa mendaptkan banyak inspirasi dan motivasi dari para pahlawan nasional yang rajin menulis ini.

Pertama adalah proklamator kemerdekaan RI, Soekarno. Sejak kecil Soekarno telah suka membaca buku-buku milik ayahnya. Ia juga suka membaca buku selama bersekolah di HBS.

Bung Karno banyak membaca buku-buku biografi tokoh negarawan dunia selama tinggal di rumah Tjokroaminoto. Saking cinta kepada buku, Soekarno menyimpan laci berisi buku-buku di toilet.

Soekarno melahirkan banyak karya tulis. Di antaranya dua jilid buku berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” yang berjumlah 630 halaman, “Indonesia Menggugat” yang ditulis selama dalam tahanan Penjara Banceuy, hingga berbagai pidato selama menjadi Presiden RI.

Kedua adalah proklamator kemerdekaan RI, Mohammad Hatta. Dirinya dikenal suka membaca buku sejak remaja. Selama menjadi mahasiswa di Amsterdam, Bung Hatta banyak membeli buku sehingga kamarnya penuh sesak dengan buku. Setelah menikah, ia tak memiliki tabungan karena uangnya habis untuk membeli buku. 

Saat menikah, ia memberikan maskawin berupa buku berjudul Alam Pikiran Yunani kepada istrinya, Rahmi Rahim. Alam Pikiran Yunani adalah buku tentang filsafat yang ia tulis sendiri. 

Bung Hatta membawa buku-bukunya saat diasingkan ke Banda Neira dan Boven Digoel, pada 25 Februari 1934. Totalnya ada 16 peti penuh berisi buku. Hal ini ia lakukan agar tetap bisa membaca dan menulis banyak hal meskipun berada di dalam penjara.

Hingga tahun 1972, Mohammad Hatta telah menulis 42 buah buku. Belum termasuk tulisan-tulisannya di surat kabar, majalah, dan brosur. Hatta menjadi salah satu pahlawan nasional yang berperan di bidang jurnalistik.

Ketiga adalah Ki Hadjar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional ini adalah wartawan di beberapa surat kabar seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda. Ia banyak mengkritik kebijakan pemerintah kolonial terkait pendidikan, di mana hanya anak-anak Belanda dan anak-anak priyayi saja yang bisa mengakses pendidikan.

Tulisan Ki Hadjar Dewantara yang paling dikenal pada masa itu adalah Een voor Allen maar Ook Allen voor Een atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga” dan Als ik een Nederlander was atau ”Seandainya Aku Seorang Belanda”.

Dua tulisan tersebut terbit di surat kabar De Express pada 19 Juli 1913 yang diasuh Ernest Douwes Dekker. Akibat tulisan-tulisannya ini, ia pun diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga tokoh ini yang kemudian dikenal sebagai ‘Tiga Serangkai’. 

Keempat adalah Raden Ajeng Kartini. Dirinya mulai gemar membaca sejak dibawakan buku-buku oleh kakaknya, Raden Mas Panji Sosrokartono. Ia mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) hingga berumur 12 tahun. Selama di ELS, Kartini terkenal akan kemahirannya dalam berbahasa Belanda.

Kartini pernah menjalani tradisi pingitan sampai ada seorang pria yang melamarnya. Masa pingitan ini membuat Kartini semakin rajin membaca dan menulis. Ia membaca berbagai tulisan bertema sosial, budaya, politik, agama, sastra, hingga keperempuanan berbahasa Belanda.

Kartini menuangkan gagasan dan pemikirannya melalui surat-surat yang ia tulis kepada kawannya di Belanda. Ia juga mengirimkan berbagai artikel yang ia tulis ke surat kabar dan majalah. Tulisannya banyak yang sudah dipublikasikan di sejumlah media dan jurnal. 

Salah satu tulisan Kartini yang terkenal berjudul Het Huwelijk de Kodja’s (Perkawinan pada Suku Koja) yang ia tulis pada umur 16 tahun. Tulisannya ini menceritakan tentang upacara perkawinan suku Koja di Jepara. Tiga tahun kemudian, ia menulis artikel tentang seni Jepara yang dipublikasikan di Bijdrage Voor Taal, land en Volkenkunde, sebuah jurnal ilmiah bergengsi di Belanda.

Selain itu, tulisannya yang berupa surat-surat untuk sahabatnya Abendanon (1879-1904), telah dibukukan menjadi karya fenomenal yang berjudul Door Duisternis tot LichtDoor Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). 

Kelima adalah Tan Malaka. Tokoh pahlawan ini dikenal mahir berbahasa Belanda. Ia dikirim untuk belajar di Rijkskweekschool, Belanda pada Oktober 1913. Tan Malaka banyak membaca buku tentang kemiliteran, ekonomi, sosial, dan politik.

Setelah Revolusi Rusia pada 1917, Tan Malaka tertarik mempelajari tentang kesetaraan hak ekonomi bagi masyarakat. Ia melahap habis buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engles, dan Vladimir Lenin.

Pada tahun 1925, Tan Malaka menulis buku berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Buku ini berisi gagasan konsep republik dan menjadi tulisan pertama yang menyebut ‘Republik Indonesia’. Buku ini menjadi pegangan para tokoh pergerakan nasional, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Amir Sjarifuddin.

Di buku Madilog ia membahas ‘’logika mistika’’, hal yang menghambat bangsa Indonesia untuk maju dan merdeka pada saat itu. Ia menyuguhkan cara berpikir baru berdasarkan filsafat dan sains agar bangsa Indonesia bisa keluar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Salah satu karya Tan Malaka berjudul Tanah Orang Miskin. Tulisan tersebut berkisah tentang perbedaan mencolok kekayaan kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord. Tan Malaka juga menulis tentang penderitaan para kuli di perkebunan teh di Sumatera Post. Buku-buku lain yang ia tulis adalah Rentjana Ekonomi, Theses, dan Gerilya Politik Ekonomi (Gerpolek).

Keenam adalah Djokomono Tirto Adhi Soerjo atau yang lebih dikenal Tirto. Ia adalah tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Tirto juga dikenal sebagai perintis surat kabar dan kewartawanan di Tanah Air. Namanya sering disingkat TAS.

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita pada 1903-1905, Medan Prijaji 1907, dan Putri Hindia 1908. Dia juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama, karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, hingga wartawannya adalah pribumi.

Ketujuh adalah Buya Hamka. Beliau adalah seorang ulama dan juga sastrawan. Dirinya berkegiatan sebagai wartawan, penulis, pengajar dan aktivis dakwah Islam. Hamka juga terjun dalam dunia politik melalui Partai Masyumi hingga partai tersebut dibubarkan.

Hamka mengarang kitab tafsir berjudul Al-Azhar. Ia juga menulis novel serta banyak buku keislaman. Hingga hari ini, buku-buku Buya Hamka masih terus diterbitkan dan dibaca oleh masyarakat Indonesia.

Demikianlah sekelumit tentang tujuh tokoh pahlawan nasional yang memberikan inspirasi kepada kita semua untuk rajin menulis. Mereka telah menunjukkan kesungguhan dalam membela tanah air. Mereka berjuang dengan berbagai macam cara —salah satunya melalui tulisan.

Selamat menulis, selamat Hari Pahlawan. Semoga mampu mengambil inspirasi semangat kepahlawanan untuk mengisi kemerdekaan dengan kebaikan.

Bahan Bacaan

Erdisa Nurmalia, Ini 5 Pahlawan Nasional yang Mencintai Buku sejak Muda, Siapa Saja? https://blog.tempoinstitute.com, 21 Agustus 2020

Teatrika Handiko Putri, Deretan Pahlawan Nasional yang Juga Seorang Jurnalis dan Penulis, https://www.idntimes.com, 14 Agustus 2019

1 thought on “Tujuh Pahlawan Nasional yang Pandai Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *