19 September 2026

.

Rutin Menulis Setiap Hari (Rumesha) – 21

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Saya pernah punya sahabat di Yogyakarta, seorang kakek tua penjual tape singkong keliling dengan sepeda kayuh. Hampir setiap hari ia lewat di depan rumah kontrakan saya ketika masih hidup mengontrak di Kota Jogja sekitar tahun 2002 – 2005.

Sang kakek ini sering berhenti berlama-lama di depan rumah kontrakan, sampai saya keluar dan membeli tapenya. Saking seringnya bertemu, akhirnya kami menjadi sahabat.

Pantasnya ia menjadi bapak saya, melihat usianya. Sampai saya sering mengunjungi rumahnya yang sangat sederhana di daerah Sleman.

Menilik kondisi rumahnya, penampilan dan usahanya, tampak kalau ia hidup dalam berbagai bentuk kesulitan. Rumahnya berdinding anyaman bambu, dengan genting kuno yang kecil ukurannya, serta lantai dari tanah yang dikeraskan.

Jika musim hujan, selalu tiris, air masuk ke dalam rumahnya, dan membuat lantai rumahnya ditumbuhi rumput karena kerap tersiram air hujan. Di rumahnya tidak ada motor. Hanya ada satu sepeda kayuh yang ia gunakan untuk jualan tape keliling Kota Jogja.

Yang sangat mengagumkan bagi saya, ia lebih sering bercerita tentang kebahagiaan hidupnya sebagai penjual tape. Bukan bercerita tentang kegetiran hidup yang dialami.

Mungkin karena kegetiran itu sudah dirasakan setiap hari, maka menjadi tidak berasa lagi baginya. Yang lebih ia rasakan adalah kegembiraan, maka itu yang selalu diceritakan.

Ia selalu antusias menceritakan kegembiraan yang dirasakan ketika ada “orang-orang penting” membeli tape singkongnya, bahkan selalu mengulang cerita tentang seorang dokter yang berlangganan membeli tapenya.

Contoh kegembiraanya seperti ini. “Yang membeli tape saya itu orangnya bermobil. Mobil mereka bagus-bagus”, cerita sang kakek dengan wajah berbinar-binar saking bahagianya.

Saya bayangkan, mereka yang punya mobil belum tentu sebahagia kakek itu. Namun kakek yang tidak punya mobil, justru merasakan kebahagiaan yang tidak didapatkan oleh para pemilik mobil.

Satu lagi cerita yang sering ia sampaikan berulang-ulang. “Salah satu pelanggan tape saya adalah seorang dokter. Pak dokter bilang, bahwa tape saya sehat. Banyak vitaminnya”, ujar kakek dengan wajah sangat bahagia.

Begitulah cara ia menikmati hidup. Barangkali ia ingin berpesan, hidup itu terlalu indah untuk dikesali. Nikmati saja semua problematika dalam kehidupan, agar kita selalu bahagia walau penuh dengan keterbatasan.

*******

Tulisan lama saya tersebut, panjangnya 329 kata. Jika ditulis, hanya memerlukan waktu 10 menit saja. Sebuah kisah dari kakek yang saya kenal. Sososk inspiratif yang memberikan pesan ketangguhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda pasti mengenal orang-orang yang memiliki kepribadian tangguh. Orang-orang yang menjalani hidup tanpa keluh. Mereka berbahagia di tengah berbagai keterbatasan yang mereka miliki.

Tuliskan kisah dan profil mereka. Anda tidak harus menyebut nama dan identitas lengkap. Cukup menceritakan sisi ketangguhannya saja. Tuliskan secara nyata, artinya nonfiksi. Benar-benar kejadian nyata.

Tulisan tentang ketangguhan, akan menginspirasi banyak orang untuk menjadi tangguh. Tulisan tentang ketangguhan, akan mengajak pembaca untuk malu kepada diri sendiri. Malu jika tak bisa bersyukur. Malu jika menangisi keadaan yang tak menentu.

Di masa pandemi ini, tulisan tentang ketangguhan sangat diperlukan. Saudara dan sahabat kita yang tengah menjalani isolasi mendiri, semakin terpuruk saat membaca tulisan-tulisan yang mengenaskan tentang Covid.

Seorang tetangga bercerita melalui whatsapp kepada kami, di masa menjalani isolasi mandiri dia semakin terpuruk dan stress melihat isi grup whatsapp yang banyak mengekspos kematian, ketidakpastian dan berbagai kekacauan pelayanan pasien Covid.

Suasana depresi itu membuat imunitas semakin melemah. Tetangga saya merasakan suasana mencekam dan terhimpit. Karena sering membaca tulisan yang mengerikan dan tidak mengandung unsur ketangguhan.

Kita tahu ada banyak hal tidak beres dalam pengelolaan pasien Covid. Kita tahu banyak kekurangan dan kelemahan sistemik. Namun kita juga tahu ada sangat banyak ketangguhan. Ada sangat banyak kekuatan yang bisakita hadirkan lewat tulisan.

Mari penuhi ruang media sosial kita dengan tulisan dan pesan ketangguhan. Indonesia harus segera bangkit, harus segera pulih. Ceritakan ketangguhan dari orang-orang yang berjuang melawan Covid dan berhasil. Ceritakan tentang kisah kepahlawanan mereka yang berjuang melawan virus corona dengan segenap kekuatan dan tenaga.

Ada sangat banyak ketangguhan di luar sana. Jangan biarkan hanya Anda yang menikmatinya. Tuliskan, dan sebarkan.

Ayo rutin menulis setiap hari. Walau hanya 100 kata setiap hari. Walau hanya 15 menit menulis. Tulislah ketangguhan.

.

Ilustrasi : www.liputan6.com

2 thoughts on “Menuliskan Ketangguhan

  1. Dengan menulis ketangguhan di masa resesi krisis kesehatan ini sangat penting sekali. Di samping untuk memberikan semangat optimis kepada penyintas covid 19, juga sebagai perenungan diri bahwa kekayaan atau kebahagiaan tidak di ukur dari seberapa banyaknya kekayaan atau harta. Namun dari kesederhanaan dan kesyukuran. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan
    .

  2. Dengan menulis ketangguhan di masa resesi krisis kesehatan ini sangat penting sekali. Di samping untuk memberikan semangat optimis kepada penyintas covid 19, juga sebagai perenungan diri bahwa kekayaan atau kebahagiaan tidak di ukur dari seberapa banyaknya kekayaan atau harta. Namun dari kesederhanaan dan kesyukuran. Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *