19 September 2026

.

Writing for Wellness – 100

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Vanessa Van Edwards menyatakan, untuk memiliki kemuliaan (greatness), kita harus memulai dengan membangun habit positif. Menurutnya, semua manusia telah pandai dan terbiasa membentuk dan memelihara kebiasaan –baik maupun buruk. Sedangkan kemuliaan terbangun dari kemampuan membentuk kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sangat berbahagia bagi umat muslim, untuk bisa menjumpai momentum kemuliaan itu di bulan Ramadhan. Berbagai macam ibadah dilakukan untuk menikmati bulan mulia, sekaligus membangun habit positif untuk meraih sifat-sifat mulia. Sejak dari berpuasa sebulan penuh, shalat tarawih setiap malam, tadarus, berdzikir, berdoa, bersedekah, dan lain sebagainya.

Salah satu sarana membangun kemuliaan diri adalah dengan menulis. Ada sangat banyak jenis menulis, sejak dari menulis ekspresif untuk menuangkan emosi positif maupun negatif, sampai kepada tulisan dakwah yang mengajak pembaca memahami dan melakukan kebaikan secara luas.

Menulis Ekspresif untuk Kesehatan Manusia

Menulis ekspresif telah terbukti memberikan kemanfaatan positif bagi kesehatan mental dan fisik manusia. Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.

Dalam penelitian sebelumnya, Smith menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.

“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018

Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis ekspresif. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.

Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.

Terbukti, menuliskan peristiwa bahagia efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University.

Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.

Membangun Habit Menulis Kebaikan Selama Ramadhan

Menulis bisa menjadi momentum kemuliaan, apabila mampu merekam dan mengabadikan kebaikan melalui tulisan. Perilaku baik yang patut dijadikan motivasi dan inspirasi bagi orang lain, akan hilang jika tidak pernah dituliskan. Menulisbisa mengabadikan kebaikan, dan sekaligus membangun habit kebaikan.

Suatu ketika, Shalih bin Kaisan berkata, “Aku pernah berkumpul bersama Az-Zuhri, dan kami sedang mencari ilmu. Kami berkata, ‘Kita akan menulis sunnah-sunnah’. Az-Zuhri berkata, ‘Kita akan menulis apa yang datang dari Nabi saw’.

Ia melanjutkan, ‘Dan kita juga akan menulis apa-apa yang datang dari para sahabat, karena ia merupakan sunnah juga’. Aku berkata : ‘Ia bukan merupakan sunnah, maka kita jangan menulisnya’. Az-Zuhri tetap menulisnya, sedangkan aku tidak. Maka ia berhasil (menjaga sunnah para sahabat), sedangkan aku kehilangan (sunnah para sahabat)” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d 2/446; sahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Zur’ah dalam At-Tarikh no. 966).

Tindakan Az-Zuhri menuliskan berbagai tindakan, perilaku dan perkataan generasi sahabat Nabi, menyebabkan kebaikan para sahabat terabadikan. Berbagai kebaikan mereka terwariskan hingga sekarang dan hingga akhir zaman nanti. Sebab yang nyata adalah –karena kebaikan dituliskan.

Mumpung Ramadhan, umat muslim sedang diberikan momentum bulan mulia. Kita bisa membangun habit kemuliaan dengan menulis kebaikan secara rutin. Setiap hari membiasakan diri menulis hal-hal baik, agar kebaikan itu semakin melekat dalam diri kita. Setiap hari menuliskan hal-hal positif, agar kemuliaan semakin menjadi kepribadian kita.

Selamat menulis kebaikan (terutama) selama Ramadhan. Insyaallah akan menjadi momentum kemuliaan yang sangat berkesan.

#ramadhanmenulis #30harimenulis #30daywriting #30motivasikebaikan

Daftar Bacaan

Abul Jauzaa’, Salaf, Antara Mencatat dan Tak Mencatat Ilmu, www.abul-jauzaa.blogspot.com, 2011

Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/

Farid Nu’man Hasan, Ikatlah Ilmu dengan Tulisan, www.channelmuslim.com 14 Juli 2017

Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018

Syaikh Shalih ‘Abdil ‘Aziz Sindi, 11 Cara Efektif di Dalam Mencatat Ilmu, Penerjemah  Abu Salma Muhammad Rachdie, Al-Wasathiyah wal I’tidal Digital Publishing, 2017 (Ebook)

Vanessa Van Edwards, 8 Ways to Achieve Greatness, https://www.scienceofpeople.com

1 thought on “Menulis Sebagai Momentum Menciptakan Kemuliaan di Bulan Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *