Pile of Various newspapers over white background
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Salah satu tujuan menulis adalah untuk menebar kemanfaatan kepada masyarakat luas. Untuk itu, maka diperlukan sarana atau media menyebarluaskan tulisan kita. Zaman dulu, koran dan majalah adalah media mainstream yang bisa menjadi ajang menerbitkan karya tulis. Namun karena sangat banyak penulis yang mengirim naskah ke koran dan majalah, maka tak sedikit yang mengalami penolakan.
Nah, menghadapi penolakan ini, kadang membuat penulis pemula menjadi down semangatnya. Merasa ditolak, merasa tidak pantas, merasa malu. Akhirnya tidak pernah mengirim tulisan lagi ke koran dan majalah. Peristiwa penolakan sangat memukul dirinya, membuat lemah semangat dan putus asa.
Inilah sikap yang harus dihindari. Naskah ditolak media, bukanlah kiamat. Itu peristiwa biasa saja dalam dunia tulis menulis. Sama dengan ketika kita ditolak naik kereta api, karena kehabisan seat. Sesederhana itu. Tak perlu dibikin drama.
Ditolak Berkali-kali, Maka Kirimlah Lagi Berkali-kali
Miliki mental petarung. Jika naskah Anda ditolak berkali-kali, maka kirimkan lagi berkali-kali. Banyak sekali contoh penulis senior yang dulunya ditolak berkali-kali oleh koran dan majalah. Mereka tidak putus asa dan patah semangat, justru mereka menganggap penolakan itu sebagai tantangan yang menggairahkan.
Dr. Sumardi, M.Sc., dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menceritakan, dulu ketika masih kuliah di UGM, mengirimkan artikel ke berbagai media massa cetak nasional, dan selalu ditolak. Setelah mengirimkan lebih dari 30 artikel, akhirnya sebuah artikel dimuat di koran Sinar Harapan.
Victor Zebua, saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, menulis 22 artikel yang dikirimkan ke harian Kompas. Semuanya ditolak. Ia tidak putus asa. Ketika mengirim artikel yang ke-23, akhirnya berhasil dimuat di halaman Kompas.
Joni Ariadinata ketika kuliah di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta sering mengirimkan cerpen-cerpennya ke berbagai majalah dan Koran. Semua cerpennya ditolak majalah dan koran. Tak ada yang mau memuatnya. Akan tetapi, ia tetap mengirimkan cerpen-cerrpennya, meskipun tetap ditolak.
Hingga suatu ketika, cerpennya berjudul “Lampor” berhasil dimuat di harian Kompas . Bahkan setahun kemudian, cerpennya tersebut terpilih sebagai cerpen terbaik harian Kompas.
Naskah Ditolak Penerbit, Tidak Membuat Sempit
Sama juga halnya ketika penulis buku mengirim naskah dan ditolak oleh penerbit mayor. Itu peristiwa biasa saja, dan banyak temannya. Tidak perlu merasa sempit, gara-gara ditolak penerbit. Di zaman kita hidup ini, sangat banyak penerbit mayor. Tidak seperti zaman dulu, dimana penerbit mayor masih sangat langka.
Ditolak oleh penerbit mayor yang satu, bisa kita kirim ke penerbit mayor yang lain. Ditolak oleh semua penerbit mayor, bias kita terbitkan secara india. Dan ini sah-sah saja. Tidak masalah sama sekali. Toh penerbit indie juga berizin, legal formal, bias menguruskan ISBN.
Sejumlah penulis hebat dunia juga pernah ditolak oleh penerbit mayor. JK. Rowling, misalnya. Saat ia menyerahkan naskah buku Harry Potter and Philosopher’s Stone ke berbagai penerbit, tak ada yang menerimanya. Empatbelas penerbit menolak naskahnya dengan berbagai macam alasan. Namun setelah buku berhasil diterbitkan, langsung best seller.
Stephen King memiliki pengalaman yang lebih buruk. Novel pertama King berjudul “Carrie”, mengalami 30 kali penolakan oleh penerbit. Akhirnya novel tersebut diterbitkan oleh Doubleday pada 1973.
Novelis John Grisham, lebih banyak lagi mengalami penolakan. Novelnya berjudul “A Time To Kill” (1987) ditolak 45 kali oleh penerbit. Akhirnya naskah novel itu dibeli oleh Wynwood Press untuk diterbitkan.
Kathryn Stockett menulis buku perdana, “The Help” dalam waktu lima tahun. Buku tersebut mengalami penolakan sebanyak 60 kali oleh penerbit. Namun setelah Amy Einhorn Books menerbitkan buku tersebut, The Help dinobatkan menjadi novel bestseller di Amerika.
Ray Bradbury penulis karya science fiction, naskah pertamanya harus mengalami lebih dari seratus kali penolakan. Ia tidak putus asa. Terus mengupayakan mengirim ke penerbit. Hingga akhirnya salah satu penerbit bersedia menerbitkan karyanya.
Kuncinya satu saja, jangan berputus asa. Jika ditolak satu penerbit, berikan kepada penerbit lainnya.
Selamat menulis.
Bahan Bacaan
6 Famous Authors who Once Faced Rejection, www.wildmindcreative.com
Stephanie Ostroff, 9 Famous Authors Rejected by Publisher, www.writerscircle.com
Syukur Budiardjo, Tulisan Kita Ditolak, Siapa Takut? www.qureta.com,

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.
Jazakallahu khair Pak Cah.
Saya belum mencoba mengirimkan naskah ke media massa ataupun penerbit. Baru ke media sosial.
insyaaAllah Ustadz, saya coba.
Wassalaamu’alaikum wrwb