Serial SHSB “Seratus Hari Satu Buku”
Oleh : Cahyadi Takariawan
Usai shalat Idul Fitri, biasanya lanjut silaturahim –halal bihalal– sebagai sebuah tradisi turun temurun di kampung kami. Sehari kami menggelar open house untuk para tetamu, baik tetangga maupun teman-teman yang ingin silaturahim. Dari pagi sampai malam tetamu datang dan pergi silih berganti. Besok pagi, tanggal 2 Syawal, kami sekeluarga akan mudik ke kampung halaman saya di Karanganyar dan kampung halaman istri di Wonogiri. Lanjut silaturahim ke rumah kerabat dan handai taulan.
Lima hari kami mudik, berkeliling dari satu kota ke kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tempat kediaman sanak kerabat kami. Selama keliling, full agenda, dan kami manfaatkan untuk mengobrol dan bercengkerama dengan sanak saudara, karena lama tidak berjumpa. Hari ke-6 kami kembali ke Yogyakarta, masih lanjut agenda silaturahim ke teman dan handai taulan. Begitulah, sekitar 10 hari pertama di bulan Syawal, biasanya padat dengan agenda silaturahim.
Tahun 1441 H ini sungguh berbeda. Sejak ada pandemi Covid-19, kami sekeluarga di rumah saja. Anak-anak yang di Pesantren, belajarnya dirumahkan. Demikian pula anak yang kuliah, harus belajar dari rumah. Kami melaksanakan semua aktivitas dari dalam rumah. Shalat lima waktu berjamaah di rumah, shalat tarawih berjamaah di rumah, makan sahur bersama, buka puasa bersama, tadarus dan dzikir bersama. Bahkan malam Idul Fitri, kami takbiran di rumah saja —biasanya keliling kampung bersama warga. Lanjur shalat Idul Fitri juga di rumah saja.
Apa Artinya?
Artinya, kami tidak lagi bisa menjalankan agenda rutin yang sangat dirindukan tersebut. Mudik dengan segala reniknya, selalu dirindukan. Jadi, tahun 1441 H ini, kita semua dihimbau di rumah saja. Ada yang mentaati himbauan itu, ada pula yang tidak peduli. Kami memilih yang peduli, semoga demikian pula dengan Anda. Kami di rumah saja, tidak kemana-mana. Mencoba bertahan terus di rumah, sampai situasi sudah memungkinkan bagi kita semua untuk keluar rumah.
Lalu bagaimana memberi makna “di rumah saja” yang sedang berlaku pada kita? Tentu ada sejuta makna, tergantung kita mau mengambil yang mana. Dalam konteks belajar menulis, #dirumahsaja itu berarti memiliki kesempatan leluasa untuk terus menerus belajar menulis. Dalam konteks karya, #dirumahsaja itu artinya siap menghasilkan sangat banyak karya tulis yang bermakna.
Dalam konteks kualitas, #dirumahsaja itu artinya memiliki kesempatan untuk menjadi semakin berkualitas, karena bisa melakukan kontemplasi dan introspeksi. Dalam konteks program SHSB, #dirumahsaja berarti memiliki banyak waktu untuk menciptakan postingan di Facebook atau Instagram sehari dua kali, dengan minimal sekali posting 900 sampai 1.000 karakter.
Maka, usai shalat Idul Fitri, Anda bisa bermaafan dengan keluarga satu rumah, dilanjutkan saling kontak dengan sanak saudara yang jauh, setelah itu bisa memiliki waktu leluasa untuk menghasilkan karya tulis. Jangan mengatakan, “Tanggal satu Syawal, lebaran, kok malah menulis”. Ingat, nulis itu harus ngegas, jangan kasih kendor. Begitu Anda kasih kendor, nanti jadi dingin lagi semangat Anda untuk berkarya. Selama Ramadhan Anda sudah membiasakan menulis —maka di bulan Syawal harus makin ngegas. Jangan lemah semangat.
Menyusun Agenda Syawal : Ngegas !
Wabah Covid-19 jelas-jelas belum sirna dari Indonesia. Itu sebabnya Pemerintah RI melalui Menteri Agama dan Wakil Presiden RI meminta masyarakat melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah saja. Ini artinya, kita tidak tahu, sampai kapan harus terus menerus #dirumahsaja. Sudahlah, kita tak akan bisa meramal keadaan. Sudahlah, kesedihan juga tak akan menghasilkan jawaban. Lebih baik segera menyusun Agenda Syawal yang membuat Anda berpikir positif, konstruktif dan produktif.
Apa agenda Syawal Anda? Silaturahim? Ya, tapi Anda lakukan secara online saja. Belum bisa silaturahim langsung dari rumah ke rumah. Masih sangat berbahaya. Per 21 Mei 2020, kasus positif Covid-19 menunjukkan peningkatan sangat tajam. Cobalah empati kepada para petugas kesehatan yang terus menjerit, meminta kita semua untuk tetap bertahan di rumah sampai suasana memungkinkan. Hargai pengorbanan mereka, hargai jerih payah mereka. Bekerja menyelamatkan nyawa manusia, tanpa perlindungan yang memadai dalam bekerja.
Maka, tetaplah #dirumahsaja. Silaturahim, lakukan dengan aneka fitur teknologi komunikasi, buat jadwal dan janjian, sehingga semua bisa dikerjakan dari rumah. Selain silaturahim, miliki waktu untuk menguatkan tradisi menulis, dengan agenda 5 M, yaitu Membaca, Menelaah, Menulis, Mengedit dan Memposting.
- Miliki Waktu untuk Membaca
Di bulan Syawal ini, alokasikan waktu untuk membaca buku-buku sesuai minat Anda masing-masing. Sebagai penulis, Anda boleh menulis apa saja, bebas merdeka. Namun akan lebih bagus jika Anda memiliki minat yang spesifik, yang akan menjadi “dunia” Anda dalam tulis menulis. Jika Anda telah memiliki pilihan minat khusus, perbanyak membaca buku atau artikel yang sesuai dengan minat khusus Anda tersebut. Ini akan semakin mengasah ketajaman Anda dalam memasuki minat tersebut.
Selain itu, seskali waktu alokasikan waktu untuk membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika Anda tidak memiliki buku cetakan KBBI, sementara Anda boleh membaca KBBI Daring. Apa guna membaca KBBI ? Supaya Anda mengerti dan mengenal semakin banyak kosa kata. Di KBBI ada sangat banyak kosa kata, sementara yang sering kita gunakan untuk bicara dan menulis hanya itu-itu saja. Dengan membaca KBBI, anda akan memiliki semakin banyak diksi untuk dipilih.
Penting juga bagi Anda untuk sesekali waktu membaca Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), karena dengan pedoman inilah Anda melakukan penulisan dan editing. Minimal Anda mengerti hal-hal dasar yang diatur oleh PUEBI.
- Miliki Waktu untuk Menelaah
Tidak cukup membaca, sebagai penulis Anda juga harus bersedia menelaah karya. Sebagai contoh, jika Anda memiliki minat khusus pada tema Pendidikan Anak, misalnya, maka Anda bukan hanya harus banyak membaca buku-buku tentang pendidikan anak. Anda juga harus bersedia menelaah beberapa karya pilihan dalam tema pendidikan anak, untuk Anda cermati secara jeli dan Anda analisa. Jika Anda muslim, maka buku Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad Fil Islam) karya Dr. Abdullah Nasih Ulwan bisa Anda jadikan bahan telaah.
Beda membaca dan menelaah terletak pada kedalaman dan kejelian Anda dalam melakukannya. Untuk membaca, bisa Anda lakukan dengan cepat. Namun untuk menelaah, Anda harus teliti dan hati-hati. Mencoba memahami dengan sungguh-sungguh, sampai Anda bisa menyampaikan ulang hasil telaah Anda dari buku tersebut. Gunanya, agar Anda memiliki kerangka berpikir yang ‘meyakinkan’ setiap menulis tema yang menjadi pilihan minat Anda.
Membaca dan menelaah, adalah dua gerbang awal bagi penulis, untuk memiliki perspektif yang meluas dan mendalam. Membaca, akan meluaskan perspektif Anda. Menelaah, akan mendalamkan perspektif Anda. Setekah itu, bisa Anda gunakan untuk apa saja.
- Miliki Waktu untuk Menulis dan Menghasilkan Karya
Setelah membaca dan menelaah, Anda akan lebih mudah menuangkan ide ke dalam tulisan. Ide Anda lancar mengalir bak air jernih yang baru muncul dari sumber di pegunungan, menuju sungai dengan segala kelokan, dan mengairi persawahan dan perkebunan. Menjadikan subur tetanaman, menjadikan hijau dedaunan. Menebar berbagai kemanfaatan yang sangat besar bagi kemanusiaan.
Maka tetapkan waktu, pukul berapa setiap hari Anda akan gunakan untuk menulis. Tentu sehari bisa lebih dari satu kali, karena waktu Anda #dirumahsaja lebih memadai dibanding waktu-waktu normal sebelum pandemi. Disiplinlah menggunakan waktyu yang sudah Anda tetapkan untuk Zona Waktu Menulis (ZWM) Anda di bulan Syawal ini.
- Miliki Waktu untuk Mengedit dan Menghias Tulisan Anda
Mumpung lagi #dirumahsaja, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk belajar mengedit tulisan sendiri. Jika selama ini Anda mengedit hanya sepintas lalu, di bulan Syawal ini bisa Anda edit dengan sepenuh hati. Editlah dengan menggunakan pedoman PUEBI dan KBBI yang sudah Anda pelajari. Cobalah menggunakan beberapa kosa kata baru yang belum pernah Anda gunakan selama ini —dari pembelajaran Anda di KBBI.
Usai mengedit, hiaslah tulisan Anda sendiri, agar memiliki performa yang semakin menawan hati. Salah satu hiasan tulisan adalah judul yang menarik, kalimat pendahuluan yang membuat penasaran, serta memasukkan unsur cerita. Ingat, semua orang suka cerita. Ini akan menjadi hiasan tulisan yang semakin menambah berkualitas dari waktu ke waktu.
- Miliki Waktu untuk Memposting dan Mempublikasikan Karya
Saat saya mengenalkan program SHSB, beberapa peserta Kelas Menulis Online menyatakan keberatan jika harus memposting tulisan di Facebook atau Instagram. Alasannya, malu kalau tulisannya dibaca orang. Saya jelaskan bahwa program ini nanti ujungnya adalah untuk membuat buku sendiri-sendiri. Jadi kalau sekarang malu memposting tulisan, apakah nanti ketika sudah tercetak menjad buku juga akan malu untuk mempublikasikan? Mencetak buku hanya untuk disimpan sendiri di almari, jangan sampai ada seorang pun yang tahu. Begitukah?
Mungkin teman-teman yang bertanya tadi membayangkan seorang gadis yang amat sangat cantik dan membuat lelaki selalu jatuh hati setiap melihat wajahnya. Maka ia menutup wajah dengan kain —cadar, atau burdah— agar tidak membuat lelaki tergoda dengannya. Kelak ketika ia sudah menikah, hanya suaminya saja yang berhak melihat dan menikmati kecantikannya. Nah, gambaran ini tidak tepat untuk konteks menulis. Karena karya tulis itu total ekspos, jadi justru menghadirkan tulisan untuk maksud ‘keterpengaruhan’ —agar pembaca terpengaruh dan berproses menjadi lebih baik, lewat tulisan kita.
Maka postinglah tulisan Anda, jangan malu mengkespos kebaikan. Anda harus ingat kaidah —idza ja-al hal, wazahaqal bathil. Apabila muncul kebenaran, maka kebatilan akan tumbang. Jadi kalau postingan positif malu-malu menampakkan diri, maka postingan ngawur akan tetap merajai. Posting tulisan Anda melalui berbagai media. Paling sederhana adalah melalui medsos sendiri.
Terus Ngegas, Jangan Kasih Kendor !
Syawal adalah bulan peningkatan iman, maka meningkat pula kualitas dan kuantitas tulisan kita. Jangan bikin kendor, ayo terus menulis, menghasilkan karya positif untuk membangun, untuk memperbaiki, untuk mengedukasi. Mumpung masih #dirumahsaja entah sampai kapan, jangan kasih kendor. Terus menulis sesuai ZTM yang sudah Anda tetapkan selama bulan Syawal ini.
Posting sesuatu yang bermanfaat di pagi hari, 900 hingga 1.000 karakter. Posting sesuatu yang bermanfaat di sore hari, 900 hingga 1.000 karakter. Tergantung pilihan media Anda, apakah Facebook atau Instagram. Rutinkan dalam 100 hari, maka Anda akan panen 200 artikel dalam seratus hari, dimana setiap artikel bisa di-lay out menjadi satu halaman buku. Artinya, dalam seratus hari SHSB, Anda sudah memiliki satu buku setebal lebih dari 200 halaman totalnya.
Ayo mumpung Syawal dan masih #dirumahsaja, terus ngegas menulis. Jangan kasih kendor.
1 Syawal 1441 H, usai Duhur berjamaah #dirumahsaja
#SHSB #SeratusHariSatuBuku

Terimakasih. Selalu membakar semangat artikelnya.
semangat berkarya mbak Herni….
Baru sempat membaca, selama Hari Raya tidak menulis, mau memulai lagi terasa berat. Alhamdulillah semangat lagi dan mulai menulis lagi. Terima kasih Ustaz
alhamdulillaaah…. semangaaaaattt mbak Dhini….
Terima kasih Pak Cah… Saya peserta KMO Batch 27 yg masih gagal… Sungguh tulisan ini membakar semangat saya lagi… Moga saya bisa ngegas..
bukan gagal mbak Endang, cuma kurang disiplin… semangaaaattt