19 September 2026

.

The 30-Day Writing Challenge – 6

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Bagaimanakah cara agar tulisan yang Anda buat selama Ramadhan bisa menjadi buku yang diterbitkan lengkap dengan ISBN? Ikuti 10 langkah berikut ini.

  1. Kumpulkan 30 Tulisan Selama Ramadhan
  2. Pilahkan Tulisan, dan Buat Sistematika
  3. Tentukan Target Akhir
  4. Lakukan Penyesuaian terhadap Naskah
  5. Lengkapi Bagian-Bagian Buku
  6. Lakukan Swasunting (Self Editing)
  7. Pilih Judul yang Inspiratif
  8. Bikin Layout Kreatif
  9. Bikin Cover yang Menarik
  10. Serahkan Kepada Penerbit

Pada postingan sebelumnya, telah saya bahas poin pertama hingga kelima. Berikut saya bahas poin keenam. Silakan disimak, dan diaplikasikan dengan urut. Insyaallah tulisan Anda bisa menjadi buku.

Keenam, Lakukan Swasunting

Setelah semua naskah Ramadhan terkumpul dan telah Anda lakukan penyesuaian yang diperlukan untuk menjadi buku, langkah selanjutnya adalah melakukan swasunting atau self editing. Jika naskah buku Anda masukkan ke penerbit mayor, pihak penerbit akan melakukan editing secara total. Meski demikian, sebagai penulis, Anda tetap wajib mengedit tulisan sebelum dipublikasikan.

Ada banyak hal bisa disunting, agar buku Anda semakin berkualitas. Menurut Rahajeng Mufid (2021), paling tidak ada tiga dimensi penyuntingan, yaitu dimensi isi, dimensi legalitas dan dimensi bahasa.

  • Dimensi Isi

Swasunting pada dimensi isi, artinya memeriksa dan memperbaiki naskah dari sisi substansi. Inilah editing yang paling penting, dan harus dilakukan oleh penulis. Karena tidak ada yang mengerti maksud tulisan, kecuali penulisnya sendiri.

Sebagai penulis Anda wajib memeriksa dan memperbaiki substansi atau isi tulisan. Semua resiko akibat isi tulisan, dipertanggungjawabkan oleh penulis. Misalnya, ada pihak yang protes atau menggugat ke jalur hukum atas isi tulisan, sepenuhnya tanggung jawab penulis. Bukan editor, bukan penerbit.

Saat melakukan swasunting terhadap isi, Anda harus mencermati aspek kebenaran, aspek etik dan aspek manfaat. Baca ulang semua naskah Anda, dan cermati berkali-kali.

Dalam aspek kebenaran, Anda harus memastikan bahwa yang Anda tulis adalah hal yang benar. Jangan sampai Anda menulis dan memublikasikan hal yang hoax, atau bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran yang berlaku di masyarakat.

Pada aspek etis, Anda harus memastikan bahwa isi tulisan tidak mengandung unsur pelecehan, pencemaran nama baik, ujaran kebencian ataupun melanggar SARA. Hal ini bisa menjerat penulis pada pelanggaran UU ITE, dan bisa berkonsekuensi hukum.

Pada aspek manfaat, Anda harus memastikan bahwa isi tulisan Anda adalah hal yang memberikan manfaat. Bukan sekedar bualan tanpa makna. Bukan busa-busa bahasa yang tak ada esensinya.

  • Dimensi Legalitas

Swasunting dalam dimensi legalitas, menyangkut tanggung jawab akademik karya tulis Anda. Pastikan semua bagian naskah Anda tidak plagiat, tidak melanggar hak cipta, serta sumber rujukan Anda bisa dipertanggungjawabkan.

Jika dalam menulis Anda merujuk atau mengutip pendapat orang lain, nyatakan rujukan atau sumber pengutipannya. Plagiat adalah tindakan mengutip atau merujuk pendapat pihak lain tanpa mencantumkan sumber rujukan, sehingga seakan pendapat itu adalah dari dirinya. Ini adalah tindakan yang tidak terpuji, dan melanggar prinsip kejujuran akademik.

Dalam mengutip, pastikan Anda mengambil dari sumber yang terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan mengambil sembarangan, misalnya mengambil tulisan yang beredar di grup whatsapp –tanpa ada identitas penulis yang jelas. Hanya karena Anda menganggap isi tulisannya bagus, lalu Anda kutip. Padahal tidak ada nama penulis.

Terlebih dalam mengambil rujukan di blog / web, pastikan blog / web yang Anda rujuk bisa dipercaya. Ini menyangkut kredibilitas buku Anda. Jangan sampai mengambil data dari blog abal-abal –Anda bisa masuk perangkap ‘jebakan betmen’. Yang aman adalah jika Anda merujuk kepada blog / web resmi lembaga.

  • Dimensi Bahasa

Swasunting dalam dimensi bahasa, menyangkut penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebagai penulis, lakukan swasunting aspek kebahasaan sesuai kemampuan. Sebab, untuk aspek kebahasaan, Anda bisa meminta bantuan kepada pihak ahli, misalnya editor bahasa.

Berbahasa Indonesia yang baik artinya menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan konteksnya. Sedangkan berbahasa Indonesia dengan benar artinya menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya yang diatur di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI). Juga menggunakan kosa kata baku sesuai standar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Mungkin saja Anda tidak menguasai PUEBI, TBBBI maupun KBBI. Namun Anda tetap perlu melakukan swasunting sesuai kemampuan. Setelah Anda selesai melakukan penyuntingan dari ketiga dimensi di atas, serahkan saja kepada pihak editor profesional maupun editor yang ada di penerbit yang Anda pilih.

Keseluruhan naskah Anda akan diedit ulang oleh pihak editor. Hasil editing akhir, akan kembali diserahkan kepada Anda untuk mendapatkan persetujuan. Setelah Anda menyetujui, naskah baru akan naik cetak, tentu setelah melalui proses pracetak.

Selamat melakukan swasunting, selamat menikmati Ramadhan.

Bahan Bacaan

Rahajeng Mufid, Ebook Swasunting, Wonderful Publishing, 2021

.

Ilustrasi : https://writingcooperative.com/

1 thought on “Proses Swasunting Naskah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *