.
Oleh : Cahyadi Takariawan
Mengatasi Rasa Takut Akan Kegagalan Menulis
“I’m afraid of failing at whatever story I’m writing —that it won’t come up for me, or that I won’t be able to finish it” –Stephen King.
.
Takut gagal adalah salah satu kendala produktivitas menulis. Belum lagi mulai menulis, sudah dibayang-bayangi dengan kegagalan. Beberapa penulis pemula membayangkan hal-hal pahit dan negatif yang belumkejadian.
“Jangan-jangan hasil tulisanku nanti tidak bagus”.
“Jangan-jangan tulisanku nanti ditolak oleh koran”.
“Jangan-jangan naskah buku karyaku ditolak penerbit mayor”.
“Bagaimana kalau tulisanku tidak ada yang mau membaca?”
“Bagaimana jika bukuku tidak laku dijual?”
Itu adalah contoh ketakutan akan kegagalan dalam proses menulis. Bagi para penulis pemula, sejumlah ketakutan tersebut menjadi kendala besar dalam menciptakan karya tulis. Mereka memilih berhenti menulis dan tidak melanjutkan berkarya, karena diliputi rasa cemas dan kekhawatiran berlebihan.
Mengatasi Rasa Ketakutan
“Clearly, if Stephen King still suffers from fear of failure, then it will never go away and we’re all in good company! Fears are generally about yourself or about how others will receive your work” –Joanna Penn, 2022.
“Saya takut gagal pada cerita apa pun yang sedang saya tulis —bahwa itu tidak akan hadir untuk saya, atau bahwa saya tidak akan dapat menyelesaikannya,” ujar Stephen King. Bahkan penulis senior sekelas King masih memiliki rasa takut dan khawatir.
Rasa khawatir dan takut gagal adalah hal yang lumrah dan manusiawi. Semua penulis bisa saja memilikinya, meskipun sudah sekelas Stephen King. Namun, seperti apa manifestasi rasa ketakutan yang Anda hadapi?
Apakah ketika Anda sudah mengirim naskah ke koran, menunggu keputusan dewan redaksi, kepala Anda menjadi pening, perut mual, jantung berdebar, dan keringat muncul berlebihan? Jika gejala seperti ini yang terjadi, sepertinya Anda memerlukan bantuan pihak profesional.
“If you’re getting these symptoms all the time, then definitely see a professional. But if you experience them as part of your author journey when you come up against situations you fear, I’d say this is entirely normal” –Joanna Penn, 2022.
Setiap orang memiliki definisi dan bentuk kegagalan yang berbeda. “Saat karier menulis Anda semakin berkembang, risiko kegagalan mungkin akan lebih tinggi”, ungkap Joanna Penn. Ada penulis yang telah memiliki kontrak penerbitan tertentu dan merasa gagal ketika buku itu tidak cukup laku terjual di pasaran.
Joanna Penn juga menceritakan ada penulis yang telah kontrak pembuatan film dari buku yang ditulis, namun ternyata film tidak jadi diproduksi. Di sini, ia merasa gagal. Menurut Penn, seorang penulis yang baru menerbitkan buku pertama, mungkin mengharapkan adanya kemajuan secara sederhana. Tidak muluk-muluk.
“Namun definisi kita tentang kesuksesan berubah seiring waktu dan begitu pula persepsi tentang hal yang merupakan kegagalan”, ungkap Penn. Makin profesional seorang penulis, makin populer di pentas kepenulisan, maka persepsi tentang kegagalan dan keberhasilan juga semakin berkembang.
“The physical experience of fear hasn’t changed since we were running away from predators and living in caves. Of course, if we ‘fail’ as writers, no one’s going to die, but that doesn’t change the physical manifestation of fear or anxiety” –Joanna Penn, 2022.
Secara sadar kita harus mempu mengelola dan mengatasi kecemasan ataupun rasa takut, agar tidak menghambat perkembangan produktivitas menulis. “Jika Anda mengalami kecemasan sebagai bagian dari proses perjalanan menulis, terutama ketika menghadapi situasi yang Anda takuti, saya mengatakan ini sepenuhnya normal”, ujar Joanna Penn.
Lebih lanjut Penn menyatakan, “Beberapa bentuk kecemasan adalah kenyataan di setiap bagian kehidupan, jadi Anda harus menemukan cara untuk menghadapinya”. Jangan membiarkan diri Anda dikuasai perasaan kecemasan ataupun ketakutan.
Berani Mengambil Risiko
“Risk is essential. It’s scary. Every time I sit down and start the first page of a novel I am risking failure. We are encouraged in this world not to fail” –Madeleine L’Engle, 2017.
Salah satu cara menghadapi kecemasan dan ketakutan dalam menulis adalah dengan keberanian mengambil risiko. Semua bagian dari aktivitas hidup kita, pada dasarnya selalu dipenuhi dengan risiko. Semua pilihan, selalu ada risiko yang harus dihadapi. Tidak ada orang hidup yang tidak berhadapan dengan risiko.
“(Berani mengambi) risiko itu penting. Itu memang menakutkan. Setiap kali saya duduk dan memulai halaman pertama sebuah novel, saya berisiko gagal. Kita didorong di dunia ini untuk tidak gagal”, ujar Madeleine L’Engle.
Ungkapan jujur novelis L’engle ini sangat menarik. Salah satu penyebab munculnya ketakutan pada diri kita adalah karena dalam kehidupan keseharian, kita selalu diarahkan untuk berhasil. Kita selalu didorong untuk tidak gagal. Maka kegagalan menjadi sedemikian menakutkan.
L’engle menyatakan, “Kita selalu didorong untuk melakukan apa yang membuat kita mencapai keberhasilan. Padahal segala sesuatu hanya bisa dicapai dengan menganggung risiko kegagalan”. Jika kita tidak berani menanggung risiko kegagalan, maka kita tidak akan pernah bisa berkembang.
“We are encouraged only to do that which we can be successful in. But things are accomplished only by our risk of failure. Writers will never do anything beyond the first thing unless they risk growing” –Madeleine L’Engle, 2017.
Setelah berhasil menciptakan karya tulis, seseorang akan berhenti melakukannya karena khawatir akan gagal pada karya berikutnya. “Penulis tidak akan pernah melakukan apa pun kecuali jika mereka mau mengambil risiko untuk berkembang,” ujar L’engle.
Bahkan Seandainya Anda Benar-benar Gagal
“The experience of fear is often worse than the actual event and if you are never afraid as a writer, then you are never challenging yourself” –Joanna Penn, 2022.
Sering kali, pengalaman tentang ketakutan itu sendiri lebih buruk daripada kejadian yang sebenarnya. Kegagalan, seandainya Anda benar-benar mengalaminya, bukanlah akhir dari karier menulis yang Anda rintis. Misalnya Anda gagal menjadi juara dalam lomba menulis cerpen, bukan berarti karier sebagai penulis cerpen sudah berakhir.
“Jika Anda tidak pernah merasa takut sebagai penulis, maka Anda tidak pernah menantang diri sendiri”, ujar Joanna Penn. Rasa takut gagal itu wajar saja, jangan dilebih-lebihkan. Bahkan seandainya Anda benar-benar gagal mencapai target menulis, itupun hal wajar saja dalam dunia kepenulisan.
Misalnya Anda gagal menciptakan tulisan yang disenangi banyak orang, apakah ini masalah? “Tidak ada yang akan mati karena tulisan Anda mendapatkan kritikan pedas, atau satu-satunya orang yang mau membaca buku Anda adalah ibu Anda, atau Anda berbicara di sebuah seminar dan orang-orang keluar dari ruangan”, ungkap Penn.
“No one will die because you received a scathing review, or the only person who reads your book is your Mum, or you speak at a festival and people walk out” –Joanna Penn, 2022.
Jangan berharap tulisan Anda selalu mendapat banyak likes, comments dan shares. Jangan bermimpi tulisan Anda selalu memiliki efek viral. “Anda tidak bisa berharap perjalanan penulis selalu menjadi trending”, ujar Joanna Penn. Jadi, jika tulisan Anda tidak mendapatkan banyak likers di media sosial, itu bukan pertanda kiamat bagi perjalanan menulis Anda.
“Seperti kehidupan pada umumnya, akan selalu ada pasang surut, kegagalan dan kesuksesan. Maka lewati rasa takut itu dan kembalilah menulis”, sambung Penn. Bersikap wajar saja, kembalikan semuanya kepada tujuan menulis.
“You can’t expect the writer’s journey to always be trending up. Like life in general, there will be highs and lows, failures and successes. Get past the fear and back to the writing” –Joanna Penn, 2022.
Teruslah menulis, karena “Kamu hanya gagal jika kamu berhenti menulis”, ungkap Ray Bradbury. Bagaimana dengan Anda?
“You only fail if you stop writing” –Ray Bradbury.
Bahan Bacaan
Catherine Haustein, Sixteen Sweet Writing Tips from Madeleine L’Engle, https://catherinehaustein.com, 25 Juli 2017
Joanna Penn, How Writers Deal With The Fear Of Failure, https://www.thecreativepenn.com, diakses 27 Januari 2022.
