19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

You just can’t learn to be creative. All creators have their own methods. One can only imitate high-standard style, but this does not lead to anything, it is impossible to penetrate the work of the creative spirit” –Ivan Goncharov.

.

Apakah tulisan fiksi Anda harus dibandingkan dengan karya Tere Liye? Apakah esai Anda harus dibandingkan dengan Goenawan Mohamad? Tentu saja tidak adil untuk membandingkan seperti itu.

Anda melewati sejarah kehidupan yang berbeda dengan Tere Liye, Goenawan Mohamad, dan penulis manapun di muka bumi ini. Pun mereka semua memiliki sejarah yang berbeda dengan Anda. Lalu bagaimana akan disamakan karya satu dengan yang lainnya?

Menjadi Diri Sendiri

A lot of young writers begin by imitating their literary idols, but it’s a road to nowhere. You can’t just adopt the style of another writer and become successful. It’s important to develop your own style and working principles” –Yulia Shamporova, 2018.

Sangat simpatik ungkapan Yulia Shamporova. Menurutnya, “Banyak penulis muda mulai dengan meniru idola sastra mereka, tapi itu artinya mereka tidak bergerak ke mana-mana. Anda tidak bisa begitu saja mengadopsi gaya penulis lain dan menjadi sukses. Penting untuk mengembangkan gaya dan prinsip kerja Anda sendiri”.

Novelis Rusia abad 19, Ivan Goncharov, menyatakan “Anda tidak bisa belajar menjadi (sepenuhnya) kreatif. (Sebab) semua pencipta memiliki metode masing-masing”. Anda tidak perlu risau bahwa gaya tulisan Anda berbeda dari penulis manapun. Sebab setiap penulis memiliki gaya, metode dan corak sendiri.

Roberta Jean Bryant (1999) bahkan mengajak Anda untuk mempercayai hal-hal yang inhern ada dalam diri Anda sendiri. Pengalaman, pemikiran, perasaan, pendapat, imajinasi— itu semua sudah Anda miliki. Itulah titik kebermulaan Anda dalam menulis. Mengapa harus merasa tidak percaya diri?

Trust yourself. Trust your experience. Trust your hunches, your opinions, your feelings” –Roberta Jean Bryant, 1999.

Kita mulai menulis dari titik kita masing-masing. Saya unik, Anda unik, mereka para penulis hebat itu juga unik. Saya tidak perlu membandingkan tulisan saya dengan tulisan para penulis hebat itu, namun saya selalu belajar kepada mereka agar bisa lebih baik dalam menghasilkan karya.

Saat saya menulis pendapat saya tentang sesuatu hal—misalnya tentang keharmonisan keluarga, bisa saja berbeda dengan pendapat orang lain. Mengapa demikian? Karena setiap kita memiliki pengalaman berkeluarga yang bisa berbeda. Maka percayailah pengalaman Anda sendiri.

Trust your uniqueness as a vulnerable human being who has experienced life in a different way from any other individual, past, present, or future. There are no new ideas  –only new perceptions, new ways of seeing things, fresh points of view. Trust yours” –Roberta Jean Bryant, 1999.

Masa lalu Anda, masa sekarang dan masa depan Anda, jelas berbeda dari orang lain. Masing-masing kita telah ditempa dengan berbagai pengalaman kehidupan, berbagai kejadian dan peristiwa –yang berbeda-beda. Di sini keunikan kita. Dari sini kita mulai menulis.

Ada penulis yang mengeksplorasi penderitaan dan rasa sakit yang pernah dihadapi sejak kecil. Ia mampu menjadikan penderitaan masa lalu sebagai bekal menulis kebaikan hari ini. Bukankah Maya Angelou ditempa dengan kemiskinan dan penderitaan berkepanjangan sejak masa kecil? Toh ia bisa menjadikan itu sebagai modalitas mengolah kisah fiksinya.

As a writer, the only thing you have to offer the world is your own unique self. Be courageous” –Roberta Jean Bryant, 1999.

Kita tidak perlu meniru gaya siapapun, karena para peniru hanya akan menjadi KW seumur hidupnya. Ada peniru nama –memirip-miripkan nama pena dengan nama penulis yang sudah terkenal. Ada peniru judul buku –memirip-miripkan judul buku dengan buku yang sudah laris. Ada peniru gaya bahasa —memirip-miripkan cara berututur seperti penulis favorit.

Bolehkah seperti itu? Boleh saja. Namun itu menjadi bukan diri Anda sesungguhnya. Maka hargai diri Anda sendiri, karena Anda unik.

When you think, ‘Oh, I can’t write that part; it’s too petty, too shameful. It’s not respectful. People won’t understand’ — ignore these subversive thoughts. Be willing to say whatever you have to say truthfully (full truth). Trust yourself, and trust your potential reader” –Roberta Jean Bryant, 1999.

Kadang kita merasa apa yang kita tulis itu sebagai sesuatu yang sangat kecil dan tak bermakna –karena kita bandingkan hasil karya tulis kita dengan para maestro yang telah mendunia. Ini tidak adil, tentu saja.

Ini adalah godaan-godaan para penulis pemula. Kadang merasa apa yang ditulis sebagai tidak bermutu, tidak indah, tidak enak dibaca, bahkan: memalukan. Namun sepanjang itu adalah karya Anda sendiri, yang mencerminkan diri Anda yang sesungguhnya, mengapa harus merasa tidak nyaman?

Mempercayai Pengalaman Kehidupan

When you trust the truth, you can have the courage to write at risk” –Roberta Jean Bryant, 1999.

Itu sebabnya saya selalu percaya diri dalam menulis, karena saya menulis sesuai dengan keyakinan saya. Mungkin saja berbeda dengan keyakinan orang lain, namun saya telah memilih keyakinan, dan keyakinan itu membentuk tulisan saya. Anda pasti memiliki sesuatu yang Anda yakini, misalnya perjalanan hidup Anda sendiri, yang menghantarkan Anda pada kondisi saat ini.

Mengapa saya sering menyatakan “jangan menunggu mood” atau “jangan menunggu datangnya inspirasi” dalam menulis? Karena itulah pengalaman yang saya rasakan dan saya jalani selama ini. Saya percaya dengan pengalaman yang saya tekuni setiap hari di bidang tulis menulis.

Trust your intuition, your absurdities, your loves, your hates. Most of all, trust your passions, those extra-strong feelings and urges that flow and surge and pulse with aliveness. Passion provides momentum, involvement, commitment, action. Trust passion” –Roberta Jean Bryant, 1999.

Untuk menjadi penulis produktif, Anda hanya perlu mempercayai diri Anda sendiri. Bahwa Anda adalah pribadi unik, memiliki pengalaman kehidupan yang unik —berbeda dengan orang lain.

Anda memiliki sejarah cinta, benci, rindu, marah, bahagia, sengsara, menangis, tertawa, terluka, berjaya, yang tidak sama dengan sejarah orang lain. Lalu mengapa Anda masih saja merasa malu dan tidak percaya diri untuk memulai menulis dan mempublikasikan tulisan?

Berkali-kali secara jujur saya katakan, tulisan saya tidak bagus, tidak seperti tulisan para maestro. Namun saya selalu enjoy dan happy dalam proses menulis dan menghasilkan karya tulis, karena saya tengah mengekspos jati diri saya —-yang tak pernah bisa dicuri orang lain.

Bagaimana dengan Anda? Semangat menulis yuk….

Bahan Bacaan

Roberta Jean Bryant, Anybody Can Write, Tips for All Levels of Writers, http://www.grandtimes.com, 1999

Yulia Shamporova, How to Start Your Writing Career, Advice From the Greats of Russian Literature, https://www.rbth.com, 13 Maret 2018

1 thought on “Spirit Menulis dari Tokoh Dunia – 13

  1. Percaya dengan kemampuan diri sendiri untuk bisa mengeksplore jati diri dan tidak baper jika di banding-bandingkan dengan yang lain. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan, atas ilmu yang di sampaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *