20 September 2026

.

Oleh : Tjiptadinata Effendi, Kompasiana

Apapun yang terjadi dengan tulisan saya, tidak akan menghentikan saya untuk terus menulis” –Tjiptadinata Effendi, 2022.

.

Sejujurnya ada masa masa keemasan yang menyemangati saya untuk terus menulis karena tulisan saya mendapatkan tempat terhormat. Tetapi ada kalanya saya merasa kecewa dan sedih karena hasil menulis dengan sudah payah ternyata mendapatkan tempat yang tidak sesuai harapan.

Karena itu saya selalu melakukan  “inner dialogue” terhadap diri sendiri bahwa bila saya ingin tetap menulis di Kompasiana dengan menghadapi segala gonjang ganjing yang tidak dapat dipahami, maka saya harus mampu menulis dengan prinsip “nothing to lose“.

Nothing to lose” saya maknai secara pribadi dengan : “Apapun yang terjadi dengan tulisan saya, tidak akan menghentikan saya untuk terus menulis.”

Nothing to lose” saya maknai secara pribadi dengan : “Apapun yang terjadi dengan tulisan saya, tidak akan menghentikan saya untuk terus menulis.”

Berdasarkan prinsip inilah saya mampu bertahan menulis walaupun seperti yang sudah saya tuliskan, begitu banyak godaan dan pertanyaan, “Untuk apa terus menulis, bila tulisan kita tidak lagi dihargai?” 

Atau “untuk apa buang waktu menulis hanya untuk dibaca belasan orang?” Atau “Penulis National Best Seller kok tulisannya hanya dibaca dua digit pembaca?”

Tapi saya bersyukur setiap kali saya goyah, saya ingat akan prinsip awal menulis yakni “nothing to lose”.

.

Dikutip dari : Kompasiana

Tjiptadinata Effendi,  Menulis dengan Prinsip “Nothing to Lose”, https://www.kompasiana.com, 7 Maret 2022.

1 thought on “Teruslah Menulis, “Nothing to Lose”

  1. Setuju dengan prinsip Om Tjip Pak Cah. Pantasan aja beliau bisa menulis seperti bernapas seperti prinsip Pak Cah. Saya masih harus belajar banyak agar bisa konsisten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *