20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Like so many other writers out there, writing isn’t just something I do. It’s something I am. Nothing in life fulfills me as deeply as sinking into the creative act and letting the power of imagination takeover” –Donna Cook.

.

Menulis mampu memberikan pengalaman spiritual bagi penulisnya. Dalam sepuluh postingan sebelumnya, telah saya sampaikan pengalaman para penulis produktif yang menemukan pengalaman spiritual dari proses menulis. Ternyata menulis bukan sekedar kegiatan menuangkan kata-kata ke dalam bentuk tulisan.

Donna Cook, penulis novel fantasi ‘Gift of the Phoenix’ membagikan pengalamannya ‘larut’ dalam aktivitas menulis. “Seperti banyak penulis lain di luar sana, bagi saya menulis bukan hanya bernilai sebagai pekerjaan atau aktivits. Menulis adalah sesuatu yang ‘saya banget’”, ujar Cook.

Dalam kehidupan keseharian, semua dari kita telah melakukan sangat banyak jenis aktivitas. Dari beragam kegiatan tersebut, rupanya menulis mampu membuat seseorang ‘larut’ dan hanyut secara sangat mengasyikkan. Seakan kita dibuat tenggelam dalam alur cerita dan isi pesan yang kita tuliskan.

“Tidak ada aktivitas dalam hidup yang bisa membuat saya tenggelam ke dalam tindakan kreatif dan membiarkan kekuatan imajinasi mengambil alih,” ujar Cook. “Dunia seakan menghilang. Dan saya nyaris turut menghilang”, lanjutnya. Seperti menghilang di tengah belantara cerita, menghilang di tengah belantara kata-kata. Sangat mengasyikkan.

The world disappears. I almost disappear. Except I am never as fully present and satisfied as I am what I’m getting lost inside of story. Whether you call that a spiritual practice or something else is not really important. The point is, it matters” –Donna Cook.

Fenomena dan kejadian seperti ini saat menulis, selalu ia rasakan. Tenggelam dalam keasyikan menulis. “Apakah Anda menyebut hal ini sebagai latihan spiritual atau sesuatu yang lain, itu tidak terlalu penting. Intinya adalah, menulis itu sangat bermakna”, tambah Donna Cook.

Maka Cook dengan jelas menyatakan, bahwa menulis tidak semata-mata “something I do”, sebuah aktivitas yang dikerjakan. Namun baginya menulis adalah “something I am”, sesuatu yang gue banget. Sebuah diksi yang menunjukkan keasyikan dan keterlarutan Cook dengan dunia menulis.

Zona Bahagia dalam Menulis

After all the self-analysis, I realize I’m happiest when writing. Time ceases to exist when I’m in the zone. Worldly worries fall away” –Elizabeth Noyes.

Kita juga sudah sering mendapatkan pengakuan para penulis bahwa aktivitas menulis itu membahagiakan. Ada suasana lega karena telah menuangkan berbagai ide, inspirasi, kegelisahan, opini, dan berbagai suara yang hendak diungkapkan. Bahagia karena telah mengeksplorasi pemikiran dan perasaan.

Rasa bahagia adalah salah satu pengalaman spiritual dan emosional yang bisa didapatkan dari menulis. Melalui menulis, kita bisa melakukan katarsis. Dengan menulis kita bisa melakukan pelepasan ruminasi, yaitu melepas beban-beban pikiran serta perasaan. Jiwa kitamerasa merdeka setelah semua beban kita keluarkan melalui tulisan.

Elizabeth Noyes, penulis buku serial Imperfect (Imperfect Bonds, Imperfect Lies, Imperfect Trust, Imperfect Wings, dan Imperfect Promises), memiliki pengalaman spiritual yang unik saat menulis. Ia menemukan, saat menulis menjadi momentum yang paling membahagiakan. Berbagai kegelisahan menjadi sirna saat mulai menulis.

Noyes benar-benar menikmati proses menulis. Tak ada momentum yang lebih membahagiakan dirinya, kecuali pada saat menulis. “Setelah semua analisis diri, saya menyadari bahwa saya merasa paling bahagia saat menulis,” ujar Noyes. Ia menemukan kebahagiaan dalam menulis.

“Waktu sudah tidak ada lagi ketika saya berada di zona menulis itu. Kekhawatiran duniawi hilang,” lanjutnya. Noyes merasakan terlarut dalam keasyikan menulis, sehingga ia tidak lagi berhitung tentang waktu. Meski sudah menulis berjam-jam, ia menikmatinya, karena berada dalam zona bahagia.

Bagaimana dengan Anda? Apakah menulis sudah membuat Anda terlarut dalam keasyikan dan kebahagiaan?

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 24 Inspiring and Encouraging Quotes for Writers, https://writingandwellness.com, 17 Desember 2018

1 thought on “Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 11

  1. Memang benar, meski saya tergolong belum konsisten dalam menulis, tapi sudah bisa merasakan manfaat dari terbiasa menulis. Niat yang lurus untuk memberikan manfaat/ kebaikan pada pembaca itu faktor cita-cita saya ingin menjadi Penulis. Sebagaimana orang zaman dulu. Menulis hanya untuk satu niat, amal jariyah. Lelah demi lillah. Semoga saya bisa menerapkannya. Aamiin. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *