.
Oleh : Midawati (Alumni Kelas Buku Single Batch 1)
“Ada tiga keuntungan sekaligus yang kudapatkan dari menulis. Tadinya aku cuma ingin mengalihkan perhatian dari perasaan kecewa, dan sedih. Sekarang aku merasa lebih dihargai, dan materipun bisa kudapatkan” –Midawati, 2022.
.
Semua orang di dunia ini tentunya menginginkan kebahagiaan. Tentu tidak ada orang yang ingin bersedih atau duka cita. Ternyata, menulis membuatku bahagia. Aku sangat bahagia mampu menulis sebuah buku single berjudul “Ya Allah, Temani Aku”.
Bagaimana menulis bisa membuatku bahagia? Ada beberapa kebahagiaan melalui menulis, yang bisa aku ceritakan di sini. Tiga poin sudah aku sampaikan pada postingan sebelumnya. Kini aku akan sharing dua kebahagiaan lainnya.
4. Bahagia waktu diberi Kata Pengantar
Setelah naskah buku selesai aku tulis, supaya lengkap dan lebih berkualitas, aku mencoba meminta Kata Pengantar dari Pak Cah, melalui mbak Mufid –mentor menulis di grup Alineaku.
Tanpa kusangka Pak Cah menguraikan Kata Pengantarnya selengkap mungkin, dengan sedetail-detailnya. Bagaimana orang sabar menurut Al Qur’an, hadits, sampai pernyataan Fudhail bin Iyadh. Semua diuraikan Pak Cah, yang membuat aku mengerti bahwa sikap sabar terhadap takdir selama ini, tidaklah percuma.
Semua akan ada ganjaran terbaik dari Allah swt. Uraian dan penjeasan dari Kata Pengantar ini, membuat sisa-sisa luka yang masih bersemayam di batin saya perlahan sembuh. Hati menjadi senang. Jiwaku terasa lapang, karena kekecewaan atas takdir yang menimpa selama ini terjawab sudah.
Aku tambah merasa senang dan bahagia dengan semuapenjelasan itu. Persis seperti anak kecil yang berdiri seorang diri di sudut belakang rumah dengan kebingungan, badan kotor, dan penuh luka. Datanglah seorang ibu bertanya “Kenapa”, sambil membersihkan kotoran, dan mengobati luka anak tersebut. Kemudian dikasih minum, karena terlihat capek dan kehausan. Begitulah aku merasa menerima ilmu dari pak Cah.
Seperti tulisan Pak Urip Widodo pada blog Ruang Menulis, “Menulislah Maka Anda Akan Pintar’. Pintar bukan hanya karena kita telah menyerap suatu Ilmu dan mengerti ilmu itu, akan tetapi dapat merubah perilaku dan kepribadian kita, untuk menjalani hidup dengan mudah.
Seperti quotes, “dengan ilmu hidup menjadi mudah”. Jika hidup sudah terasa mudah, tentunya kita akan senang dan bahagia.
5. Bahagia ketika para pembaca banyak yang memberikan apresiasi
Setelah buku jadi, aku sempat bingung dan berpkir lagi, untuk apa buku ini? Apakah hanya sekedar kutulis dan kucetak dan kubaca sendiri? Karena isi di dalamnya hanya menceritakan perjalanan hidupku menjalani takdir.
Menceritakan bagaimana orang sekeliling memperlakukan aku selama lebih 50 tahun, cerita suka dan duka perjalanan hidup, apakah perlu orang lain membacanya? Bagaimana jika nanti banyak orang yang tidak suka, karena aku banyak menyebut bagaimana perlakuan orag lain kepadaku?
Tapi kembali kepada tujuan kita membuat tulisan. Salah satu tujuan menulis adalah adalah menginfomasikan serta mengispirasi orang lain,
Aku diyakinkan lagi oleh salah satu tulisan pak Cah, tentang Madeleine L’engle yang mengatakan bahwa memublikasikan tulisan itu artinya menyiapkan diri untuk mendapat serangan terbuka. Tidak masalah ada orang yang tidak setuju, sebab tugas kita bukanlah menyenangkan semua semua orang.
“Ketika menulis, kita menjadi telanjang di hadapan orang-orang dan dan itu berarti kita terbuka untuk kritik. Jika anda ingin menulis buku yang mengatakan sesuatu dan menyenangkan semua orang, maka Anda telah gagal”, demikian ungkapan Madeleine L’engle.
Kupikir-pikir lagi, mungkin buku ini ada manfaatnya bagi orang lain, dan semoga menjadi amal jariah untukku di akhirat nantinya. Akhirnya kuposting di FB, maksudku untuk memperkenalkan saja di medsos.
Salah satu teman di FB menelponku, dengan memberi aku semangat. Ia salut bahwa aku bisa membuat buku, sedang dia tidak. Temanku itupun langsung memesan satu buku.
Karena aku sekantor dengan dia, berharap aku bisa mengantar esok hari. Sesampainya di sana, diapun menyambut dengan hangat. Bahkan dia melebihkan harga dari yang aku tentukan, alhamdulillah, semoga berkah.
Di FB itu, ada tiga orang teman yang pesan buku. Setelah buku sampai, dibukanya, lalu foto bareng, dan minta tanda tangan halaman depan. “Tanda tangan dari penulis langsung”, katanya.
Padahal yang minta tanda tangan itu adalah orang yang lebih tiggi sekolah dan jabatannya di kantorku. Ia lulusan sekolah terbaik. Akupun merasa tersanjung dan hampir tak percaya. Rupanya aku sekarang telah benar-benar menjadi penulis. Seperti mimpi rasanya, hm hm….
Aku mulai PD, namun masih belum memposting di grup. Sebab jika ada yang pesan, bukuku tak cukup, karena aku hanya cetak dengan jumlah minimal dari penerbit. Tapi tanpa bisa dicegah, temanku memposting di grup. Sambil berkomentar, “Mida, bukunya di mana bisa dipesan?” Akupun terkejut. Belum sempat aku membalas, yang menjawab justru temanku yang lebih dulu memesan dan sudah membaca.
Mereka membalasi chat itu, “Pesan langsung kepada penulisya mbak, bukunya bagus”, kata seorang teman. “Bukunya sangat bagus, Ni Mida hebat,” jawab teman yang lain. “Aku sudah baca, bukunya mantap”, jawab yang lain lagi. Begitulah komentar teman-teman sekantorku yang sudah lebih dulu membaca.
Sekali lagi namaku dipanggil penulis, wow…… Temanku itupun menambahkan penilaian bahwa bukuku bagus, alhamdulillah, Allah sangat menyayangiku. Allahu a’lam.
“Berapa harganya Uni?” kata teman di FB lagi. Akupun menulis harganya. Sederet namapun mulai memesan satu persatu. Lumayan juga jumlahnya, dapat menggambarkan bahwa bukuku diterima pembaca.
Akupun pesan lagi ke penerbit, untuk memenuhi pesanan. Semua yang telah membaca bukuku berkomentar bukuku bagus menginspirasi. Mereka tidak menyangka aku bisa menulis di tengah kesibukan dan kesedihan.
Memang tidak seperti yang kuduga, bukuku dibilang bagus dan bisa menginspirasi orang lain. Ada tiga keuntungan sekaligus yang kudapatkan dari menulis. Tadinya aku cuma ingin mengalihkan perhatian dari perasaan kecewa, dan sedih. Sekarang aku merasa lebih dihargai, dan materipun bisa kudapatkan.
Amazing akupun sekarang amat bahagia. Alhamdulillah…

Ns Midawati Skep, adalah perawat di salah satu Rumah Sakit Daerah di Sumatera Barat. No Hp 0862895320289018. Alumni Kelas Buku Single Batch 1. Penulis buku “Ya Allah Temani Aku”.

Terima kasih untuk inspirasinya hari ini Pak Cah.
Buah kesabaran manis rasanya, berkah perjuangan tak lelah. Saya turut bersyukur kak Midawati, Alhamdulillah menginspirasi