.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“If even before you begin a writing project, you are thinking about where you want it to be published and who, you hope, will review it, you are opening the door to anxiety” — Jane Anne Staw, 2018
.
Salah satu hal yang kadang menghinggapi para penulis adalah kecemasan. Ini yang disebut sebagai “writing anxiety” atau kecemasan menulis. Bukan hanya para penulis pemula yang dihinggapi oleh kecemasan, bahkan penulis senior bisa pula mengalami.
Keith Hjortshoj (2001) menyatakan, writing anxiety adalah istilah gaul untuk menyatakan berbagai keadaan gelisah, cemas dan pesimis dalam menulis. Kondisi ini bukan hal yang menetap atau pasti pada diri penulis, namun becorak situasional. Misalnya, seorang penulis artikel ilmiah populer, bisa saja mengalami kecemasan saat diminta menulis puisi. Sebagaimana seorang penyair, bisa saja mengalami anxiety saat diminta menulis esai.
The Writing Center dari Universitas North Caroline menyatakan, istilah writing anxiety bukanlah sebuah atribut psikologis pada seorang penulis. “These terms do not describe psychological attributes. People aren’t born anxious writers; rather, they become anxious or blocked through negative or difficult experiences with writing”.
Pertanyaannya, mengapa bisa muncul kecemasan menulis? Tentu ada sangat banyak jawaban, karena berbeda-beda kondisi antara satu penulis dengan penulis yang lain. Berikut beberapa jenis kecemasan, yang harus kita bebaskan dari diri kita.
- Cemas terhadap kualitas
Ketika Anda menulis, kadang khawatir terhadap kualitas tulisan Anda sendiri. “Jangan-jangan tulisanku tidak berkualitas”, atau “Aku malu jika tulisanku jelek”. Anda merasa lebih cemas lagi ketika membandingkan dengan karya orang lain yang lebih berkualitas.
Kecemasan seperti ini bisa Anda hilangkan dengan mentalitas proses dan mentalitas belajar. Mentalitas proses, artinya Anda harus yakin bahwa kualitas tulisan adalah sebuah proses. Bukan tiba-tiba menjadi bagus dengan sendirinya. Mentalitas belajar, artinya Anda siap belajar dari para penulis lain yang telah memiliki karya yang bagus.
Jadi, bukan membandingkan karya Anda yang level pemula, dengan karya mereka yang sudah level dewa. Namun, Anda bersedia belajar dari mereka yang sudah banyak karya.
- Cemas terhadap penilaian orang lain
Ketika menulis, kadang Anda khawatir terhadap penilaian orang lain. Anda cemas akan mendapatkan komentar negatif, atau respon buruk dari pembaca. Anda berpikir, “Jangan-jangan tulisanku ditertawakan pembaca”. Kekhawatiran seperti ini memicu munculnya kecemasan.
Anda bisa menghilangkan kecemasan jenis ini dengan mengabaikan komentar negatif. Anda berhak untuk mendelete komentar negatif dari blog pribadi atau dari medsos Anda. Tidak perlu dibaca, tidak perlu dikomentari. Karena para komentator negatif ini akan cenderung melakukan hal sama di blog-blog lainnya. Bukan hanya terhadap tulisan Anda.
Namun yang lebih penting lagi adalah soal meluruskan orientasi menulis. Jika Anda berorientasi mendapatkan pujian, gemuruh tepuk tangan, efek viral, serta jutaan likers, sejak awal sudah menciptakan kecemasan kepada diri Anda. Merdekakan diri Anda dari orientasi popularitas seperti itu.
- Cemas terhadap pembeli
Sejak awal menulis, Anda sudah cemas. “Jika tulisan ini nanti aku terbitkan menjadi buku, apa ada yang akan membeli? Bagaimana kalau tidak laku? Bagaimana kalau tidak ada yang membeli?” Hal seperti ini membuat Anda tidak tenang membuat tulisan.
Padahal, bab membuat buku menjadi laku, adalah bab pemasaran. Ada sangat banyak teori dan cara untuk membuat sebuah buku menjadi laku. Namun hal itu tidak perlu menjadi kecemasan saat menulis. Fokuslah menulis karya yang berkualitas, dengan melakukan proses menulis yang terencana.
- Cemas terhadap urusan teknis
Anda bisa dilanda kecemasan, jika sejak awal menulis, sudah memikirkan berbagai teknis yang detail. Jane Anne Staw menyatakan, “Banyak orang yang sangat berambisi tentang tulisan mereka. Sebenarnya ambisi itu tidak buruk, tapi itu pasti akan mengganggu tulisan Anda. Jika sebelum memulai menulis, Anda sudah memikirkan di mana Anda menerbitkannya dan siapa yang Anda harap akan mengulasnya, maka Anda telah membuka pintu menuju kecemasan”.
Anda harus memerdekakan diri Anda dari kecemasan jenis ini, dengan fokus pada proses menulis. Tentang dipublikasikan di mana, dan bagaimana caranya, itu urusan belakangan. Yang paling penting, Anda harus menyelesaikan proses menulis dengan baik.
- Cemas karena deadline
Ada penulis yang dilanda kecemasan karena dikejar deadline. Saya biasa mengalami jenis kecemasan ini, karena terkait dengan kesepakatan yang telah dibuat dengan pihak penerbit atau pihak penyelenggara program. Jika telah melewat batas deadline dan saya tidak berhasil menyelesaikannya, maka kecemasan langsung muncul.
Anda bisa memerdekakan diri dari kecemasan jenis ini, dengan jalan disiplin terhadap jadwal. Anda harus mengelola waktu secara lebih baik, sehingga bisa menepati batas waktu yang telah ditetapkan.
- Cemas karena ambisi popularitas
Sebagian penulis membayangkan popularitas dari hasil karya tulisnya. Tentu saja ini boleh dan sah saja. Namun, ambisi popularitas adalah belenggu yang mudah memunculkan kecemasan. Anda akan cemas saat menulis, karena terbebani dengan impian glamour dan seleb syndrome.
Anda bisa memerdekakan diri dari kecemasan jenis ini dengan meluruskan motivasi menulis. Fokuslah kepada tujuan yang lebih hakiki dari menulis. Bahwa menulis adalah menciptakan karya abadi, untuk memotivasi, mengedukasi, dan menginspirasi. Popularitas hanyalah bonus dari kerja-kerja mulia yang Anda lakukan sepenuh hati.
Hari ini adalah peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2020. Dirgahayu Republik Indonesiaku.
Mumpung peringatan kemerdekaan, merdekakan dirimu dari kecemasan menulis. Merdeka !!
Bahan Bacaan
Jane Anne Staw, Make Your Writing Anxiety Disappear By Thinking Small, www.janefriedman.com, 10 April 2018
Keith Hjortshoj, Understanding Writing Blocks, Oxford, 2001
The Writing Center, Writing Anxiety, https://writingcenter.unc.edu
