20 September 2026

Foto Khuriyatul Ainiyah

Oleh: Khuriyatul Ainiyah

“Kita memerlukan pemantik, motivasi juga penyemangat dalam berkegiatan, demikian juga dengan menulis.”

Menulis merupakan aktivitas yang mudah dilakukan jika telah menjadi kebiasaan. Sebaliknya menulis akan terasa sulit jika hanya berpikir untuk menuangkan ide, tema, tanpa memulai menulis.

Untuk itu penting bagi para penulis pemula seperti kami mempunyai sebuah komunitas dalam menulis. Hal ini karena dengan bergabung di sebuah komunitas menulis akan menambah energi dan penyemangat literasi.

Pengalaman saya dalam menulis

Tak terbayang akan menjadi bagian dari takdir ini.  Pandemi Covid-19  menjadi momen berharga bagi saya untuk mengenal dunia kepenulisan. Mungkin ini salah satu hikmah Pandemi yang melanda negeri tercinta.

Bergabung dengan Kelas Menulis Online Alineaku, bimbingan Pak Cahyadi Takariawan dan Bu Ida Nurlela, saya punya greget untuk mengikuti setiap tahapan. Sembari mengikuti kelas menulis, saya bergabung juga dengan kelas Emak Punya Karya atau EPK masih dibimbing oleh Pak Cahyadi.

Alhamdulillah dari kelas itu, semangat dan motivasi yang selalu didengungkan oleh mentor juga teman-teman komunitas menjadi amunisi yang menggugah diri untuk segera menciptakan sebuah  karya tulis. Sehingga dalam waktu 35 hari kami berhasil menyelesaikan buku solo yang pertama.

Enam bulan kemudian lahir lagi buku solo yang kedua, hingga saat ini ada empat buku solo dan 9 buku antologi.

Dalam rangka mengasah kemampuan menulis, ajakan Mak Sri Rohmatiah yang juga  presiden KEPO (Kantin Emak Produktif Oye) mengantarkan saya menulis di Kompasiana. Setelah menanyakan cara login dan apa saja yang menjadi syarat, saya mencoba untuk daftar.

“Mak menulis di blog hanya beberapa yang bisa membaca, tapi jika di kompasiana pembacanya lebih luas Mak,” kata Mak Sri saat itu.

Akhirnya saya pun tertarik menulis di Kompasiana. Senang sekali rasanya bisa bergabung di Kompasiana. Sayangnya setelah bergabung,  enam bulan berikutnya baru memulai menulis. 

Mula-mula setiap artikel yang akan tayang saya kirim dulu ke Mak Sri untuk diedit, terutama judul agar bisa menarik dan selaras dengan isi artikel.

Tepatnya satu hingga lima artikel kami kirim dulu kepada Mak Sri Rohmatiah. Maklum saya baru bergabung khawatir jika ada yang salah dan kurang elok bahasanya, sehingga Mak Sri bisa memperbaikinya..

Alhamdulillah, beberapa kali menjadi artikel utama. Waktu itu Mak Sri menyampaikan pesan dalam whatApps,  “Selamat AU, Mak.”

“Memangnya AU itu apa sih Mak?” tanya saya yang belum tahu apa arti tulisan berlabel AU.

“AU adalah Artikel Utama Mak,” jawab Mak Sri dalam pesan singkatnya.

Saya penulis pemula di Kompasiana, jadi tidak begitu ngreken  artikel  masuk dalam kategori apa, yang penting artikel yang saya tulis bisa tayang itu saja niatnya, sembari  mengasah kemampuan menulis agar lebih terbiasa.

Bersyukur sampai saat ini masih bergabung dalam berbagai komunitas menulis, termasuk di dalamnya KMO juga Kepo. Dari komunitas itu kita banyak belajar dari unggahan teman-teman. Termasuk di dalamnya guru kita sang mentor Pak Cahyadi Takariawan yang setiap hari memberikan motivasi tentang kepenulisan.

Dari komunitas Kepo, kita sudah menghasilkan  dua buku antologi yaitu, Cinta Untuk Palistina dan Mutiara Cinta Dua Dunia yang digawangi Presiden Kepo dan Bu Ida Nurlela

Bersyukur juga di tengah perjalanan  menulis, Romo Boby mengajak untuk bergabung dalam Inspirasiana. Pertama-tama saya juga menanyakan apa itu Inspirasiana dan mengapa juga saya masuk dalam komunitas itu.

Saya sempat minder masuk dalam group Inspirasiana  atau INA, merasa kurang berpengalaman. Namun, mereka yang senior menyapa dengan ramah. Ucapan selamat datang dan selamat bergabung dalam group menjadikan saya merasa diterima dalam komunitas yang di dalamnya  para penulis yang sudah berpengalaman.

Sesuai namanya, Inspirasiana, mereka yang ada dalam group adalah orang-orang yang berkompeten dan menginspirasi, selalu menyempatkan menulis di tengah kesibukan mereka.

Dari berbagai latar belakang dan pekerjaan yang berbeda mereka masih menyempatkan menulis agar kamampuan menulisnya dapat  terasah.

Maka sangatlah penting keberadaan komunitas menulis. Mengapa? karena kita merasa satu visi dan misi salah satunya mengasah kemampuan menulis. Hal ini kami rasakan ketika masuk dalam komunitas. Teman-teman dari Sabang sampai Merauke yang belum saling kenal lewat darat namun terasa sudah sejiwa.

Saling support dan menyapa ramah dalam group menjadikan kita layaknya  keluarga besar. Dari  Inspirasiana juga sudah menerbitkan buku antologi dengan judul “Aksara Bermakna”.

Terima kasih tak terhingga kepada Bu Siska Dewi sebagai penanggung jawab dan Kang Bugi Sumirat sebagai editor yang telah menyisihkan waktunya dengan suka rela menangani penerbitan buku ini hingga tuntas. Terima kasih semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua jerih payah yang telah dilakukan.

Wasana Kata

Pentingnya sebuah komunitas dalam berkarya terlebih dalam dunia kepenulisan menjadi penyemangat sekaligus motivasi dalam menulis.

Saling menyapa ramah, saling mengingatkan, terlebih juga saling memberikan informasi tentang ketatahabahasaan dapat memberikan pengetahuan baru bagi kami para penulis pemula.

Salam sehat selalu, semoga bermanfaat.

Bionarasi :

Nama : Khuriyatul Ainiyah, Pekerjaan : Guru SD. Mengenal dunia menulis pertama kali saat bergabung dengan Kelas Menulis Online Bath 34 pada tahun 2019, bersamaan dengan itu bergabung  pula dengan EPK 2 (Emak Punya Karya).

Saat ini penulis telah menerbitkan 4 buku solo di antaranya : Fandzuri Aina Anti,  Setangguh tetesan Rabiah, Munajat Aksara Peneman Rindu,  dan  1001 Guru Mendidik.

Saat ini penulis juga aktif menulis di Kompassiana, bisa disimak di halaman Bude Ruri Kompassiana

1 thought on “Pentingnya Komunitas dalam Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *